Mbak Arnik ..

Tak lama setelah Mbak Arnik turun dari bus kota, aku juga

turun. Kemontokan pantat Mbak Arnik yang padat dan kenyala masih

terasa di batang penisku. Sesampainya di rumah oom-ku aku mencari

tempat untuk beronani menuntaskan hasratku yang terputus di bus kota.

Aku mengocok penisku sambil membayangkan menyetubuhi pantat montok

Mbak Arnik, seorang aktivis wanita PKS yang telah aku lecehkan dalam

bus kota siang ini. Dalam waktu beberap menit aku mengerang penuh

kenikmatansambil menyebut nama wanita PKS yg sintal itu. Seusai

menuntaskan hasratku timbul keinginananku untuk memburu wanita PKS

yang aku lecehkan dalam bus kota siang ini. Kebetulan oom-ku adalah

Kabag Personalia di Dephut Yogyakarta mungkin dari situ aku bisa

mendapatkan data tentang wanita PKS yang bersuamikan pegawai Dephut.

Aku beristirahat sejenak dalam kamar yang disediakan tanteku sebelum

sorenya aku menemui oom-ku untuk menanyakan nama Ari dari Dephut yang

saat ini sedang bertugas di Kalimantan. Aku memang berniat memburu wanita PKS yang

menjdai korban pelecehan seksualku di bus kota siang ini.

Sekitar jam 8 pagi esoknya, aku benar-
benar mencari alamat

rumah Mbak Arnik di Kotagede. Alamat rumah tersebut termasuk mudah

sehingga dalam waktu tidak terlalu lama aku berhasil menemukan rumah

wanita PKS ini. Dadaku berdebar keras ketika aku telah berad di depan

rumah Mbak Arnik, aku melihat Mbak Arnik sedang berada di teras

rumahnya. Perempuan aktivis PKS ini terlihat sedang membaca majalah

wanita Ummi sambil menggendong anak bungsunya yang pulas tertidur.

Ketika aku datang sambil memberi salam,
wanita PKS ini menjawab

salamku, menatapku dengan tatapan heran. Ketika aku mengaku dari

Dephut sambil menyodorkan bukti yang kuambil dari oom-ku baru, aku

dipersilahkan duduk di teras.

“Silahkan duduk dulu….Saya akan meletakkan anak saya di dalam “kata

Mbak Arnik

“Silahkan, Mbak ”
sahutku sambil tersenyum.

Jakunku bergerak turun naik melihat pantat mbak Arnik yang montok dan

bahenol bergoyang-
goyang saat dia berjalan masuk ke dalam rumah

sambil membawa anaknya. Jubah panjang warna biru muda yang dipakainya

saat ini, tak mampu menyembunyikan kemontokan pantat wanita PKS yang

sintal dan bahenol ini. Mataku melotot penuh nafsu dengan penis

mulai menegang, melihat goyangan pantat wanita PKS ini sebelum hilang

di balik pintu. Tidak lama aku menunggu karena beberapa menit

kemudian wanita PKS ini keluar lagi dengan wajah penuh tanda tanya.

Aku bersyukur ternyata wanita ini tidak mengenaliku sebagai pelaku

pelecehan seksual terhadapnya di bus kota kemarin siang.

“Maaf..mas ada apa yah?..tentang suamiku?” tanya Mbak Arnik .

Aku tersenyum menatap wajah ayu wanita PKS ini. Pagi ini Mbak

Arnik memakai jubah panjang warna biru muda dengan jilbab lebar warna

putih berenda sementara kakinya terbungkus kaus kaki warna krem.

Sesaat aku terpesona melihat kecantikan ibu muda berjilbab lebar ini.

“Maaf Mbak, ada berita yang ingin aku sampaikan tentang mas

Ari, namun apa ada orang lain di rumah ini karena beritanya mungkin

mengejutkan?” tanyaku

“Ya..ada..adik ipar perempuan saya namun sekarang sedang

mengantar kedua anak saya di TK dan Playgroup dan biasanya langsung

pergi kuliah serta kedua mertua saya namun keduanya juga sedang

mengajar di SMP dan baru pulang siang nanti. Ada berita apa?”
jawabnya

dengan nada cemas.

