Gairah Intan

Sebut saja aku tommy, tinggiku 180 cm, tubuhku cukup atletis karena kebiasaanku melakukan kegiatan olahraga fitnes, aku bekerja membangun sebuah event organizer yang sudah cukup terkenal di Kota Jakarta,
Ini kisah lain dari kehidupan seksualku,

Pertengahan 2005, aku menerima sebuah kontrak kerjasama dengan pihak Telkomsel Pusat Jakarta,untuk mengadakan event “Grebek Pasar” di wilayah Regional Jawa Barat, wilayah yang aku datangi meliputi Tasikmalaya, Cirebon,Kuningan, Sumedang, dan wilayah kantung-kantung kota Bandung seperti Majalaya, Jatinangor, Soreang, Padalarang dan sekitarnya.

Singkat cerita aku dipanggil ke kantor Telkomsel Regional Jawa Barat di bilangan Asia Afrika Bandung, disana aku bertemu dengan beberapa petinggi Telkomsel jawa barat untuk menerima langsung Job Description atas kegiatan kerjasama.
Salah seorang General Staff Marketing T-sel memberikan salah satu fasilitas selama aku menjalani kerjasama ini, yaitu Ladiest Escort, Ladiest Escort yang di utus untuk mendampingiku adalah salah seorang TPR ( Telkomsel Public Relation ) dari Grapari Bandung, yang sudah mengenal lokasi tempat yang akan dilaksanakan kegiatannya.

Saat di perkenalkan, ia menyebutkan namanya dengan lembut, Intan, tubuhnya proporsional, tingginya ku taksir sekitar 170 cm, rambutnya terlihat panjang bergelombang, hitam, namun ia selalu mengikatnya, sehingga terkesan rapih, kulitnya sawo matang, Untuk seorang TPR ia sangat supel, salah satu tuntutan seorang TPR yang selalu bertugas memperkenalkan produk knowledge bagi perusahaannya. Dia sangat enak untuk diajak bicara.

Setelah selesai mempersiapkan kebutuhanku untuk survey event, seperti biasa aku mengunjungi kekasihku Desty, Desty memang kekasih yang baik bagiku, walaupun ia sering memuaskan kebutuhan birahiku,namun aku adalah seorang lelaki yang tidak pernah puas untuk berhubungan badan dengan 1 orang wanita, Telah banyak wanita yang menjadi pemuas kebutuhan birahiku, sering kali aku berhubungan badan dengan wanita lain di belakang Desty. Saat mengantarkan Desty pulang aku minta ijin padanya untuk tidak menemuinya sementara waktu, karena aku harus menyelesaikan proyekku yang akan menghabiskan waktu kurang lebih 1 bulan lamanya, Desty tersenyum, dan memberikan kecupan sesaat ia keluar dari mobil Opel Blazer Hitamku.

Keesokan harinya, aku kembali melakukan aktifitasku sebagai event organizer, aku melakukan kegiatan pertamaku yaitu survey tempat, Dengan menggunakan 3 buah kendaraan, aku bersama 3 orang bawahanku, juga Intan yang berfungsi sebagai guideku, aku meluncur ke kota Sumedang, untuk mencari Spot tempat, event yang akan di laksanakan minggu depan.

Setelah mengunjungi spot pertama, kami beristirahat di sebuah rumah makan sunda di daerah SUmedang, di sana aku membagi tugas dengan 3 orang bawahanku,Satria assisten eventku setuju dengan pembagian yang kuberikan, Satria survey ke arah Tasikmalaya, Irsan dan Indra menuju kembali ke Kota Bandung,untuk survey di daerah kantung-kantung kota Bandung,sedangkan aku dan Intan Meluncur ke arah Cirebon, untuk mensurvey daerah Kuningan dan Cirebon, Setelah membagikan Sejumlah uang untuk 3 orang bawahanku sebagai bekal selama beberapa hari, kami berpisah menuju tempat tujuan masing-masing yang telah di sepakati.

