Mba’ Atun yang Hot

mengalihkan persaannya dengan membaca,
tetapi tetap saja tidak dapat hilang. Sebagai seorang
yang ingin taat terhadap suami, ia malu untuk
mangakui, bahwa sebenarnya tanpa disadari, dia
terangsang oleh pemandangan tadi. Akhirnya Mbak tun
putuskan untuk mandi dengan air dingin untuk
menyegarkan badan dan pikirannya. Cepat-cepat Mbak tun
masuk ke kamar mandi dan mandi.

Pada saat mandi kembali Mbak tun teringat pemandangan
yang tadi ia lihat. Mengingat kontol pak Bagus yang
besar tadi, birahinya meninggi. Ia secara tak sadar
melamun, membayangkan bagaimana jika kontol pak Bagus
yang besar tadi menyodok-nyodok tempiknya. Dibawah
guyuran air shower, ia terus membayangkan angan yang
mengundang birahi tadi, sampai tanpa sadar ibu muda
yang alim ini mulai meraba-raba payudaranya sendiri
dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya
menggosok-gosok tempiknya, lalu memasukkan dua jari
lentiknya ke dalam tempiknya.

Desahan seperti kesakitan dan kenikmatan mulai
terdengar dari bibirnya yang tipis dan menggairahkan.
Tapi ditengah-tengah masturbasinya, tiba-tiba wanita
alim ini sadar dan merasa malu pada dirinya sendiri.
Ia merasa sudah mengkhianati suaminya. Ia segera
menghentikan masturbasinya, meskipun sebenarnya dia
sudah sangat terangsang. Dalam keadaan telanjang bulat
di bawah guyuran shower, ia kembali menyesali
perbuatannya, walaupun deru birahi masih terus saja
menderanya. Segera ia mengambil pisau cukur. Suaminya
sangat menyukai kalau tempik Mbak tun bersih, dan wanita
yang selalu berpakaian rapat tertutup dengan jilbab
yang lebar ini sangat menginginkan seks malam ini.

Mbak tun segera melumuri tempiknya dengan shafing cream,
agar tidak terasa sakit. Saat ia melumuri shaving
cream ke tempiknya, kenikmatan itu datang lagi. Tanpa
sadar, selama mencukur rambut di tempiknya, tangan kiri
Mbak tun kembali meremas-remas payudaranya sendiri.
Sementara tangan kanannya mulai mencukur bulu
kemaluannya pelan-pelan sampai habis.

Setelah selesai mencukur bulu kemaluannya sampai
habis, dengan mata yang mulai terpejam menahan
kenikmatan, Mbak tun mulai memasukkan gagang pisau cukur
itu ke dalam tempiknya dan menggerak-gerakkann ya keluar
masuk perlahan-lahan. tempik Mbak tun terasa panas dan
nikmat saat wanita alim ini menyentuhnya. Angannya
masih terpaku pada kontolbesar milik pak Bagus yang
tadi dilihatnya, yang sekarang sedang ia bayangkan
menyodok-nyodok tempiknya. akhirnya lima menit kemudian
tubuh putihnya tiba-tiba mengejang, kakinya menekuk
dan dadanya membusung memperlihatkan kedua payudaranya
yang putih bersih mengacung tegak dengan puting susu
yang mencuat keluar, menandakan bahwa wanita alim ini
sudah sangat terangsang.

Mbak tun mengeluarkan erangan yang tertahan sambil tangan
kanannya terus menggosok tempiknya, dan tangan kirinya
menjepit puting susunya sendiri. Akhirnya Mbak tun
mengalami orgasme yang luar biasa. Tubuh Mbak tun kaku
merasakan kenikmatan luar biasa yang menjalar di
seluruh tubuhnya, dan cairan tempik wanita berjilbab
yang berkulit putih ini mengalir keluar dengan
derasnya. Mbak tun tidak dapat menutupi kenikmatan yang
dirasakannya saat itu, sehingga wanita lugu ini pun
mengeluarkan suara mendesah yang keras. Bahkan dia
lupa bahwa kamar mandinya bersebelahan dengan tempat
yang akan dijadikan dapurm dimana sekarang sedang
bekerja pak Bagus bersama 2 temannya, sehigga
memungkinkan mereka mendengarnya.

