Menjebak Kenalan Baru Sahabatku

Perkenalkan nama saya
Dodi. Saya punya sahabat bernama Bram. Ceritanya dia sekarang punya
kenalan baru dari situs friendster. Namanya Latifah, dia keturunan
orang Jawa Barat. Deskripsinya, berusia 19 tahun, kelas 3 SMA,
berjilbab, berkulit putih serta.berwajah cukup manis. Kebetulan
sekolahnya Latifah tidak jauh dari tempat kerja si Bram. Seteleah
beberapa saat lamanya melakukan pendekatan dengannya Bram pernah nekat
coba-coba menciumnya. Ternyata gadis berjilbab itu mau juga walau
sebatas cium pipi namun sewaktu Bram mencoba lebih nekat lagi dengan
pura-pura tidak sengaja menyentuh buah dadanya, sebuah tamparan
disertai makian yang didapat Bram.

Nah, merasa sakit hati
karena dipermalukan oleh gadis muda berjilbab itu, Bram mencoba
membalas sakit hatinya dengan cara memberinya pelajaran sex. Sebagai
sahabatnya yang diajak untuk bergabung jelas aku menyetujuinya.

Dan
keesokannya, tengah hari Bram izin setengah hari masuk kantor demi
melaksanakan rencana kita berdua. Dijemputnya Latifah pas pulang
sekolah. Dengan alas an ingin mengambil titipan orang ia berhasil
mengajak siswi berjilbab itu mampir ke rumahku. Bram memperkenalkannya
padaku. “Latifah”, ujar gadis berjilbab itu memperkenalkan dirinya
seraya mengulurkan tangan. Sembari menjabat tangannya kuperhatikan
dengan seksama siswi SMA berjilbab kenalan Bram ini. Wajahnya yang agak
imut manis dibalut jilbab putih membuatnya nampak menawan. Buah dadanya
yang sedang berkembang itu nampak membusung menyembual dari balik hem
putih OSIS lengan panjangnya. Ujung kain jilbabnya tidak dapat menutupi
dengan baik kedua bukit kembar tersebut. Pinggulnya yang ramping
ditopang sepasang bongkahan bokong yang bulat nampak menggiurkan
dibalut erat rok abu-abu panjang semata kaki yang dikenakannya.
“Hmm…rasanya tidak sia-sia aku cuti kerja hari ini. Gadis berjilbab ini
bakal aku genjot habis-habisan”, ujarku dalam hati kegirangan.

Setelah
berbasa-basi sebentar kupersilakan siswi berjilbab itu untuk duduk di
ruang tamu, seraya menunggu Bram “mengambil barang titipan” yang
dimaksud. Tidak lama kemudian aku mulai nampak akrab dengan Latifah.
Dia bercerita banyak tentang keluarganya, temannya, sekolahnya dan
sebagainya. Dan disela-sela cerocosannya, aku menyuruh Bram untuk
mengambil minuman untuk disuguhkan buat tamu “istimewa” ini seraya
memberi kode. Minuman yang akan dicampur obat perangsang hebat yang
kudapat dari took obat kuat langgananku.

Kemudian Bram
menyuguhkan sirup itu pada Latifah. Gadis berjilbab itu kemudian
meminumnya setengah. Lalu Bram meninggalkan kami berdua. Kemudian aku
mulai melancarkan rayuan gombal pada siswi berjilbab itu. “Tifah, kamu
itu cantik deh! Nggak nyangka Bram bisa lucky kenalan sama kamu”.
Mendapat
pujian seperti itu, wajah Latifah terlihat memerah tersipu malu. ”Ah,
mas bisa aja.”, ujarnya seraya menundukkan wajahnya yang memerah karena
malu. Melihat hal ini, aku mulai mengeser dudukku agar lebih dekat
dengannya.