Aku mengangguk-
angguk puas sambil berdiri

” Ada musibah yang menimpa suami mbak, tapi sebaiknya aku

sampaikan di dalam saja, jangan di teras ” kataku seraya menepuk

pundak wanita PKS ini.

Mbak Arnik terlihat kaget ketika pundaknya aku tepuk namun

sedetik kemudian wanita PKS yang semula terlihat cerdas itu menjadi

nampak linglung dengan sorot mata bingung. Aku memang tengah

menggunakan ilmu gendam yang aku miliki pada wanita PKS ini dan

agaknya ilmu tersebut berpengaruh terhadapnya. Dengan menyeringai

puas aku menarik Mbak Arnik untuk berdiri lantas aku rangkul

pinggangnya yang masih ramping masuk ke dalam rumahnya. Di dalam

rumah Mbak Arnik, aku melihat rumah ini penuh dengan atribut Partai

Keadilan Sejahtera. Muali dari pintu ruang tamu yang tertempel stiker

PKS lantas di rak buku dalam ruang tamu tampak beberapa buku tentang

Partai berlambang bulan sabit ini, hingga yang paling mencolok adalah

lambang Partai Keadilan Sejahtera tergantung di dinding ruang tamu

dengan ukuran cukup besar. Benar-benar keluarga aktivis PKS yang

militan kataku dalam hati. Aku menatap wajah ayu Mbak Arnik yang

terbalut jilbab lebar dengan penuh nafsu. Tanganku yang memeluk

pinggang rampingnya tak tahan untuk menjamah pantat montoknya lantas

dengan gemas tangaku meremas-remasnya. Ibu muda aktivis PKS menjerit

kecil ketika dengan gemas aku meremas-
remas pantatnya yang bahenol

dan montok. Birahiku sudah mulai naik ke ubun-ubun, penisku juga

sudah mulai tegang dan mengeras. Aku mengunci pintu rumah Mbak Arnik

lantas wanita PKS yang masih berpakaian lengkap ini aku tarik masuk

ke dalam sebuah kamar, entah kamar siapa namun aku menduga kamar adik

ipar Mbak Arnik karena di meja kamar tersebut ada sebuah foto wanita

berjilbab lebar dalam bingkai namun wajahnya lebih mirip wajah

suaminya. Latar belakang foto tersebut lambang Partai Keadilan

Sejahtera, agaknya adik ipar yang kata Mbak Arnik masih kuliah ini

juga aktivis PKS.

Mbak Arnik hanya terdiam ketika tubuhnya aku rebahkan di

ranjang kamar adik iparnya sementara birahiku sudah naik hingga ke

ubun. Sungguh aku tak menyangka begitu mudahnya aku memperdaya Mbak

Arnik bahkan wanita PKS yang masih berpakaian lengkap dengan jilbab

lebar dan jubah panjangnya kini rebah terlentang di atas ranjang

depan mataku. Mataku melotot buas ketika kulihat tonjolan segitiga

pada bagian selangkangan Mbak Arnik yang tampak membukit pada jubah

yang dipakainya. Gundukan di tengah selangkangan yang tampak menonjol

membuat penisku terasa kian keras menegang oleh birahi dan aku tak

tahan mengulurkan tanganku meremas-
remas bukit kemaluan yang montok

tertutup jubah Mbak Arnik. Mbak Arnik tersentak ketika tanganku

meremas-remas bagian selangkangannya yang membukit, namun pengaruh

ilmu gendamku yang ampuh membuat wanita PKS ini tidak melawan. Tubuh

ibu muda yang alim ini hanya menggeliat-
geliat saat jubah yang

dipakainya menjadai kusut pada bagian selangkangan karena remasan

tanganku. Mulutnya mendesah-
desah dengan ekspresi yang membutaku

libidoku semakin terangsang. Aku terkekeh melihat gelinjangan Mbak

Arnik yang alim ini saat bagian selangkangannya aku remas-remas.