Belum pernah sebelumnya Mbak tun mengalami orgasme
sehebat itu saat ia bermain cinta bersama suaminya.
Ternyata Mbak tun memang terangsang berat melihat tongkol
besar pak Bagus.

Setelah mengalami orgasme, Mbak tun jatuh terduduk di
lantai kamar mandi, terdiam kecapaian. Kesadarannya
perlahan mulai kembali lagi dan rasa bersalah kembali
datang. Kedua kakinya tertekuk dan mengangkang lebar
memperlihatkan tempiknya yang basah kuyub dilumuri
cairan tempiknya, sudah licin mengkilat tanpa ada bulu
kemaluannya sehelai pun sehabis dicukur. Tubuh yang
putih dan montok dan biasanya tertutup jilbab ini
masih sejenak mengajang, menikmati sisa-sisa gelombang
orgasmenya. Mbak tun menyesal karena melakukan
masturbasi, dan juga malu karena wanita berjilbab yang
berkulit putih ini justru masturbasi dengan
membayangkan orang lain, dan bukan suaminya. Namun
Mbak tun juga tidak dapat menutupi kenikmatan luar biasa
yang baru saja dirasakannya.

Setelah kekuatannya telah terhimpun, Mbak tun baru sadar
Mbak tun tidak membawa handuk karena tadi terburu-buru,
sedangkan jubah dan jilbab yang Mbak tun kenakan sudah ia
basahi dan penuh sabun karena telah ia rendam. Mbak tun
bingung, namun akhirnya wanita alim yang lugu ini
memutuskan untuk berlari saja ke kamar tidur, toh
jaraknya dekat dan para tukang bangunan ada di halaman
belakang dan pintunya tertutup. Mbak tun yakin mereka
tidak akan melihat, dan Mbak tun pun mulai berlari ke
arah kamar Mbak tun yang pintunya terbuka.

Namun baru Mbak tun akan masuk ke kamar, tubuh ibu muda
berjilbab yang alim ini menabrak sesuatu hingga
terjatuh. Dan alangkah terkejutnya, ternyata yang
Mbak tun tabrak itu adalah Pak Bagus. “Maaf Mbak.., tadi
saya cari Mbak Mbak tun tapi Mbak Mbak tun nggak ada di
kamar. Baru saya mau keluar, eh mbak Mbak tun nabrak
saya..” katanya dengan santai karena belum kalau Mbak tun
sedang telanjang bulat. Saat dia sudah menyadarinya,
langsung saja matanya melotot dan di bibirnya muncul
senyuman liar. Tapi Mbak tun saat itu tidak melihatnya.

Perlu diketahui, Mbak tun tidak pernah lupa merawat
tubuhnya walaupun selalu memakai jubah yang rapat dan
jilbab lebar. Dengan rambut yang terpotong rapih
seleher, Ia mempunyai kulit yang sangat putih mulus
dan terawat. walau tidak terlalu tinggi (162 cm),
namun tubuh Mbak tun sangat proposional dengan dua buah
payudara berukuran 34C yang sedikit kebesaran
dibandingkan ukuran tubuhnya. Kulit payudaranyapun
tidak kalah putih mulus sampai2 urat-urat kebiruan
terlihat di payudaranya. Apalagi itu ditunjang dengan
wajahnya bulat pipi gembil yang putih bersih dan cantik.