Setelah aku duduk berada persis disampingnya,
kulancarkan lagi omongan gombal berikutnya, ”Eh, benaran deh, kamu
cantik sekali buat ukuran cewek berjilbab lho! Kayanya kamu cewek
jilbab yang ngerti mode yah?”, rayuku lanjut.
”Masa sih mas? Saya cantik?”, katanya seraya melihat kearahku dengan senyum malu.
“Demi Tuhan! Beneran Fah!”, ujarku berusaha meyakinkannya.
“Fah,
ayo dong minumnya dihabiskan dong. Entar mubazir lho!”, kataku sambil
menyodorkan gelas pada Latifah. Dia meminumnya sampai habis. “Kena
kau!”, teriakku dalam hati.

“Fah kata Bram, pipi kamu pernah dicium sama dia, bener Fah?”, tanyaku memancing reaksinya. Dia malu-malu mengangguk.
”Fah, kalau aku dibolehin juga nggak cium pipi kamu?”, tanyaku.
Dari
wajahnya, siswi berjilbab kenalan Bram itu nampak terkejut. Beberapa
saat dia nampak bengong karena pengaruh obat perangsang yang diminumnya
tadi. Sesaat kemudian dia mengangguk. Lalu dengan menyorongkan badanku
kearahnya kukecup pipi nan mulus wajah imut gadis berjilbab ini. Harum
wewangian yang memancar dari tubuhnya saat mencium pipinya membuat
gairahku perlahan naik.

Sesaat gadis berjilbab putih itu
terdiam sambil menunduk. Lalu beberapa saat kemudian aku bias mendengar
nafasnya yang mulai naik turun. “Hmm…mulai bereaksi nampaknya”, ujarku
dalam hati. Obat perangsangnya mulai bekerja merasuki otaknya. Tanpa
membuang waktu, kujamah wajah imut berjilbab putih yang sedang
tertunduk itu agar menoleh kearahku. Dengan tatapan sayu dengan nafas
yang agak memburu siswi berjilbab ini seolah nampak pasrah. Segera
kupagut dan kulumat bibir mungilnya. Kumainkan lidahku kedalam
mulutnya. Matanya terpejam saat aku terus memainkan lidahku dimulutnya.
Aku tahu kalau dia mulai terangsang.

Aku mulai beraksi memainkan
tanganku untuk meraba dadanya dan gadis berjilbab ini merintih.
”Jangannhh…masss…Dodi, ini haram, dosa”, pintanya lirih.
Tak kupedulikan kupagut lehernya yang tertutup jilbab putih miliknya.
”Sayang,
kamu jangan munafik. Aku yakin memekmu sudah basah”, kataku meledek
Latifah dengan sinis. ”Memekmu basahkan? Ayo jawab munafik!”, kataku
sambil meremas-remas dadanya.dari luar kemeja putih OSIS lengan panjang
yang dikenakannya.
Muka Latifah memerah, dia menatapku dengan
lirih. ”Ayolah saying. Jangan munafik kamu suka kan?”, kataku lagi
dengan agak keras.
Gadis berjilbab putih ini menyahut pelan dengan menjawab singkat, “Iyah”.

Kulumat
dan kukulum mulutnya lagi. Latifahpun membalasnya dengan nafsu.
Perlahan kulepas kancing baju seragam lengan panjangnya satu per satu.
Dia sama sekali tidak menolak. Bajunya terbuka dan nampak sepasang buah
dada nan ranum sedang berkembang ditutupi oleh bra berwarna coklat
muda.
Kusingkap bra itu keatas dan wajahku pun turun dari bibirnya
menuju sepasang bukit kembar dengan sepasang putting coklat muda yang
nampak mengacung keras. Kulumat kedua-duanya sambil terkadang menggigit
kedua putting itu. Gadis berjilbab putih yang seragam sekolah lengan
panjangnya yang telah terbuka ini hanya bias mendesah da mendongakkan
kepalanya yang berjilbab seraya kedua tangannya meremas-remas kepalaku.

Tangan
kananku kupakai untuk mengelus-elus pahanya dari luar rok abu-abu
panjangnya, sedangkan tangan kiriku asyik mengelus pinggangnya yang
ramping dan mulus. Terkadang tangan kiriku dengan gemas meremas
bongkahan kenyal pantat milik Latifah dari luar rok abu-abu panjang
yang masih ia kenakan.
Perlahan tapi pasti rok abu-abu panjang
sekolah yang tadinya menutup bawahan gadis jilbab ini perlahan kutarik
keatas. Sekarang nampak sepasang paha dan betis putih nan mulus
terpampang indah dihadapanku. Celana dalam warna krem yang sudah
kelihatan basah nampak menutupi selangkangan dengan belahan vagina yang
masih nampak rapat. Segera kumainkan jemariku di belahan vagina yang
masih tertutup celana dalam itu. Kususuri perlahan belahan itu naik
turun perlahan.