Selama 3 jam aku menghabiskan waktuku menempuh perjalanan Sumedang – Cirebon, Intan tak henti-hentinya mengusir suasana sepi kami. Dengan cepat keadaan kami mencair, aku juga sering kali menceritakan kisah asmaraku dengan desty kepada Intan.

Sesampainya cirebon, kami langsung menuju grapari Cirebon untuk memberikan beberapa instruksi dan meminta informasi dan saran tentang kegiatan yang akan dilaksanakan, dari pihak grapari Cirebonlah aku di berikan sebuah fasilitas villa di daerang gronggong sebagai tempat penginapanku, baik pada saat survey maupun saat kegiatan.

Selepas pertemuan aku dan Intan langsung meluncur kesebuah villa yang dimaksud, di sana kami beristirahat sejenak, Aku dan intan berbicara semakin akrab, hingga seringkali kami membicarakan kegiatan sexual masing-masing. Malam pertama tidak terjadi apa-apa diantara kami berdua.

Hari kedua kami melakukan survey ke wilayah kuningan, kami menghabiskan waktu seharian untuk mencari informasi yang kami di butuhkan untuk event Grebek Pasar.
Tak jarang di dalam mobil kami bercanda, selayaknya orang yang sudah lama kenal. Berkali – kali tanpa di sengaja Intan sering memancing birahiku, namun sering kembali terpendam karena padatnya jadwal hari itu.

Sepulang survey, aku dan intan langsung menuju villa peristirahatan kami, di perjalanan otakku selalu membayangkan tubuh polosnya Intan.

Sesampainya di villa, aku bergegas mandi menyegarkan diri, jam saat itu sudah menunjukan pukul 8 malam, setelah selesai mandi, aku mengunakan pakaian santai, T-shirt, dan celana pendek,saat ku menghampiri ruang tamu, aku mendapati Intan sedang asyik menikmati siaran televisi, dengan menggunakan pakaian dinasnya yang belum di ganti sejak tadi pagi, aku menghampirinya dari arah belakang, aku yang sejak siang sangat ingin menidurinya, kini saatnya pikirku,
Dari semua cerita yang ku dengar darinya,sudah jelas kalau intan sudah tidak lagi perawan, aku mencoba keahlianku untuk menaklukan dia, pelan-pelan ku pegang pundaknya,

” Capek ya tan, aku pijitin ya ” sahutku, intan hanya mengangguk menjawab pertanyaanku, sambil duduk di belakangnya aku mulai memijiti pundaknya.
Bau harum parfum body shop wanita, menusuk hidungku, memancing birahiku yang sejak awal sudah hadir, apalagi saat kupandangi leher bagian belakang Intan yang terbuka karena rambutnya yang terikat kearah atas,beberapa menit kemudian, kucoba mencium bagian belakang telinga intan,

Intan terpekik kaget melihat aksiku, ia melirik kearahku sambil berkata
” Mas, mau ngapain hayo? ntar aku bilangin desty loh ” sahutnya genit,
” Emang kenal ?” tanyaku,namun aku kembali menciumi belakang telinganya, lalu berjalan kearah leher belakang Intan, Intan hanya mendesah pelan, dia terdiam sambil menutup matanya,

Melihat sikapnya, aku semakin bebas melancarkan aksiku, aku mulai duduk di belakangnya, sambil terus menciumi tengkuknya,namun kali ini bergerak ke arah depan, Intan menengadahkan kepalanya, seakan memberikan aku ruang untuk menikmati seluruh lehernya,perlahan, mulai ku buka kancing kemeja baju intan satu persatu, kancing kemeja berwarna merah, dengan logo telkomsel di dada bagian kanan atas itu kini mulai terbuka saat aku menuju kancing terakhir bajunya, Intan ternyata masih menggunakan kaos T-shirt bewarna putih di balik kemejanya.Dia hanya membiarkan tanganku yang mulai menyingkirkan kemejanya, terlihat, payudaranya begitu indah menembus T-shirt berwarna putih yang ia kenakan,

Intan membalikan tubuhnya, dan bibir kami bertemu 1 sama lain, dengan nakal ia mulai menggigiti bibir bagian bawahku, lidah kami bertemu, kami mempermainkan lidah satu sama lain didalam rongga mulut intan. Nafas intan terdengar memburu, seakan-akan gairah birahinya mulai terbakar, begitu juga dengan diriku, namun aku masih dapat menguasainya, berusaha untuk memberikan sebuah foreplay yang memuaskan.