Mbak tun begitu malu berusaha bangkit sambil mentupi dada
dan bagian bawah nya. wanita yang selalu berpakaian
rapat tertutup dengan jilbab yang lebar ini sangat
shock, karena selama ini dia tidak pernah
memperlihatkan bagian tubuhnya yang tidak tertutup
jilbab dan jubah kecuali pada suaminya. Tapi sekarang,
pak Bagus justru bisa menikmati setiap jengkal tubuh
putih mulusnya yang tanpa sehelai benangpun. ia segera
berdiri dan berusaha berlari, namun Pak Bagus segera
menangkap kedua tangan Mbak tun dan berkata, “Nggak usah
malu Mbak.., tadi Mbak juga udah ngeliat punya saya,
saya nggak malu kok..” “Jangan Pak..!” kata wanita
alim ini, namun pak Bagus menyeringai dan segera kedua
tangannya yang sudah dituntun nafsu birahi secepat
kilat maju.

Tangan kanannya dengan buasnya telah meremas-remas
kedua payudara Mbak tun dan memelintir – pelintir dua
buah putingnya yang berwarna kemerahan bergantian.
wanita alim yang lugu dan berkulit putih ini mulai
menggelinjang tanpa mampu menahannya. Tangan kiri pak
Bagus meremas tempik Mbak tun dan dua jarinya langsung
masuk jauh ke dalam tempik wanita alim yang lugu ini.
wanita alim ini terkejut dan mengalami sensasi yang
belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan suaminya
belum pernah menyentuhnya seperti itu. Rasa malu,
marah, namun juga terangsang yang bercampur menjadi
satu menimbulkan sensasi yang aneh dalam tubuh wanita
yang selalu menjaga tubuhnya itu. Ternyata Pak Bagus
sangatlah ahli dalam merangsang seorang wanita,
terlebih lagi Mbak tun tidak pernah menerima rangsangan
seperti itu sebelumnya. Biasanya dia dan suaminya
hanya “langsung tancap” tanpa banyak pemanasan,
sehingga wanita ini seringkali tidak mencapai orgasme
yang maksimal.

Mbak tun tersentak saat merasakan ada sesuatu masuk
tempiknya. Wanita yang selalu mengenakan jilbab ini
ingin berteriak, tetapi tiba-tiba, dangan terus
menyeringai jahat, pak Bagus mengocok-kocokkan dan
memutar-mutarkan jarinya didalam tempik Mbak tun, yang
membuat wanita ini merasa langsung kehilangan tenaga.
Mbak tun mulai kehilangan kendali tubuhnya. wanita yang
biasanya selalu berpakaian rapat tertutup dengan
jilbab yang lebar ini mulai menggelinjang. Ia
memejamkan matanya sambil menggigit bibir indahnya
kuat-kuat. wanita alim yang berkulit putih ini tidak
ingin suara desahannya keluar, karena selain karena
menjaga martabatnya, itu juga akan membuat pak Bagus
tahu kalau dia juga menikmatinya. Namun akhirnya,
“ehhhmmhh…eehhhmmmmh hh……” Mbak tun tak
mampu menahannya. Mulutnya terbuka dan mulai
merintih-rintih keenakan. Jari-jari pak Bagus
mengaduk-aduk seluruh bagian yang sensitif di dalam
tempik Mbak tun tanpa ada yang tersisa satu milipun. Hanya
rasa nikmat yang menyelubungi seluruh perasaannya.
Keringat mulai membanjiri tubuh telanjang wanita alim
lugu yang putih mulus itu dan tanpa sadar, tangan yang
semula berusaha untuk menjauhkan tangan binal pak
Bagus justru naik ke pundak pak Bagus, memegang pundak
itu erat, seolah tidak ingin melepaskan kenikmatan
yang sedang Mbak tun rasakan. wanita berjilbab yang
berkulit putih ini terus mengerang-erang penuh
kenikmatan. Ia sudah tidak bisa mengendalikan
tubuhnya, dan hanyut dalam kenikmatan yang pak Bagus
berikan.