Puas meremas-remas tonjolan bukit kemaluan Mbak Arnik, mataku

memandang wanita PKS yang terlentang di atas ranjang ini dari ujung

kepalanya hingga ke kakinya. Ibu Muda aktivis PKS ini masih memakai

jilbab lebar warna putih yang berenda, jubah panjang warna biru muda

dan kaus kaki krem yang amsih membungkus kedua kakinya. Dengan birahi

menggelegak, aku naik ke atas ranjang di dekat kaki Mbak Arnik yang

terlentang. Sesaat kemudian, tanganku terulur meraih kedua kaki Mbak

Arnik yang masih terbungkus kaus kaki panjang warna krem. Hanya dalam

waktu beberapa detik tanganku menarik lepas kedua kaus kaki krem

tersebut dan aku lemparkan ke lantai kamar sehingga kaki wanita PKS

ini telanjang.. Mataku membesar ketika melihat kaki telanjang Wanita

PKS berkulit putih mulus ini yang indah putih kemerahan. Kakinya yang

halus dengan otot yang kebiruan terlihat sangat indah dan merangsang

nafsuku membuatku tergerak untuk mengelus-elusnya. Selanjutnya kedua

kaki Mbak Arnik yang telanjang itu aku angkat hingga di depan bibirku

lantas dengan bernafsu bibirku mencium kaki wanita PKS ini mulai dari

telapak kakinya yang halus kemerahan bahkan kemudian lidahku terjulur

menjilatinya. Dalam sekejap telapak kaki Mbak Arnik yang kemerahan

itu menjadi basah kuyup oleh jilatan lidahku dan ciuman bibirku. Kian

lama lidahku pun kian liar menjelajahi sela-
sela jemari panjang di

kaki Mbak Arnik yang halus kemerahan tersebut dengan nafas yang

memburu .

Aku kian asyik menjilati kaki wanita PKS ini terus ke atas

melewati mata kakinya. Sementara tanganku dengan nakal menggerayangi

betis wanita PKS di balik jubah panjangnya tersebut. Saat tanganku

menyusup di balik jubah Mbak Arnik, aku mengetahui ternyata wanita

PKS ini memakai rok dalam yang juga panjang hingga mata kaki.

Tanganku meraba-raba merasakan kemulusan betis Mbak Arnik yang masih

tertutup jubah tersebut. Sepasang betis wanita cantik aktivis PKS

yang kenyal ini terasa hangat dan lembut di tanganku yang mengelus-

elusnya penuh nafsu. Bibir dan lidahku pun kian liar menjilati

menikmati kemulusan kaki Mbak Arnik kian ke atas. Dengan bibirku aku

menyingkap ujung jubah yang dipakai wanita PKS ini ke atas sehingga

keindahan betisnya yang mulus mulai terlihat.Bibir dan lidahku terus

bermain di kulit Mbak Arnik yang halus ini dengan penuh nafsu. Betis

putih yang mulus dan ditumbuhi bulu-bulu nan halus ini dalam sekejap

basah kuyup oleh jilatan lidahku dan ciuman bibirku. Nafasku memburu

kian liar sementara ujung kain jubah yang dipakai Mbak Arnik kian

tersingkap ke atas memperlihatkan betis yang putih dan mulus

tersebut. Aku membungkuk menciumi dan menjilati kemulusan betis

telanjang ibu muda aktivis PKS yang berwajah cantik ini, sementara

tanganku menyusup di balik jubahnya kian ke atas mengelus pahanya

yang bulat padat tersebut.