Aku merasakan intan sangat mahir melakukan ciuman, namun sesaat kemudian tiba-tiba Intan bangkit berdiri, ” Udah ah, ntar ada yang marah ” godanya dengan genit, sambil mundur beberapa langkah, aku bangkit, mengejar, bibir kami kembali berpagutan satu sama lain.

Ciumanku menuruni kearah dagunya yang agak lancip, lalu ke arah leher, kemudian,dengan nakal aku mengigit puting payudaranya yang masih tertutupi T-shirt putihnya, Mendapat perlakuan itu birahi Intan seperti terbakar, ia melenguh, lalu mendorong tubuhku ambruk diatas sofa panjang, Kini ia menciumi aku dengan ganas, menuruni tubuhku, membuka kaos t-shirtku, menciumi dadaku.
Saat tanganku meraih bagian bawah t-shirt Intan, ia seakan paham apa yang akan aku lakukan,ia memberikan keleluasaan bagiku untuk menanggalkan pakaiannya.
Kini dihadapanku Intan telah setengah terbuka,payudaranya yang sudah tumbuh matang untuk gadis berusia 26 tahun seperti dia,tertutupi oleh branya yang berwarna putih susu, yang terbuat dari kain satin,ia masih menggunakan celana jins hitam,

Kembali Intan menyusuri tubuhku ke arah bawah,ia menciumi batang kemaluanku yang masih tertutup celana pendekku,melihat permainan Intan, aku sadar , Intan memiliki pengalaman yang cukup dalam melakukan hubungan sex,
Tanganku mulai meraih kancing celana jinsnya, setelah berhasil membuka retsletingnya, aku memelorotkan celananya,lalu melemparkannya ke sembarang arah.

Kali ini di hadapanku Tubuh intan hanya terbalut celana dalam dan branya,
” Nakal ya Mas Tommy..!” katanya dengan mata yang liar menatap aku, Seakan dia tak mau kalah, Intan mulai membuka celana pendekku, lalu ia mulai ganas mempermainkan kemaluanku, sambil berusaha membuka kain terakhir yang menempel di tubuhku, setelah berhasil, ia tersenyum kagum melihat kejantananku,Kini ia mulai mempermainkan batang kemaluanku yang dari tadi belum berdiri secara sempurna, Lidahnya mempermainkan kepala penisku, kelakuannya itu membuatku merasakan geli, aku sendiri heran,baru kali ini aku menemukan gadis yang begitu trampil mempermainkan bagian sensitifku, padahal ia bukanlah wanita panggilan.

Aksi Intan tidak berhenti sampai di situ, kini lidahnya mempermainkan setiap sudut terpencil dari batang kemaluanku, aku menemukan kenikmatan saat ia mempermainkan bagian bawah kepala penisku dengan lidahnya, jarinya tak henti-hentinya mengocok bagian lain dari batangku, tak sedikitpun bagian yang luput dari permainan lidahnya, saat batangku terasa tegak dengan sempurna,ia mencoba memasukannya kedalam mulut kecilnya, namun ia hanya mampu memasukan 1/3 dari batang kemaluanku, Aku sendiri tidak tinggal diam, ku coba membuka menarik tali belakang branya,setelah berhasil, aku menarik tubuhnya ke arah atas, kini giliranku,