Sekitar sepuluh detik pak Bagus memperlakukannya
seperti itu. Mbak tun dengan tenaga terakhirnya berusaha
berontak, dan berhasil memutarkan tubuhnya
membelakangi pak Bagus. Namun itu justru memudahkan
pak Bagus. Setelah mampu memeluk Mbak tun dari belakang,
kembali dia meremas-remas payudara gadis berjilbab
yang tidak tertutupi apapun, sementara tangan kirinya
kembali mengocok-kocokkan jarinya ke tempik Ibu muda
berjilbab lebar ini dengan kecepatan yang terus
meningkat. Seluruh kekuatan wanita alim ini hilang
sudah, terganti dengan kenikmatan yang tak seharusnya
ia nikmati. Mbak tun terus mengerang-erang menahan
nikmat. Air matanya meleleh di pipinya yang putih. Air
mata penyesalan karena ia tidak mampu menahan
kenikmatan yang diberikan oleh dua jari pak Bagus, dan
air mata malu, mengingat statusnya sebagai seorang
wanita muslimah yang taat. Akhirnya dengan diringi
desahan panjang, badan Mbak tun mengejang,
tersentak-sentak dan bergetar dengan hebat. kedua
kakinya yang putih mulus dirapatkan erat sekali
menjepit tangan pak Bagus seolah tidak ingin
melepaskan setetespun kenikmatan. Kenikmatan yang
lebih dahsyat daripada yang baru saja Mbak tun rasakan
bersama pisau cukur, di dalam kamar mandi. Menyemprot
keluar lagilah cairan kental putih yang menetes dengan
derasnya dari dalam lubang tempiknya membasahi paha
putih wanita alim yang lugu ini, dan terus mengalir
deras sampai memercik di lantai ruang tengah itu.
Untuk beberapa saat, Mbak tun terus saja mengejang
menikmati orgasme dahsyatnya di pelukan pak Bagus.
Setelah kesadarannya pulih, dengan lunglai Mbak tun
terhuyung, dan bersandar ke kursi di dekatnya. Pak
Bagus, masih menyeringai, menjilati jarinya yang basah
kuyub tersiram cairan tempik milik Mbak tun.

Untuk beberapa saat, Mbak tun merasa tubuhnya tak bisa
bergerak lagi. Namun tiba-tiba, ia menyadari bahwa pak
Bagus sudah melepas celananya, mulai mendekatinya.
Dengan rasa ketakutan, Mbak tun segera menghindarinya dan
berlari masuk kamar. Sampai di kamar, ia segera
menguncinya dan menjatuhkan diri ke kasur, menangis
sejadi-jadinya. Dia menangis karena malu terhadap
dirinya sendiri dan suaminya, karena marah terhadap
pak Bagus, dan terlebih lagi marah terhadap dirinya,
yang tidak bisa mengendalikan diri dan malah menikmati
perlakuan pak Bagus. Ia menangis sejadi-jadinya.

Sekitar satu jam, setelah tangisnya agak mereda,
segera ia memakai baju jubah hijau terusan dan jilbab
putih yang lebar, yang tersampir di pintu kamarnya. Ia
tidak mengenakan celana dalam dan BH, karena celana
dalam dan Bhnya semua diletakkan di almari di kamar
belakang, yang tidak mungkin diambilnya tanpa membuka
pintu kamar tidur. Segera ia menjatuhkan diri ke kasur
lagi, dan kembali menangis. Ia bersumpah akan
melaporkan tindakan pak Bagus tadi ke suaminya, sampai
akhirnya dia tertidur.