Sekujur betis putih Mbak Arnik yang mulus telah basah oleh

jilatan dan ciumanku dengan birahi menggelegak. Ujung jubah biru muda

yang dipakai ibu muda berjilbab pun tersingkap semakin ke atas,

terdorong oleh bibir dan lidahku. Perlahan-lahan sepasang paha putih

wanita PKS ini mulai terlihat bersamaan dengan jilatan dan ciumanku

yang mulai merambah paha Mbak Arnik. Aku makin bernafsu merasakan

kemulusan paha putih yang kencang dan bulat padat tersebut. Nafasku

terengah-engah menahan birahiku sambil terus menciumi sekujur paha

Mbak Arnik yang mulus tersebut. Sepasang paha yang selalu tertutup

oleh pakaian panjang tersebut kini menjadi basah oleh jilatan lidahku

yang semakin liar. Ujung jubah yang dipakai Mbak Arnik kian

tersingkap ke atas yang akhirnya dengan bantuan kedua tanganku,

pakaian panjang tersebut aku singkap hingga pinggang membuat bagian

bawah tubuh wanita PKS kini telanjang. Aku melotot penuh nafsu

melihat pemandangan yang menggiurkan di depanku ini dan aku nyaris

tak percaya. Seorang ibu muda alim berjilbab dan selalu berpakaian

tertutup kini dalam keadaan setangah telanjang. Perempuan cantik

berjilbab aktivis Partai Keadilan Sejahtera yang semula berpakaian

panjang hingga mata kaki, saat ini pakaian tersebut tersingkap hingga

ke pinggangnya. Bagian atas wanita PKS ini masih nampak rapi dengan

jilbab lebar yang membalut wajahnya, namun paha dan betisnya yang

putih mulus menggiurkan kini telanjang tanpa penutup. Aku mengakui

rumor yang beredar bahwa para wanita berjilbab lebar seperti Mbak

Arnik ini memang mempunyai tubuh yang lebih putih dan lebih mulus

dibanding wanita lainnya. Semula aku mengira kemulusan Mbak Arnik ini

seperti pacarku yang juga berkulit putih ,
namun saat ini aku

mengakui kalau wanita PKS ini terlihat lebih mulus dan putih

dibanding pacarku.

Usai menciumi dan menjilati betis dan paha Mbak Arnik, mataku

tak berkedip memandang tonjolan di tengah selangkangan Mbak Arnik

yang montok membukit. Aku melihat kemaluan aktivis wanita PKS ini

masih tertutup oleh celana dalam krem dengan ketat. Libidoku kian

terasa liar melihat gundukan kemaluan Mbak Arnik yang menonjol

menggiurkan. Beberapa saat lalu, nafsuku telah terangsang melihat

gundukan montok di selangkangan wanita PKS ini saat terlentang namun

jubahnya belum tersingkap. Bahkan saat itu dengan gemasnya aku

meremas-remas gundukan kemaluan yang membukit itu, sehingga jubah

tersebut menjadi kusut pada bagian selangkangan. Saat ini aku melihat

gundukan kemaluan montok tersebut hanya tertutup oleh celana dalam

warna krem yang agak tipis, sehingga belahan bibir kemaluannya nampak

jelas terbayang bahkan kelentit yang menonjol di antara bibir

kemaluan wanita PKS ini terlihat sangat jelas. Bulu-bulu kemaluannya

yang hitam juga tampak membayang jelas pada celana dalam yang dipakai

Mbak Arnik saat ini. Sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan dan

ada sebuah sensasi sendiri saat aku berhasil melihat bagain vital

seorang wanita aktivis PKS yang cantik seperti Mbak Arnik walaupun

masih tertutup celana dalam. Tanganku memang telah merasakan

kekenyalan bukit kemaluan Mbak Arnik, saat aku remas-remas sebelumnya

tetapi ketika kulihat bentuknya ternyata sangat merangsang birahiku.

Aku memperhatikan wajah Mbak Arnik yang terlentang di depanku

ini. Wajah ayu berbalut jilbab lebar itu tak lagi terlihat linglung

seperti beberpa saat yang lalu. Wajah ibu muda aktivis PKS ini justru

memperlihatkan ekspresi wanita yang tengah terlanda birahi. Aku

menyeringai sejenak sebelum kemudian membenamkan wajahku di tengah

selangkangan Mbak Arnik yang terasa hangat. Hidungku mencium bau

kewanitaan Mbak Arnik yang segar dan wangi, jauh sekali perbedaannya

dibanding bau kewanitaan pacarku. Aku semakin mendekatkan wajahku ke

arah bukit kemaluan Mbak Arnik, bahkan hidungku telah menyentuh

kelentit yang tampak tercetak jelas pada celana dalam. Dengan nafas

yang terengah-engah menahan birahi, lidahku terjulur menjilati

kelentit yang menonjol di antara bibir kemaluan wanita PKS ini. Saat

lidahku mulai menyapu kelentit Mbak Arnik di balik celana dalam warna

krem itu, tiba-tiba pinggul wanita PKS ini menggelinjang dibarengi

desahan ibu muda berjilbab ini.

“Ahh…
ahhhhh..ahhh”desah Mbak Arnik yang membuat libidoku

semakin menggelegak.