”Enakkan sayang?”, bisikku ke telinga siswi
berjilbab ini. Latifah yang sudah dirasuki birahi karena pengaruh obat
perangsang tadi, hanya mengangguk dengan mata terpejam disertai desis
dan nafas yang mendesah. Melihat hal reaksi horny gadis berjilbab ini
gairahku pun bertambah besar. Kaki gadis SMA berjilbab ini kurentangkan
lebar-lebar. Perlahan jari tanganku masuk menyelusup kedalam celana
dalam itu dan mulai menguak belahan kemaluannya dan, “Ahhhhhh…….!“,
pekik kecil Latifah tertahan kala menerima rangsangan dari permainan
jariku didalam lubang surgawinya. Kedua lengan siswi berjilbab ini
semakin memeluk erat kepalaku sedangkan kedua pahanya refleks mengatup
hingga menjepit tanganku.
“Bagaimana rasanya sayang?“, tanyaku
berbisik seraya memagut-magut lehernya yang masih terbalut jilbab putih
itu. Tak lupa tangan kiriku meremas-remas bokong kenyal Latifah dengan
gemasnya.
Yang ditanya tidak menjawab hanya dengusan dan desah nafas menahan birahi yang keluar dari mulutnya.
Beberapa saat kemudian Latifah berkata dengan suara mendesis, “Masshh…akkuhh…rasanya mo pipisshh mashhh…”.
”Pipis aja sayang, lepaskan semuanya.“, jawabku sembari mempercepat tusukan jari ku kedalam liang vagina siswi berjilbab ini.
Tak
lama kemudian tubuh Latifah bergetar hebat. “Ahhhh…”, pekik gadis
berjilbab ini kala mengalami orgasme yang pertama dalam hidupnya.
Wajahnya yang imut terbalut jilbab putih itu terkulai lemas dipundakku.
Nafasnya menderu-deru naik turun akibat puncak orgasme tadi.
“Gimana
sayang? Nikmat khan?”, bisikku padanya. Siswi berjilbab ini hanya diam
tidak menjawab. Hanya bunyi desah nafasnya yang naik turun seakan
menjawab pertanyaanku. Kulancarkan seranganku yang kedua kali ini
dengan menyingkap celana dalam kremnya menyamping. Lalu kulebarkan
pahanya. Terlihat olehku belahan vagina nan rapat ditumbuhi bulu-bulu
halus disekitarnya. Bibir liang surgawinya nampak tebal. Kukuakkan
lebih lebar lagi belahan vagina itu dan kulihat biji kelentitnya yang
kecil tapi membengkak karena nafsunya.
Aku segera menurunkan
posisi badanku hingga berjongkok didepan selangkangan Latifah.
Kujulurkan lidahku dan mulai memainkannya dengan menyapu seluruh
permukaan vagina nan lembab itu. Tak lupa kuhisap-hisap biji kecil yang
menggantung didalamnya itu.
Tubuh Latifah, siswi berjilbab ini
segera bergetar menggelinjang hebat. “Ahhh…ahhh…….masss Dodi…”,
desahnya serentak mencengkeram kepalaku kuat-kuat. Pahanya lagi-lagi
refleks menutup rapat hingga menjepit kepalaku di selangkangannya.
Lumayan sih, nafas jadi susah namun demi rangsangan aroma khas kemaluan
gadis muda berjilbab ini kuteruskan aksiku. Kujilat, kuhisap, vagina
muda dan biji kelentit Latifah dengan lembut.
“Ohh….ahhh…Mas
Dodi…geli massshh……”, desis Latifah. Kurasakan wajah dan mulutku
basah oleh cairan kewanitaan yang mengalir dari dalam vagina betina
muda berjilbab ini.
Dan, “Ahh…Masssh…”, pekik pelan Latifah
dengan tubuh yang bergetar. Kali ini dia kembali berorgasme kedua
kalinya. Cairan vaginanya menyembur begitu banyak. Terasa asin dan
legit kala kusedot habis.
Latifah nampak duduk menyender lemas di
sofa. Kepalanya yang terbalut jilbab putih itu nampak terkulai lemas
kebelakang. Sejenak kuamati sosok yang terduduk lemas dihadapanku ini.
Siswi SMA yang masih mengenakan jilbab putihnya ini dengan seragam
putihnya yang sudah terbuka menampakkan sepasang buah dada nan ranum
dengan beha yang tersingkap keatas. Rok abu-abu semata kakinya sudah