Aku menikmati setiap bagian dari payudaranya, dia berkali -kali mendesah kenikmatan saat ku permainkan dengan cara memilin di puting payudaranya yang berwarna kecoklat-coklatan muda, sesekali aku mengigitinya, aku tahu ini adalah cara untuk meningkatkan gairah wanita saat sedang melakukan hubungan intim.
Benar saja berkali-kali ia merintih merasakan kenikmatan, tanganku mulai menyusup ke balik celana dalamnya, mencoba mempermainkan bagian sensitifnya,mengusap-ngusap sambil mempermainkan dinding luar kemaluannya.
Intan menengadah ke atas saat aku memperlakukannya sedemikian rupa, ia menggigit bagian samping bibir bawahnya,seakan-akan menahan gejolak nafsunya yang mulai meledak-ledak, tangannya tak henti-hentinya mempermainkan rambutku, sehingga rambutku terlihat acak-acakan,
Setelah puas,aku membuka sempurna celana dalam Intan, ku balikan posisi tubuhnya, lalu aku mulai mempermainkan vaginannya dengan lidahku,
Desahan-desahan lembut, kadang kala di iringi rintihan kenikmatan keluar dari pita suara intan, sapuan lidahku mempermainkan bagian dalam dinding kewanitaannya yang mulai mengalirkan cairan yang terlahir dari kenikmatan yang dirasakan oleh tubuh intan,gigitan – gigitan kecil kulancarkan di sekitar klentit, maupun ujung kulit luarnya yang semakin basah di banjiri oleh cairan bening yang keluar dari vaginanya.

Kini permainanku ku lanjutkan kearah vagina bagian atas, lalu terus ku lanjutkan ke arah perut, lalu payudara, seakan mengerti apa yang permainan selanjutnya, Intan memberikan keleluasaan agar ada cukup ruang untuk aku berkonsentrasi menembus pertahanannya.

Aku mencoba memasukan kepala penisku kearah lubang kewanitaannya, Intan membantuku, dengan membimbing batangku tepat kearah lubangnya, Saat penetrasi,aku mengalami sedikit kesulitan, walaupun Intan sudah tidak perawan,namun lubangnya masih cukup sempit, mungkin karena ia sudah lama tidak berhubungan badan. Perlahan-lahan aku dorongkan pinggulku, mengikuti alur lubang kewanitaan Intan, sambil kadang kunaikan sedikit, lalu kuturunkan lebih dalam, terus,hingga akhirnya Batang kemaluanku sempurna terbenam di dalam rahim Intan, Intan tersenyum, saat sadar, aku telah berhasil membobol pertahanannya,

Permainan naik turun ku mainkan, pinggulku naik turun menguasai kemaluan Intan
Gesekan demi gesekan yang di timbulkan oleh batang kemaluanku di dalam lubang kemaluan intan,menciptakan sebuah sensasi kenikmatan, melahirkan desahan – desahan menggambarkan betapa nikmatnya kami malam itu mengarungi keindahan permainan sexual tanpa cinta pada saat itu.

lebih dari 15 menit aku melakukan gerakan naik turun dengan posisiku yang memberatkan tubuh polos intan, sambil bermandikan keringat yang lahir dari suhu yang cukup panas di sekitar ruangan, beberapa menit kemudian intan meminta aku menghentikan permainanku sesaat, lalu ia membalikan posisi tubuhku, aku mengerti, tak lama kemudian permainan kami lanjutkan dengan posisi tubuh intan yang menduduki tubuhku, kini kendali dipegang oleh intan,

Sungguh luar biasa, permainan yang di mainkan intan adalah permainan pola cukup cepat, ia seperti tak mampu lagi membendung gairah liarnya, matanya memandangku nakal, rambutnya jatuh terurai tak sempurna, masih terlihat sebagian terjepit oleh jepit rambutnya, payudaranya bergerak naik turun mengikuti irama tubuh intan yang sedang memompa diriku, terlihat tubuhnya basah oleh tetesan keringat yang mengalir di sekitar tubuhnya, tubuhnya terlihat indah , dia begitu pandai memainkan pinggulnya,

Satu masa terasa iramanya makin cepat, aku mengerti apa yang akan terjadi, tanganku yang sedari tadi mempermainkan puting payudaranya, kini pindah memegangi pinggangnya, membantu mempercepat irama permainan intan, intan seperti tak kuasa menahan sesuatu yang besar yang ingin ia keluarkan,kepalanya mendongkak keatas,terlihat perutnya mengempis,seperti ia menahan nafas, namun irama intan mulai kacau, aku tahu….