Aku semakin bernafsu menjilati dan menciumi bukit kemaluan

Mbak Arnik yang masih tertutup celana dalam. Setiap kali lidahku

menyapu permukaan kemaluan Mbak Arnik atau bibirku menciumnya dengan

penuh nafsu, wanita PKS berkulit putih ini menggelinjang dan mendesah-

desah penuh birahi. Lidah dan bibirku seakan berebut merambah sekujur

permukaan bukit kemaluan Mbak Arnik yang masih tertutup celana dalam,

sehingga beberapa saat kemudian celana dalam yang dipakai wanita PKS

ini menjadi basah kuyup. Celana dalam yang dipakai Mbak Arnik

termasuk tipis, sehingga ketika celana dalam wanita tersebut dalam

keadaan basah kuyup oleh jilatan lidahku,
semakin terlihat jelas

kemaluan wanita PKS ini. Belahan bibir kemaluan Mbak Arnik dengan

kelentit yang menonjol di tengahnya, terlihat semakin nampak jelas.

Bulu-bulu kemaluan yang tercukur rapi di bukit kemaluan ibu muda ini

juga terlihat semakin jelas. Melihat pemandangan indah di

selangkangan Mbak Arnik, aku menjadi tak sabar sehingga sedetik

kemudian tanganku telah menarik turun celana dalam yang dipakai

wanita cantik aktivis PKS yang alim ini. Sekejap kemudian celana

dalam berwarna krem yang semula menutupi bagian vital Mbak Arnik,

telah teronggok di bawah kakinya. Mataku melotot lebar melihat

selangkangan wanita PKS yang alim ini, kini telanjang tanpa penutup

sehelai benangpun.

“Ouhhhh….Mbak Arnik……”
desisku melihat gundukan bukit kemaluan

Mbak Arnik yang kini tak lagi tertutup celana dalam tersebut.

Libidoku menggelegak melihat bagian paling pribadi wanita

alim ini. Aku membandingkan kemaluan Mbak Arnik dengan kemaluan

pacarku. Aku mendapat kemaluan wanita PKS ini jauh lebih merangsang

daripada kemaluan pacarku sendiri. Bibir kemaluan Mbak Arnik terlihat

merekah kemerahan dengan kelentit menonjol kemerahan di tengahnya.

Bulu-bulu kemaluan yang hitam legam tercukur dengan rapi,
tampak

kontras dengan putihnya bukit kemaluan wanita PKS ini. Ketika wajahku

mendekat kemaluan yang telanjang tersebut, bau kewanitaan Mbak Arnik

yang menyengat tercium di hidungku. Aku melihat kemaluan Mbak Arnik

sudah basah oleh rangsanganku sebelumnya, bahkan ketika aku

menguakkan bibir kemaluan wanita PKS ini cairan kenikmatan nya jatuh

menetes membasahi sprei.

Aku menjadi sangat terangsang melihat hal ini. Dengan

bernafsu, aku menghirup dan menjilati cairan kenikmatan Mbak Arnik

yang menetes dari kemaluannya. Lidahku merasakan asin saat lidahku

menjilati cairan kenikmatan Mbak Arnik, lantas dengan birahi yang

kian menggelegak lidahku menyapu kemaluan telanjang di antara paha

wanita alim ini. Aku merasa pahan Mbak Arnik bergetar lembut ketika

lidahku mulai menjalar mendekati selangkangan wanita PKS ini. Mbak

Arnik menggeliat kegelian ketika akhirnya lidahku itu sampai di

pinggir bibir kewanitaannya yang telah terasa menebal. Ujung lidahku

menelusuri lepitan-
lepitan di situ, menambah basah segalanya yang

memang telah basah itu. Terengah-engah, Mbak Arnik mencengkeram

rambutku dengan satu tangan, perlahan menekan, memaksaku segera

menjilat di daerah yang paling sensitif milik aktivis wanita PKS

inbi.Mbak Arnik menggelinjang-
gelinjang hebat ketika lidah dan

bibirku menyusuri sekujur kemaluan ibu muda ini. Mulut wanita aktivis

PKS ini mendesah-
desah dan merintih-
rintih saat bibir kemaluannya aku

kuak lebar-lebar dan lidahku terjulur masuk menjilati bagian dalam

kemaluannya. Bahkan ketika lidahku menyapu kelentit Mbak Arnik yang

telah mengeras itu, aku teruskan dengan menghisapnya lantas

mengigitnya lembut. Mbak Arnik merintih hebat. Tubuhnya mengejang

sampai punggungya melengkung bagaikan busur panah membuat dadanya

yang montok membusung.