tersingkap sepinggang menampakkan celana dalam yang tersingkap
menyamping dengan belahan vagina yang kelihatan basah. Ditopang oleh
sepasang paha dan betis putih nan mulus dihiasi sepasang kaus kaki
putih selutut. Benar-benar pemandangan yang membuat birahiku semakin
naik.
Kubuka celanaku sendiri hingga bugil. Kemaluanku yang sudah
tegang sedari tadi nampak mengacung gagah diudara. Siswi berjilbab yang
terduduk lemas disofa dihadapanku ini tiba-tiba memekik tertahan seraya
menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“Lho, kenapa sayang? Koq
malu melihat begini aja?”, tanyaku tertawa kecil. “Tadi kumainin punya
kamu, koq enggak ngerasa malu? Keenakan malah…he…he…he”, lanjutku
lagi terkekeh-kekeh.
Kudekatkan penisku yang tegak mengacung itu
ke wajah siswi berjilbab ini seraya memintanya untuk memblow job
milikku ini. Gadis berjilbab dengan seragam sekolahnya yang sudah
tersingkap atas bawah ini menolak mentah-mentah seraya memalingkan
wajahnya yang ditutupi tangannya.
“Bram!”, teriakku memanggil
sahabatku. Dengan wajah cengar-cengir, yang dipanggil muncul dari balik
pintu ruang tamu seraya menenteng video camera digital ditangannya.
“Lihat, Bram dari tadi sudah merekam semua aksi hot kita berdua sayang.
Nah sekarang kamu nurut apa mauku atau kusebar rekaman tadi?”, ancamku
lagi dengan senyum penuh kemenangan.
Wajah Latifah nampak pucat
pasi kala menyadari kalau dia sudah masuk perangkap kami berdua. Dengan
badan bergetar menahan tangis emosi, gadis berjilbab ini hanya bisa
memaki dan meratap kesal nasibnya yang sial kena perangkap. “Kalian
jahat!”, makinya terakhir dengan wajah berkerut tanda kesal.
“Ah,
sudahlah sayang. Tadi buktinya kamu kelihatan begitu menikmati
permainan tadi.”, balasku lagi dengan tersenyum lebar.. . “Nah,
sekarang coba sayang pegang penis ini terus kamu kocok pelan-pelan
yah?”, bujukku lanjut seraya menarik tangan kirinya lembut. Kutaruh
tangan nan lembut itu diatas penis tegang berurat milikku. Kugenggamkan
dan kubimbing tangan siswi berjilbab itu agar mulai mengocok batang ini
bergerak maju mundur pelan-pelan. “Ahhh….mmhh..”, desahku kala tangan
lembut yang kubimbing itu mulai mengocokku. Wajah manis berjilbab itu
hanya menunduk tidak mau melihat aksi paksaan ini. Nampak aliran
tetesan air mata dari kelopak matanya namun aku tidak kupedulikan.
Beberapa
saat kemudian aku ingin sekali mencoba rasanya penisku ini berada dalam
kuluman bibir indah Latifah sang siswi berjilbab. Kulepaskan peganganku
pada tangan yang sedang mengocok tadi. Sambil memegangi penis dengan
tangan kiriku, tangan kananku mencengkeram kepalanya yang terbalut
jilbab putih seraya memaksa wajah imut ini berhadapan langsung dengan
penisku. Sempat ia melengos membuang muka namun kuingatkan sekali lagi
kalau saat ini Bram sedang berada disamping kita dan sedang merekam
semua kejadian ini. Dengan terpaksa sambil menutup mata, siswi
berjilbab ini perlahan membuka bibirnya yang mungil.
Aku kembali
mendesah pelan kala penisku menerobos rongga mulut nan hangat Latifah.
Perlu sedikit instruksi buat gadis berjilbab ini karena dia memang
belum pernah melakukannya. Lama-kelamaan (karena terpaksa) siswi
berjilbab ini mulai fasih menggunakan mulutnya. Sambil memegangi kepala
Latifah yang masih dibalut jilbabnya kumaju-mundurkan pinggulku seraya
mendesah nikmat. “Emmhhh…Mmhpphh…”, hanya itu yang keluar dari
mulut Latifah yang sesak oleh penisku. Kedua tangannya agak canggung
memegangi pahaku yang sedang berdiri dihadapannya.

