CELANA DALAM PACARKU

Benda ini membuat pikiranku berselimut dirimu, tentang apa saja yang telah kita lakukan berdua. Kaupun relakan aku berkelana diantara basah keringatmu. Indah…..lelah dan pasrah…uh!…sayangku sungguh kau cantik, bahenol lagi.

Tak kan pernah kulupakan kenangan waktu itu. ujung rambut sampai ujung kakimu memancarkan cahaya yg membuat diriku terpana dan tak bisa bernapas dalam sesaat. hekh….hekh….huff…hos… itulah kata-kata terakhir yg bisa kuucapkan waktu itu.

Aku tak habis pikir bagaimana benda pusaka si Marni yayangku ini bisa sampai dikamar kostku sedangkan dia itu cuma sekali saja masuk kamar ini dan itupun untuk ngantar kue bikinannya, terus aku cium keningnya sambil kukatakan “Makacih ya”.

Aku lalu coba mempelajari benda pusaka si Marni itu dengan seksama. Kubentangkan lebar-lebar siapa tahu ada watermark atau metadata disana.

setelah sekian lama kurenungi dan kuperhatikan ternyata yang ada hanya sulaman bertulis namanya, dan beberapa tambalan di sana sini. konon dulu dia sering menyelusup di bawah kawat berduri sehingga cd-nya sering kesangkut kawat.

Aku lalu mencatat setiap keunikan yang ada di benda pusaka si Marni itu. Setiap dambalan dan benang jahit yang digunakan turut ku catat juga.

kucatat dengan penuh ketelitian bagaikan seorang dokter forensik mencatat setiap detail korban pembunuhan, bagiakan seorang admin menganalisa setiap jejak hacker dalam servernya.

Disela-sela mencatat, aku lalu terbayang si Marni. Bagaimana dia mencuci dan memeras benda pusaka miliknya ini dengan adegan slow motion, sambil menyibak rambutnya yang berkibar-kibar dihembus angin.

Ditambah dengan latar belakang yang penuh bunga-bunga.

kubayangkan bau harum semerbak dari sabun tjap tjolek yang biasa digunakannya. aku termangu membayangkan semua itu.

Lalu sebelum benda pustaka si Marni kusimpan di kotak wasiatku, aku tatap benda itu kuat-kuat.

mataku menatap tajam, seakan hendak menembusnya.

seakan hendak merobek-robeknya.

mendadak aku termenung. kuhela nafas panjang sambil mataku menerawang menatap langit langit kamar. “di mana dirimu sekarang…..?”, tanyaku dalam hati.

Aku lalu melipat benda itu dengan rapi dan meletakkannya kedalam kotak wasiat. Pertanyaanku itupun terasa sangat mengganggu. Aku menghela nafas panjang lagi.

mendadak kuambil benda maksiat eh wasiat itu lagi dari dalam kotaknya dan kuhirup aromanya dalam dalam. ntah kenapa, aku ingin sekali melakukannya. aku gila ? tak waras ? hilang akal ? aku tak peduli….

Setalah puas menghirupnya, lalu kukembalikan lagi kedalam kotak.

Aku coba untuk tidur malam itu, tapi aku tak bisa memejamkan mata. Lalu kuambil lagi benda yang penuh misteri itu. Kubayangkan dan kubayangkan lagi….. benda yang selalu terselimuti secuil kain warna krem ini. Marni oh Marni…I LOVE U BIBEH.

Aku tidak bisa melepaskan benda wasiat si Marni itu. Kudekap erat, dan berharap benda wasiat si Marni itu bisa mengantarkan ke alam mimpi. Ke langit ke tujuh. Bersama Marni dan benda wasiat si Marni.

tapi aku masih tak bisa memejamkan mata. bayangan marni selalu terlintas dalam benakku. tak terasa waktu sudah hampir pagi, dan aku masih berbaring sambil mendekap benda wasiat marni.

Entah kenapa, benda wasiat si Marni ini makin membuatku penasaran. Rasa kantuk seakan lenyap. Benda wasiat si Marni, makin lama di perhatikan, makin terasa memancarkan daya magis.

aku seperti tersihir untuk selalu memandangnya, mendekapnya, dan menghabiskan setiap malam untuk mengkhayalkan marni yang aku sendiri tak tau kabar berita dan di mana rimbanya.