“Ahhhhh….ahhhhhh�
��.ahhhhh”rintih Mbak Arnik dengan jalangnya

disertai tubuh yang menggelinjang.

Kembali kurasakan cairan kenikmatan membasahi kemaluan wanita

aktivis PKS ini yang segera aku hirup dengan mulutku. Lidah dan

bibirku makin liar menjilati di daerah paling pribadi Mbak Arnik yang

kini sudah membengkak kemerahan. Gundukan kemaluan yang putih kemrah-

merahan itu menjadi berjilat-kilat basah dan bulu-bulu kemaluan

wanita PKS yang tercukur rapi pun menjadi busuh kuyup oleh jilatan

lidahku. Aku mengunyah-
ngunyah kemaluan Mbak Arnik beberapa saat yang

membuat ibu muda berjilbab lebar ini mengerang dan merintih dengan

tubuh menggelinjang jalang. Lidahku menyusuri belahan kemaluan yang

telah membengkak lantas sekujur permukaan kemaluan yang membukit

montok hingga ke sela-sela kedua pahanya, kemudian menyusuri ke bawah

hingga ke belahan pantat yang tampak.

Aku menjadi semakin gemas melihat belahan pantat Mbak Arnik

yang terlihat sebagian, sehingga dengan bernafsu aku membalikkan

tubuh wanita PKS yang terlentang menjadi tengkurap.Mataku melotot

liar melihat pemandangan indah setelah Mbak Arnik tengkurap. Pantat

wanita PKS yang montok dan telanjang tampak menggunung menggiurkan.

Nafasku terengah penuh birahi memandang kemontokan pantat bundar Mbak

Arnik yang putih mulus itu. Ingatanku melayang saat aku melakukakn

pelecehan seksual terhadap wanita PKS ini di bus kota. Saat itu

penisku yang tegang dan masih dalam celanaku aku gesek-
gesekkan pada

belahan pantat Mbak Arnik yang saat itu juga masih tertutup jubah

panjang. Aku tidak menduga kalau saat ini, pantat wanita PKS yang

montok itu dapat aku nikmati tanpa penutup sehelai benangpun.

Birahiku kian menggelegak liar melihat pantat Mbak Arnik yang montok

dan padat. Dengan gemas aku meremas-remas bukit pantatnya dengan

tanganku lantas aku mendekatkan wajahku pada belahan pantat wanita

PKS ini. Lidahku terjulur menyentuh belahan pantatnya kemudian dengan

bernafsu aku mulai menjilati belahan pantatnya yang putih mulus

tersebut. Mbak Arnik mendesah-
desah dengan tubuh menggelinjang

menahan birahinya, saat lidahku menyusuri belahan pantatnya hingga

belahan kemaluannya yang kemerahan. Belahan pantat mulus Mbak Arnik

yang putih dalam sekejap menjadi basah berkilat oleh jilatan lidahku.

Kemudian bibir dan lidahku secara bergantian menyusuri sekujur

pantatnya yang menggunung indah bahkan dengan gemas aku mengunyah

pantat montok wanita PKS ini. Tanganku juga menguak belahan pantat

ibu muda ini dan selanjutnya lidahku menyapu daerah anus dan

sekitarnya yang membuat Mbak Arnik mengerang penuh birahi.