Puas dengan
layanan blow jobnya, kuputuskan untuk menikmati hidangan utama dari
kegiatan sex ini. Ya, aku ingin menyetubuhi gadis muda berjilbab ini
sepuasnya sekarang. Kutarik penisku dari dalam mulutnya lalu menarik
tubuhnya dari sofa. Kurebahkan Latifah diatas karpet seraya
menyingkapkan rok abu-abu panjang semata kaki itu hingga sepinggang.
Lalu kembali kulebarkan kedua pahanya sembari menguak celana dalam miliknya kesamping.
Sambil
menahan kedua pahanya agar tetap mengangkang lebar, perlahan
kugesek-gesekan kepala penisku ke celah bibir vaginanya yang berlendir.
Tangan kananku masih kupakai untuk menyingkap celana dalam milik
Latifah.
“Jangan…Mas. Please…”, rengek siswi berjilbab ini
lemah dengan kepala terkulai kekanan. Gadis berjilbab ini sudah nampak
pasrah tidak berdaya. Hanya bisa memohon sembari menggigiti ujung kuku
tangan kanannya dengan mata terpejam Aku teruskan tanpa memperdulikan
rengekannya. Perlahan kepala penisku sedikit demi sedikit menyeruak
masuk ke dalam belahan vagina tersebut.
”Aakkhh…mas…jangan……sakittt!!”, jeritnya menahan sakit kala kupaksa menembus pertahanannya.
Sempit sekali liang perawan Latifah.
Kemudian dengan sekali hentakan kuat, kumasukan semua batang penisku yang besar itu.
”AAAKKHHH!!”,
siswi berjilbab ini melolong keras karena kesakitan. Tapi aku tak
peduli. Hanya ada satu yang ada dalam benak, menuntaskan hasrat birahi
yang sudah kutahan dari tadi. Aku mulai bergerak maju mundur. Kunikmati
jepitan liang sempit perawan milik Latifah.