Tiba-tiba, Mbak tun yang tidur terlentang bangun karena
merasa ada seseorang yang meremas-remas tempiknya dari
luar jubahnya. Saat wanita berjilbab yang berkulit
putih ini membuka mata, ia kembali melihat pak Bagus
yang menyeringai sambil terus menggerayangi tempiknya.
Ternyata pak Bagus berhasil menemukan kunci cadangan
yang berada di dalam lemari pakaian di kamar belakang.
“wah, ternyata mbak Mbak tun tambah cantik kalo pake
jubah ama jilbab gini. Bapak jadi kepingin
mbak…” kata pak Bagus. Mbak tun yang ketakutan
segera menepis tangan pak Bagus dan berusaha
menjauhinya. Tapi terlambat. Pak Bagus berhasil
menangkap tangannya dan segera menarik Mbak tun kedalam
pelukannya. “jangan, pak…!!” pinta Mbak tun
memelas. Air mata kembali mengalir, tapi pak Bagus
tidak mau tahu. Ia segera mengulum dan menghisap mulut
Mbak tun yang indah. lidahnya dengan paksa dimasukkan ke
dalam mulut Mbak tun dan mempermainkan lidah wanita yang
selalu berpakaian rapat tertutup dengan jilbab yang
lebar ini, sambil tangan kirinya yang tidak digunakan
untuk memeluk Mbak tun turun ke tempik Mbak tun, dan kembali
meremas – remasnya dari luar jubah. Mbak tun meronta
berusaha melepaskan diri, namun karena tenaganya kalah
jauh dibanding tukang bangunan itu, dan rangsangan
demi rangsangan pak Bagus yang dialami lidah dan
tempiknya, rontaan Mbak tun semakin melemah. bahKan
akhirnya lidahnya mulai menyambut lidah pak Bagus yang
bermain di rongga mulutnya. Suara desahan dan decakan
menggema di kamar tidur muslimah berjilbab itu. Air
matanya kembali mengalir. tempiknya kembali basah,
sangat basahnya sampai-sampai membasahi jubahnya. air
liur Mbak tun mengalir membasahi bibir, pipi, dan jilbab
putih lebarnya. Pak Bagus menjilat dan menghisap air
liur wanita alim itu dan meneguknya dengan nikmat.

Setelah yakin bahwa Mbak tun sudah ada di genggaman
tangannya, pak Bagus langsung membopong Mbak tun dan
membawanya ke arah halaman belakang menuju dua orang
teman pak Bagus.

Mbak tun berusaha memberontak dan berteriak, tapi Pak
Bagus dengan santainya malah berkata, “Tenang aja
Mbak.., di sini sepi. Suara teriakan Mbak nggak bakal
ada yang denger..” Melihat Mbak tun, kedua teman Pak
Bagus segera bersorak kegirangan. “wah, akhirnya kita
bisa ngerasa’in mbak ini yah!!” kata seorang. “iya!!
Selama ini kita cuman bisa ngebayangin kayak apa
rasanya tempik cewek berjilbab, khan?” kata seorang
lagi, langsung disambut dengan gelak tawa mereka.
wanita alim yang lugu itu hanya bisa menangis
ketakutan. “jangaaaaan, paaaaak…..” katanya
mengharap belas kasihan. Tapi para tukang-tukang itu
tidak menghiraukannya. Tiba-tiba…, “Wah, bagus
betul ni tetek..” kata yang satu sambil membetot dan
meremas payudara Mbak tun sekeras-kerasnya dari luar
jubahnya. “Tolong jangan perkosa saya, saya nggak
bakalan lapor siapa-siapa. ..” kata Mbak tun. “Tenang aja
deh kamu nikmati aja…” kata teman Pak Bagus yang
badannya sedikit gendut sambil tangannya meraba tempik
Mbak tun dari luar jubahnya, sedang Pak Bagus masih
memegang kedua tangan Mbak tun dengan kencang. “benar,
mbak. Kamu nikmati aja, kayak tadi pas sama jari saya.
Biar kami nggak perlu nyakitin mbak.” Katanya
mengancam.