Puas menikmati pantat Mbak Arnik yang montok, aku kembali

menelentangkan ibu muda berjilbab lebar ini. Mataku terarah pada

sepasang payudara montoknya yang amsih tersembunyi di balik jilbab

dan jubah yang dipakai Mbak Arnik. Tanganku meraih jilbab lebar

tersebut lantat menyingkapan hingga ke lehernya, kemudian dengan

lincah jari-jari tanganku membuka kancing jubah yang dipakai Mbak

Arnik. Perlahan kemudian kulit mulus Mbak Arnik yang mulus terlihat

dan ketika kancing jubah yang hanya sampai atas perutnya terbuka

seluruhnya, tanganku merogoh ke balik jubahnya lantas menarik

sepasang payudara Mbak Arnik. Akhirnya sepasang payudara wanita PKS

yang semula tersembunyi di balik BH, tersembul keluar dengan puitng

susunya yang telah tegak mengeras. Buah dada Mbak Arnik nampak sangat

montok dan indah. Buah dada yang putih mulus dengan puting susu yang

kemerahan membuatku tak sabar untuk mengunyahnya. Sedetik kemudian,

payudara wanita PKS ini telah berada dalam mulutku yang menngunyah-

ngunyahnya dengan nafsu secra bergantian. Puting susu yang telah

tegak mengeras aku hisap dan aku gigit-
gigit membuat Mbak Arnik

terpekik kecil menahan kenikmatan birahinya. Payudara Mbak Arnik yang

putih mulus itu dalam sekejap basah dan penuh dengan bilur-bilur

kemerahan bekas kunyahanku.

Aku sudah tak tahan menahan nafsuku. Jilbab lebar yang

dikenakan Mbak Arnik aku lepaskan sehingga tergerai rambutnya yang

hitam legam. Aku terpesona melihat kecantikan Mbak Arnik yang tidak

lagi berjilbab tersebut.Wajah cantik wanita PKS ini semakin menawan

dengan rambut hitam yang panjang ikal mayang mebuat hatiku bergetar.

Puas menikmati kecantikan PKS ini aku melucuti jubah biru yang

dikenakan Mbak Arnik kemudian disusul sisa pakaian dalam yang masih

melekat di tubuh ibu muda ini. Akhirnya tubuh wanita aktivis PKS yang

semula tertutup rapat dengan jilbab lebar serta jubah panjangnya,

saat ini telanjang bulat tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Aku

tidak menyangka kalau saat ini aku berhasil menelanjangi wanita PKS

yang tampak alim ini dengan jilbab dan pakaian yang tertutup rapat.

Birahiku sudah menggelegak di ubun-
ubun dengan penis yang tegang

mengeras. Aku melihat ibu muda aktivis PKS ini mempunyai tubuh yang

indah dan terlihat masih kencang walaupun dia sudah punya anak

tiga.Aku menyusuri keindahan tubuh telanjang wanita PKS ini dari

ujung rambut hingga ke kakinya.Kemudian mataku kembali menatap

kemaluan Mbak Arnik yang indah itu, tangaku kembali terulur menjamah

bagian kewanitaan wanita alim yang telanjang ini.

Aku merasakan kewanitaan Val berdenyut liar, bagai memiliki

kehidupan tersendiri. Warnanya yang merah basah, kontras sekali

dengan rambut-rambut hitam di sekitarnya, dan dengan tubuhnya yang

putih seperti pualam. Dari jarak yang sangat dekat, aku dapat melihat

betapa liang kewanitaan aktivis wanita PKS ini membuka-menutup dan

dinding-dindingnya berdenyut-denyut, sepertinya jantung Mbak Arnik

telah pindah ke bawah. Aku juga bisa melihat betapa otot-
otot di

pangkal paha Mbak Arnik menegang seperti sedang menahan sakit. Kedua

kakinya terentang dan sejenak kaku sebelum akhirnya melonjak-lonjak

tak terkendali. Begitu hebat puncak birahi melanda Val, sampai dua

menit lamanya perempuan yang menggairahkan ini bagai sedang dilanda

ayan. Ia menjerit, lalu mengerang, lalu menggumam, lalu hanya

terengah-engah.

Aku kembali berdiri, dan segera melepas seluruh kain yang melekat

di tubuhku termasuk celana dalamku. Batang kejantananku segera

terlihat tegak bergerak-gerak seirama jantungku yang berdegup keras.

Mbak Arnik masih menggeliat-geliat dengan mata terpejam,
menampakkan

pemandangan sangat seksi di atas ranjang kamar adik iparnya

ini.Tangan aktivia wanita PKS ini mencengkram sprei bagai menahan

sakit, kedua pahanya yang indah terbuka lebar, kepalanya mendongak

menampakkan leher yang mulus menggairahkan, rambut hitamnya terurai

bagai membingkai wajahnya yang sedang berkonsentrasi menikmati puncak

birahi. Aku menempatkan dirinya di antara kedua kaki Mbak Arnik, lalu

mengangkat kedua paha wanita PKS ini, membuat kewanitaannya semakin

terbuka.