Siswi berjilbab yang sudah tersingkap pakaian seragamnya atas bawah ini menangis dan merintih memintaku untuk berhenti.
”Uukkh..uuddaahh…sakitt…!!
Masss Dodi tolong stopphh….ampun….yahh!! Stopp!!”, pekiknya dengan
tubuh yang terguncang-guncang akibat sodokanku. Aku yang sudah tuli
karena birahi tak mempedulikannya. Malah makin lama, semakin kupercepat
sodokanku maju mundur. Kulihat bibir vagina gadis berjilbab ini
kelihatan memerah. Bentuk bibir liang surgawinya nampak menggembung dan
mengempis seiring maju mundurnya penisku didalam.
“Ohh..Godd…tempikmu enak sekali sayyangghh…”, racauku seakan membalas rintihan Latifah.
Dari mulut mungil siswi berjilbab keluar jeritan yang semakin keras, ”AAHH…AAKKHH…!!”

Beberapa
menit kemudian kuhentikan aksiku. Kucabut sebentar penisku, kulihat
vaginanya memerah seperti memar. Darah keperawanan nampak menetes
disela-sela vaginanya. Lalu kujilat darah perawan yang bikin awet muda
itu.
Lalu dalam keadaan lemah, Latifah nampak pasrah kala
kubalikkan tubuhnya. Kuposisikan pantatnya yang sekal itu tinggi-tinggi
agar menungging dan kedua tangannya bertumpu di karpet. Setelah pas
menungging, kusibakkan lagi rok abu-abu panjangnya sepinggang. Begitu
indah pemandangan di hadapanku ini. Latifah yang masih mengenakan
jilbab putih serta hem putih lengan panjangnya namun rok abu-abu
panjangnya sudah tersingkap sepinggang hingga kemontokan belahan
pantatnya yang putih mulus seakan menantang untuk minta dikerjai
sehabis-habisnya.
Seraya mencengkeram bongkahan pantat yang sekal
dengan tangan kanan, penisku kuarahkan dengan tangan kiriku menyodok ke
celah liang surgawinya dari belakang. “Oouhh…aaakkhh..ampunnnnn
Mmass…sakittttttt…sakiittttt!”, teriaknya tatkala hentakan keras
penisku menghujam keras dari belakang. Wajahnya yang imut terbalut
jilbab putih itu nampak mendongak dan meringis kesakitan. Lalu
disela-sela genjotanku kuremas-remas buah dadanya
“SShhh….sssayyyangghh
enak bangetttt Fahh!!”, racauku sembari memeluknya dari belakang dan
meremas bongkahan buah dadanya yang sudah tersingkap itu. Hem putih
OSIS lengan panjangnya yang sudah terbuka itu nampak semakin kusut
karena tergesek-gesek dari belakang.
“Aaahhh…uuhhhh…”, desahnya
dengan mata terpejam seraya kedua tangannya mengepal kuat-kuat menopang
tubuhnya yang sedang menungging.
Hampir 30 menit lamanya kugenjot
siswi berjilbab kenalan Bram ini dengan posisi favoritku ini. Dan
nampak ia makin kepayahan. Hem dan jilbab putihnya sudah awut-awutan
nampak lepek basah oleh keringat persetubuhan paksa ini. Begitu pula
rok abu-abu panjang semata kaki yang kusingkapkan sepinggang. Sempat
kulirik Bram yang sedang mensyut adegan ini. Nampak dia sedang mengocok
kemaluannya seraya tetap memegang kamera dengan tangan kanannya.
Akupun
merasa akan mendekati puncaknya. Spermaku terasa bergejolak mendesak
untuk keluar. Lalu seraya menarik kedua lengannya bagai kusir yang
sedang menunggang kuda kupercepat sodokanku hingga bunyi benturan
pantat Latifah dengan selangkanganku semakin terdengar kencang,
“Plakk…plakk!”. “Uhh…Tiffaahh!”, seruku sejadi-jadinya menahan nikmat
hendak mencapai klimaks. Latifah yang sedang kugenjot dalam kecepatan
penuh ini dari belakang hanya bisa merintih-rintih seraya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Jilbab dan hem putih OSIS lengan
panjang yang dikenakannya nampak berkibar-kibar karenanya. Kedua buah
dadanya yang tersingkap dari balik behanya nampak bergoyang-goyang dan
bergetar naik turun akibat sodokanku yang semakin cepat.
Beberapa
saat kemudian tubuh siswi berjilbab ini mendadak bergetar hebat.
Tubuhnya melengkung kebelakang dengan wajah yang berbalut jilbab putih
itu mendongak keatas. Biji matanya membelalak hanya nampak bagian warna
putihnya saja. Nampaknya dia telah mencapai puncak orgasmenya. Dan
bersamaan dengan itu akupun mencapai puncak orgasme sembari menyodok
dalam-dalam penisku ke dalam liang surga Latifah,
“Aaahh…Tiffaahh…nniihhh!!”.
”Crrooottt…crooot….crottt”, spermaku
menyembur kedalam rahimnya bercampur dengan cairan kewanitaan yang juga
menyembur berbarengan.
Siswi berjilbab itu kini tersungkur lemas tak
menjerit lagi, hanya isak tangis dan lirih kesakitan yang keluar dari
bibirnya yang mungil. Kulihat bibir vaginanya bengkak, memerah serta
memar. Spermaku bercampur darah perawannya menetes keluar sedikit
sedikit. Aku menatapnya tersenyum puas.


About this entry