Aku meneruskan irama Intan, ku percepat genjotan tubuh intan dengan memompa pinggangnya, sesaat kemudian Intan berteriak,satu desahan panjang keluar dari mulutnya, tubuhnya menegang kaku, hanya kini pinggangku yang mulai naik turun meneruskan iramanya, Intan mengalami klimaks pertamanya di ronde permainan liar kami berdua.

Tubuhnya melemas, saat terasa cairan keluar dari lubang vaginanya, membasahi kemaluanku, membuat kemaluanku semakin leluasa lancar, dan terasa licin di daerah lubangnya, saat ku angkat tubuh Intan, membebaskan penisku, Intan masih berguncang hebat, dia membiarkan tubuhnya meniduri dudukan belakang sofa,aku berpindah posisi, tanpa menunggu lama kembali ku tancapkan penisku, dari arah belakang posisi vagina Intan, tubuh intan yang masih terasa lemah, tetap membiarkan penisku dengan leluasa menguasai kembali daerah jajahannya, ku pompa dengan cepat, dengan posisi intan yang menungging, tangan intan terlihat mencengkram sisi lain sofa tempat kami bertempur, giginya menggigit sofa, matanya terpejam kembali menikmati irama yang mulai kumainkan kembali
tanganku membuka jepitan rambutnya, ku biarkan rambutnya bebas tergerai lepas bergerak-gerak mengikuti tempo permainan kami.

Sesekali aku mengusap punggungnya yang terlihat mulus tanpa noda, hanya ada tetesan keringat, yang semakin meningkatkan libidoku untuk menggagahi tubuh intan, Intan kembali mendesah desah, begitu juga dengan diriku,
Tanganku merayap kearah depan,meremas bagian kanan bukit kembar yang dimiliki Intan, pikiranku tetap fokus, berkonsetrasi, mempertahankan irama cepat yang kumainkan, tangan kiriku memeluk pinggang intan dari belakang,ku tarik tubuhnya,kubalikan tubuhku, sambil posisi penis yang masih menancap di lubang surga milik Intan, posisiku terduduk menyandar di sofa, posisi intan diatasku sambil membelakangiku, tanganku kembali berada di pinggang Intan, kembali ku mainkan tubuh Intan menghujami penisku, Intan berteriak-teriak kenikmatan, menikmati permainan kami yang begitu mempesona.

Tanpa ku sadari, 20 menit berlalu dari saat pertama kali Intan mencapai klimaks pertamanya, tubuh kami makin dibasahi oleh mandi keringat yang menggambarkan keletihan diantara kedua tubuh kami, namun nafsu yang menggelora seakan membuat kami melupakan itu semua.

Aku meniduri tubuh Intan di meja yang terletak di depan sofa tempat kami bertempur tadi, sesaat kemudian ku lanjutkan goyangan pinggangku, sesekali kuremas payudara Intan yang terlihat menggemaskan, Intan terlihat meringis saat aku melakukan itu.

Beberapa menit kemudian terlihat Intan membuang pandangannya kearah atas kemudian terpejam, tubuhnya kembali bergetar hebat, kembali ia mencapai klimaksnya, aku sudah mulai merasakan sedikit panas di atas nafsu birahiku, ku percepat permainanku, tanpa memperdulikan Intan yang baru saja mencapai klimaksnya, tak perduli tubuh intan yang sudah lemas, ku angkat tubuhnya,kupindahkan ke lantai yang terlapis dari kayu jati parkit, ku pacu tubuh Intan dengan cepat, Aku hanya melihat pandangan intan yang mulai sayu, menandakan ia mulai letih dengan permainan kami. Aku tak perduli, sebentar lagi finish akan ku capai pikirku, aku tetap mempercepat goyangan pinggulku, aku menghujam penisku dengan kasar, hingga akhirnya terasa sesuatu mengumpul di ujung kepala penisku, ku tahan sejenak sambil memperlambat tempoku,
Intan mengetahui hal ini, dengan cepat ia menarik tubuhnya,hingga penisku keluar, tangannya segera menggenggam batang kemaluanku, ia mengocoknya dengan cepat, aku memelototi intan karena tidak setuju dengan tindakannya, Intan terlihat tidak perduli malah makin mempercepat kocokannya, hingga akhirnya cairan spermaku meledak keluar tak terkontrol, membasahi tubuh, payudara,lantai bawah kami, dan beberapa tetes mencapai leher dan muka Intan. Intan seperti puas melakukan itu.Tapi terasa dongkol dalam diriku,,