Dengan mendekapnya, seolah marni ada disisiku, seolah dia ada dekat dengan ku. Tapi saat kumenyadari bahwa itu hanya hayalan, makin membuatku ingin mendekap benda wasiat si Marni lebih erat lagi.

Tiba-tiba aku tersentak. Melihat siluet bayangan dibalik jendela kamar. Lekuk-lekuk tubuh yang aku tau benar. Marni… aku membatin.

Tapi… tidak mungkin Marni benar-benar ada disini…

aku meloncat dari pembaringanku dan membuka pintu dengan cepat. berharap dapat kembali melihat senyumnya yang selalu terbayang dan mendekap tubuhnya yang hangat. tapi…..

“Trimoooooooo.. Soetrimoooo..

Aku kaget.

ealah…. ternyata bukan marni. yang ada hanyalah seorang wanita lain yang belum kukenal tapi lekuk tubuhnya mirip dengan marni dan sedang mencari lik trimo, tukang sampah langganan.

“Brisik! bikin orang kaget aja! baru PW neh..” Bentakku ke orang itu.

“emang PW apaan sih ?”, tanyanya dengan wajah polos. “posisi waria ya ?”, lanjutnya dengan wajah yang (pura pura) inosen tapi sebenernya bikin orang pengen nabok.

“Wooo!! Sampeyan yang waria!!” bentakku lagi sambil membanting pintu. Emosiku memuncak. Aku ingin meredam emosi ini dengan benda wasiat Marni yang masih kugenggam. Saat kulihat tanganku. Ternyata benda jatuh didepan kamar. Ku segera membuka pintu lag.

begitu pintu kubuku klihat dia nyengir kuda memamerkan giginya yang agak berantakan bagaikan wijen di onde onde sambil berkata, “lha ya sampeyan kalo ndak warina kok bawa bawa celana perempuan ? hayoo !!”.

Benda wasiat yang terjatuh itu langsung kurenggut, dan kukepalkan di depan mukanya “Ini.. adalah benda penting dalam hidupku!!!” kataku sambil berapi-api.

“ya pasti penting tho, lha sampeyan kalo dines jadi waria kan ndak matching pake kolor cowok dipadu sama rok mini”, balesnya semakin mengejek.

“Kamu…. nggak… akan bisa mengerti….” Aku makin geram. Mataku menyala-nyala mengungkapkan keseriusanku ini.

“lha yo memang ndak ngerti, wong saya ndak punya temen waria”, balasnya. “tapi sampeyan liat lik trimo ndak ? katanya mo bantu benerin genteng. ato sampeyan saja yang mbantuin ?”, tanyanya dengan polos.

“@#$” Aku dongkol “Baik! sampeyan akan ku bantu! tapi ada syaratnya…” Jawabku dengan tersenyum sinis. “Ini…” Lanjutku sambil menunjukan yang ku genggam tadi.

“sampeyan minta dibayar pake celana dalem? lha kalo yang renda renda gitu saya ndak punya, maklum orang ndeso”.

“Tidak masalah! yang penting celana dalam. Setiap celana dalam memiliki ikatan khusus dengan penggunananya. Itulah yang membuat setiap celana dalam menjadi unik. tak tergantikan. menjadikannya wasiat”.

“tapi anu mas….. malu ahh….. mbok yao situ minta yang laen saja”, jawabnya sambil menunduk. ntah kenapa, tangannya jadi sibuk meremas2 lap pel.

“Sudah terlanjur! Kamu sudah membuatku menginginkannya… ayo serahkan!!”.

“lha kok enak tho ? lha situ blom mbenerin genteng. benerin dulu gentengya”, katanya sambil berbalik meninggalkanku sambil menunggingkan bokongnya yang aduhay ke arahku.

“Lah.. malah nantang…” Jawabku geram. “Oke aku benerin gentengnya sekarang.. dan jangan lupa dengan upahnya!” sambil menampar bokong itu sampai orang itu tersungkur.

Jatuhnya ngangkang sampai kelihatan celana dalamnya. Duh!…cilaka, celana dalamnya persis seperti punya Marni yang kupegang ini. Jangan2 yang kupegang ini miliknya juga dan bukan punya Marni. Wah! aku terlanjur…maafkan daku Marni.