Tanpa aku duga sama sekali, tiab-tiba tangan Mbak Arnik meraih

penisku dan segera menuntun batang kejantananku memasuki gerbang

kewanitaannya. Tak sabar, wanita PKS ini menjepit pinggangku dengan

kedua kakinya, membuat tubuhku terhuyung ke depan, dan dengan cepat

penisku yang tegang segera melesak ke dalam tubuh Mbak Arnik melalui

liang kemaluannya. Bagiku, rasanya seperti memasuki cengkraman licin

yang panas berdenyut. Akupun segera melakukan tugasku dengan baik,

mendorong, menarik kejantananku dengan cepat. Gerakanku begitu ganas

dan liar, seperti hendak meluluh-
lantakkan tubuh putih Mbak Arnik

yang sedang menggeliat-geliat kegelian itu. Tak kenal ampun, batang

penisku menerjang-
nerjang, menerobos dalam sekali sampai ke dinding

belakang yang sedang berkontraksi menyambut orgasme. Wanita alim

aktivis PKS ini merintih dan mengerang penuh kenikmatan.

Aku mengerahkan seluruh tenaganya menyetubuhi wanita PKS yang

alim ini. Otot-otot bahu dan lenganku terasa menegang dan terlihat

berkilat-kilat karena keringat. Pinggangku bergerak cepat dan kuat

bagai piston mesin-
mesin di pabrik. Suara berkecipak terdengar setiap

kali tubuhnya membentur tubuh Mbak Arnik, di sela-sela derit ranjang

yang bergoyang sangat keras. Mbak Arnik merintih dan mengerang begitu

jalang merasakan kenikmatan yang ganas dan liar. Seluruh tubuhnya

terasa dilanda kegelian, kegatalan yang membuat otot-
otot menegang.

Kewanitaannya terasa kenyal menggeliat-
geliat, mendatangkan

kenikmatan yang tak terlukiskan. Dengan mata terus terpejam, Mbak

Arnik mengerang dan merintih penyerahan sekaligus pengesahan atas

datangnya puncak birahi yang tak terperi. Aku merasakan batang

kejantananku bagai sedang dipilin dan dihisap oleh sebuah mulut yang

amat kuat sedotannya.

Aku tak mampu menahan lagi, Kenikamtan yang kudapatkan dari

jepitan kemaluan wanit alim ini tidak mungkin aku lukiskan. Dengan

geraman liar aku memuncratkan seluruh isi penisku dalam liang vagian

Mbak Arnik, bercipratan membanjiri seluruh rongga kewanitaan wanita

PKS yang juga sedang megap-megap dilanda orgasme sepertiku. Mbak

Arnik mengerang merasakan siraman birahi panas dari ujung penisku

dalam dasar kemaluannnya. Aku merasakan jepitan Mbak Arnik kian ketat

berdenyut-denyut pada batang penisku dan cairan kewanitaan wanita

alim ini terasa mengguyur batang penisku datang bergelombang. Aku

menggeram liar disusul Mbak Arnik yang mengerang dan mengerang lagi,

sebelum akhirnya terjerembab dengan tubuh bagai lumat di atas kasur.

Aku menyusul roboh menimpa tubuh putih Mbak Arnik yang licin oleh

keringat itu. Nafasku tersengal-
sengal ditingkahi nafas Mbak Arnik

yang juga terengah bagai perenang yang baru saja menyelesaikan

pertandingan di kolam renang. Tubuhku lunglai di atas tubuh telanjang

Mbak Arnik yang juga lemas.

“Oh, nikmat sekali. Betul-betul ganas…�
�� kata Mbak Arnik

akhirnya, setelah ia berhasil mengendalikan nafasnya yang memburu.

Matanya terpejam dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Aku cuma

menggumam, menenggelamkan kepalaku di antara dua payudara Mbak Arnik

yang besar dan lembut.Aku melihat Mbak Arnik masih terpengaruh oleh

sihir gendam yang aku gunakan, walaupun wanita PKS ini telah aku

setubuhi. (Tamat)


About this entry