Tubuhku terasa lemas,dan terduduk ke arah sofa, Intan tergolek lemas di atas lantai villa kami, sejenak kemudian ia bangkit, mengambil pakaian t-shirt miliknya, lalu membersihkan tubuhnya yang ternodai oleh spermaku, lalu ia mendekat ke arahku, kami berciuman dengan mesra.

Setelah puas melakukan itu, Intan masuk ke kamar mandi, sedangkan aku masih menguasai diriku yang terasa lemas,tak lama ponselku nokia 6600ku berbunyi nyaring dari dalam kamarku, saat aku menghampirinya dengan masih telanjang bulat, kudapati suara Desty di seberang sana, sambil melirik kearah jam duduk di meja kecil di samping kasurku, ku perhatikan jam baru saja menunjukan pukul 9.30 malam, agak lama aku berbincang dengan Desty, sambil terduduk disamping kasurku, setengah jam kemudian Desty memutuskan untuk menyudahi pembicaraan kami, ia harus tidur karena esok ia kembali bekerja,

Aku kembali menuju ruang tv untuk mengambil pakaianku yang berserakan, terdengar suara shower kamar mandi baru saja di hentikan, tak lama kemudian Intan keluar dari pintu kamar mandi.

Langsung menuju kamar tidur di samping kamar mandi, birahiku kembali terpancing saat melihat Intan hanya dililiti kain handuk berwarna hijau daun polos, aku langsung mengikuti Intan ke dalam kamarnya, dengan cepat ku ciumi leher Intan,

” Ssshhh … Mas tommy,, udah ah,, badan Intan lemes nih” sahutnya, namun aku tak menghentikan aksiku, aku membaringkan tubuh intan diatas kasur, Intan tidak menolak saat kembali kucumbu dia, Nafasnya kembali memburu, ia seperti melupakan kata-kata yang belum beberapa menit dilontarkanya, ia membalas ciumanku,

Ku singkirkan handuk yang melilit tubuhnya, ku buka celanaku yang belum lama ku pakai, tanpa basa basi kembali ku tindih tubuhnya,

Dengan ganas dan gemas ku serang mulut,leher, dan dagunya, Masih ada rasa dongkol saat kelakuan Intan tadi. tangan intan ku silangkan keatas,ku ciumi pundaknya, terasa bau aroma sabun wanita membalut tubuh Intan,Intan mendesah, nafasnya terus memburu seakan-akan gairahnya kembali lahir.
Tak lama Intan mendorongku ke samping, sehingga aku tertidur terlentang di posisi lain di tempat tidurnya, dengan cepat tanganya meraih batang kejantananku, mulutnya kembali mempermainkan kejantananku, dengan ganas dan penuh gairah, ia melumat batang penisku,permainan lidahnya begitu cepat,tak segan – segan ia memasukan kejantananku ke dalam mulutnya, walaupun ia sadar tidak muat seluruhnya ia tidak perduli, kadang-kadang ia memainkan kepala penisku dengan giginya, gelinya luar biasa, sehingga penisku kembali bangun dengan tegaknya,

dia seperti tidak perduli, dia terus mempermainkannya, aku sadar apa yang direncanakan Intan, aku tidak mau dia melakukan itu, dengan cepat, ku tarik tubuhnya, dan kembali kubaringkan, kini tak kubiarkan dia yang mengendalikan permainan kami, ku berikan permainan liarku, jelajahi seluruh tubuhnya dengan mulut dan tanganku, ku gesek-gesekan kemaluanku di pintu vaginanya, di hanya bisa meliuk-liukan tubuhnya sambil mengerang, terlihat matanya yang sayu keletihan karena permainan pertama kami tadi.