Tapi aku yakin. Benda pusaka ini adalah kepunyaan Marni. Kubuang keraguanku jauh-jauh.

Aku semakin yakin. Aku hafal betul dengan aromanya yang khas dan pegang-pegangannya, karena aku berkali-kali berselancar disana sampai kutemukan sebentuk mouse dengan panel scrool ditengahnya. Kalau ingat saat itu aku ingin mengulang…..

….saat kuelus, klik kanan klik kiri Marni hanya melenguh kecil tubuhnya hangat berkeringat. Lalu pantatnya mengingsut pelan kekiri…kekanan…dan ketika jemariku menjamah scrooll mendadak jeritan kecil dari bibir Marni……Mas…Mas…ach!!….

Marni seketika memegang tanganku dan menekan ke mouse yang sedang kupegang, seolah tanganku tak boleh melepaskannya. Otomatis jari telunjukku semakin dalam menekan tombol scroll itu. Tubuh Marni semakin menggelinjang dan dari lubang scroll terasa mul.

“mas….mas trimo… bangun mas.. mau bli koran ndak? ” tukang koran langgananku nongol dijendelaa… aduh..aduh…

masih setengah sadar dan berusaha untuk mengumpulkan nyawanya, trimo menyumpahi si tukang koran.

“Sialan.. padahal baru ngimpi enak-enaknya je.. dah nyari tadi tuh…” umpatku ke tukang koran tidak sopan itu pelan.

masih ngomel – ngomel trimo bangkit dari tidurnya dan segera meninggalkan mimpi indahnyanya. “mana korannya?” tanya trimo …

“Wah.. mas Trimo kok tidurnya posisinya gitu amat… baru ngimpi enak ya mas? semalem saya juga ngimpi enak lho mas..” cerocos tukang koran itu. “arr.. berisik…” Trimo memukul si tukang koran dengan majalah yang digulung. “Mana korannya?!”.

Tau ga…. kalo tadi ga ganggu tidurku? tau ga ? betapa indahnya mimpiku, ….oh marni( sambil membayangkan mimpinya tadi), Ughhh…. geram trimo…. sedikit lagi, gara gara kamu nih… ga jadi ENAK !

“Wah… ngeganggu ya mas? wah.. ya maaf mas.. hehe.. ini korannya mas…” Si tukang koran mengulurkan koran sambil tertawa-tawa. “Oh ya mas.. itu ilernya juga di lap dulu mas.. hehehe” Lanjut si tukang koran sambil buru buru ngabur.

*sambil ngelap ilernya*……kurang ajar tuh orang, dah ganggu orang ngabur… kemudian trimo mulai membuka korannya, tiba tiba dia tersadar bahwa ada yang basah dicelananya…. wuadalah….belum masuk kok sudah basah.

Trimo lalu buru-buru ngabur ke kamar mandi dan mengecheck bagian bawahnya.

wuarakwadah…….keluar nih, harus mandi dong…padahal males banget airnya dingin. keluh Trimo. yah gapapa lah sekalian aja tak keluarin semua dari pada cuma sedikit…….pikir Trimo.

*BYUR*BYUR*BYUR* Trimo mandi dengan buas-nya, sewaktu air di bak tinggal setengah. Trimo baru menyadari satu hal. “Waa!!! Air-nya mati!!” Trimo panik setengah mati. Padahal ritual mandinya sampai setengah aja belum.

sabun masih membasahi tubuhnya…..

Trimo dengan handuk seadanya keluar dari kamar mandi buat menyelidiki apa penyebab air tidak mengalir.

Diluar tiba-tiba kepergok Marni yang sedang menunggu Trimo. Marni tersipu-sipu melihat tubuh Tribo yang hanya dibalut handuk….”Seksi juga tubuh mas Trimo” batinnya.

“Kneapa nggak ngliat yang begini dari dulu ya”.

Trimo hanya bisa tertawa untuk menutupi malunya.

Lalu Trimo menyapa Marni…. “Dik Marni apa sudah lama nungguin saya mandi ya?”. Marnipun menjawab..”Ah, enggak cuman mau ngintip doang…he…he…he…,emang gak boleh”.

Tahu kalau Marni bercanda sekalian saja Trimo nimbrung “Kenapa harus pakai ngintip segala, kita kan sudah tak asing lagi”. Marni tersipu sipu, wajahnya memerah jambu tapi hatinya semakin bergelora bagai ombak pantai selatan…BYUUUUURRR.

Beruntunglah aku ini punya pacar Marni, meski namaku mirip nama Lik Trimo situkang sampah tapi tak jadi persoalam. Nama asliku kan Trimoleus Sukardi. Sebenarnya keren, tapi apalah arti sebuah nama.

Setelah tahu kalau keran airnya tadi ternyata dimatikan Marni, kamipun masing2 tertawa dan kran dihidupkan lagi ….Cuuuurrr… aku lalu meneruskan ritual mandi biar jadi wangi sekujur tubuh. Dan…hmm..nyam..nyam..nyam… ada Marni disini.

Kebetulan ini hari Sabtu aku libur kerja dan sepertinya Marni juga tidak ada kuliah. “Tadi kesini naik apa Dik” tanyaku. “Taksi mas”. Lalu kami omong2 dan bercanda diruang tamu panjang lebar sampai tak terasa tenggorokan terasa kering……

“Haus ya Dik..yok kita cari minum, aku tak punya persediaan neh maklum orang kost”. Lalu kami berdua cari kedai minum naik si “Boncel” motor Vespa bututku keluaran tahun 1965. Marni merangkul erat perutku takut jatuh, maklum dia anak tajir…..

Bahu Marni nempel tubuhku dan aku tahu sumber kehangatan dipunggungku itu milik siapa . Pikiranku melayang campur aduk dengan bayangan celana dalam yang kudekap semalam. Aku tak konsen dan tiba2……..eiit!!!!…. hampir saja aku….

Ternyata ada Grobak Trimo situkang sampah yang diparkir dipinggri jalan. Marni berkata “mas ngeliat CD cutbray ku G? terakhir aku pakai waktu nganter kue kerumah mu”.

“Lho masa CD situ yang pakai kok ditanyain ke aku?” aku pura-pura tak tahu. Terus Marni bilang lagi “mas habis ngesun aku waktu itu mas kan kebelakang sebentar, nah saat itu aku ganti cd dan lupa bawa pulang”.

“Trus waktu itu kamu ganti pake apa?” Tanya Ku heran. “Aku ganti pake punya mas yang sobek-sobek itu lho,,Biz eksotis n sensual bgt diliatnya”. Pantas punya ku yang itu hilang..

“Lha trus kalo pake punyaku yang sobek-sobek itu apa perasaanmu jadi enak?”…. Ho..oh mas, sepertinya ada kehangatanmu disitu dan sensasiku melayang bersamamu. Gak apa-apa ya mas.

“Ga pa2 juga ciy,,tapi bukannya malah dingin cz ada ventilasinya, ko kamu malah merasa hangat ya?!” Tanya Ku aneh..

“Entahlah mas, jujur saja aku merasa enjoy dengan celana sobekmu itu. Bagiku seperti ada yang mengganjal dan berontak disitu”. Jawaban Marni membuatku semakin bingung dan berfikir yang aneh-aneh. Apa celana dalamku itu sakti ya?……..

Batinku…”Celana dalam yang diberikan oleh ayahku sebelum aku pergi merantau. Aku pikir itu hanya celana dalam biasa ternyata celana dalam itu mempunyai suatu khasiat tertentu.”.

( Lho,,yang dibahas ko jadi CD ku,,bukankah kita semua sedang membahas CD nya marni..Penulis,,gmna niy??? ).

Oh, Ternyata CD ku TERTUKAR dengan CD nya marni..

dan masing-masing tidak mempersoalkan, tapi justru malah senang. Aku kira hanya aku saja yang berimajinasi dengan CDnya, ternyata cewek juga sama. Ataukah moment ini perlu dilanjutkan dengan pertempuran yang lebih seru? Ah..aku kan belum menikahinya.

Tapi tanpa menikah pun itu tak jadi masalah kita kan sama-sama suka.

lagipula nanti setelah lulus kuliahnya Marni akan segera kulamar. jadi tak apa apa toh. aku mendekatkan diri kepada Marni dan membisikkan halus ke telinganya, “Marni mau main?”.

Pasti si Marni Mau!

“Main apa mas?”, tanya nya polos


About this entry