Saat ku perhatikan bulu kemaluan Intan yang lembut mulai basah oleh cairan bening, aku tak ingin melama-lamakan permainan kami, Intan terlihat setuju, kembali ku tindih tubuh intan, Ku masukan kembali batang penisku ke dalam lubang kenikmatan Intan, Intan mengerang, mendesah liar, ku pacu cepat tubuh intan,

Pergumulan kembali terjadi diantara kami berdua, Entah berapa lama aku memacu tubuh Intan, entah berapa posisi telah kami lakukan di pergumulan kedua ini, tubuhku mulai terasa lelah, Saat itulah intan kembali mencapai puncaknya.

Setidaknya lebih dari 1 jam aku menggumuli intan di permainan kedua kami, tanpa terasa, aku mulai mencapai puncakku, namun kali ini berkali kali ku tahan, dan berkali kali kupermainkan tempoku menjadi lambat, Intan sudah tidak berdaya, di permainan kedua ini Intan mungkin sudah 3 kali mencapai puncaknya, tubuhnya sudah lemas, hanya erangan dan desahannya yang keluar, ia pasrah mengikuti permainan liarku, ia biarkan aku mempermainkan tubuhnya sekian rupa.
Saat kurasa kembali terasa sesuatu mengumpul di ujung penisku, kini permainanku ku percepat, temponya tidak ku kurangi sedikitpun, hingga tiba saatnya, kutekankan pinggulku sehingga aku merasa begitu puas memasuki seluruh vagina Intan, hingga meledaklah cairan mani dari penisku di dalam rahim Intan,Intan membelalakan matanya, ia terkejut aku memuntahkannya didalam,
“Masssss Tommyyyy!!!”teriaknya, namun untuk memberikan sensasi tersendiri bagiku, sesaat setelah beberapa tembakan ku lancarkan di dalam lubang goa milik Intan, aku kembali memompa tubuh Intan dengan tempo yang tepat, sehingga aku sendiri tak mampu menyembunyikan rasa nikmatku. ku rasakan sepertinya aku tak henti-hentinya meledakkan seluruh spermaku sampai tetes terakhir, mengingat nikmatnya mengeluarkan hajat sambil menggesekan batangku di rahim Intan, Hingga setelah puas ku cabut batangku, ku perhatikan sejenak, dari lubang kemaluan intan terus mengeluarkan sperma milikku, tubuh intan sudah lemas tanpa daya, matanya terus menatapi wajahku, kali ini aku merasa puas, aku merasa menang,tak lama ku baringkan tubuhku di sampingnya, sambil ku cium payudara dan mulut Intan.

” gimana kalau Intan hamil ? apa mas tommy mau tanggung jawab ?” tanyanya
aku tak pernah perduli pertanyaan intan, aku hanya membalas ” kamu hebat banget tan, aku puas ” kataku.

” kau jahat mass !!” jawabnya dengan nada manja, ada senyum penuh arti di bibir Intan, aku sedikit lega saat intan mengatakan bahwa bulan itu ia belum haid,
Beberapa menit kemudian aku kembali menikmati tubuh intan untuk ketiga kalinya,
Kami tertidur sekitar 1/2 3 malam, keesokan harinya kami berangkat terlambat, kami bangun kesiangan, tapi kami tak perduli.

Selama event Telkomsel berkali kali aku menikmati tubuh intan, aku berhenti melakukannya saat ia datang bulan, setelah itu aku tidak lagi menikmati tubuhnya, hingga event terakhir telkomsel, barulah kami melakukannya untuk terakhir kalinya.


About this entry