Tidak berapa lama kemudian Mbak tun melihat ketiganya
bergantian mulai melepas pakaian mereka. Mbak tun hanya
terduduk sembari melihat tubuh-tubuh mereka yang
mengkilat karena keringat dan kontolmereka yang besar
mengacung karena nafsunya. Batin Mbak tun kembali
berdesir melihat tongkol-kontolbesar itu. wanita yang
selalu mengenakan jilbab itu bergidik membayangkan
tempiknya akan disodok-sodok oleh tongkol-kontolbesar
itu. Air matanya mengalir semakin deras, tapi dua kali
orgasme, dan ketakutan yang teramat sangat membuat dia
merasa tak punya kekuatan sama sekali. Dengan cepat
mereka membaringkan tubuh Mbak tun yang sudah lemas di
atas pasir. Kemudian Pak Bagus menyingkapkan jubah
yang dipakai Mbak tun sampai keatas perut, lalu mulai
menjilati tempik Mbak tun. “Wah.., tempik cewek berjilbab
wangi loh..” katanya.

Mbak tun merasakan lidah pak Bagus berusaha menyusup
kedalam tempiknya yang sudah basah. Wanita berjilbab
lebar itu tersentak dan segera berontak, namun kedua
teman Pak Bagus segera memegangi kedua tangan dan kaki
Mbak tun. Yang botak memegang kaki, sedangkan yang gendut
memegang kedua tangan Mbak tun sambil menghisap dan
mengulum puting susu Mbak tun dari luar jubahnya. Begitu
bernafsunya dia, sampai-sampai jubah wanita alim yang
lugu itu basah kuyub karena air liurnya.

Tidak berapa lama kemudian Pak Bagus membentangkan
kaki Mbak tun yang putih lebar-lebar dan mulai
mengarahkan tongkolnya yang besar ke lubang tempik
wanita berjilbab yang berkulit putih itu.
“eeehhhmmmm…. !!” Mbak tun tersentak saat ia merasa
benda yang besar itu mulai memasuki liang tempiknya.
Dan ternyata, sama seperti yang Mbak tun bayangkan
sebelumnya, rasanya benar-benar sangat nikmat.
Benar-benar berbeda dengan suami Mbak tun. Namun karena
malu, Mbak tun terus berontak sampai Pak Bagus mulai
mengoyangkan kontolnya dengan gerakan yang kasar, tapi
entah kenapa Mbak tun justru merasa kenikmatan yang luar
biasa, sehingga tanpa sadar wanita yang selalu
berpakaian rapat tertutup dengan jilbab yang lebar itu
berhenti berontak dan mulai mengikuti irama goyangnya.
“hhhmm…..aahhmmm……hhhhmm….”
terdengar rintihan dan desahan tertahan dari mulut
Mbak tun yang terttutup rapat. Mbak tun berusaha menutup
rapat mulutnya, agar desahan-desahan kenikmatan itu
tidak keluar, namun yang terdengar justru desahan itu
semakin terdengar seksi, dan membangkitkan nafsu
biadab para tukang bangunan itu.

Mendengar desahan Mbak tun yang seksi, kedua teman Pak
Bagus tertawa dan mengendurkan pegangannya. Mendengar
tawa mereka, Mbak tun sadar namun mau memberontak lagi
Mbak tun merasa tanggung, sehingga yang terjadi adalah
wanita alim itu terlihat seperti sedang berpura-pura
mau berontak namun walau dilepaskan Mbak tun tetap tidak
berusaha melepaskan diri dari Pak Bagus.

Tidak lama kemudian Pak Bagus membalikkan tubuh Mbak tun
yang masih memakai jubah dan jilbab lengkap dalam
posisi doggie tanpa melepaskan miliknya dari tempik
Mbak tun. “aaahhhmmm….” Putaran badan itu membuat
Mbak tun merasa kontolpak Bagus mengaduk liang tempiknya.
Melihat itu, tanpa dikomando si gendut langsung
memasukkan tongkolnya ke mulut Mbak tun. Mbak tun berusaha
berontak, namun si gendut mencengkeram kepala Mbak tun
yang mesih terbungkus jilbab dengan keras, sehingga
Mbak tun menurutinya. Ia dipaksa mengulum dan menjilati
penisnya seolah-olah seperti permen lolipop. Mbak tun
benar-benar mengalami sensasi yang luar biasa,
sehingga beberapa saat kemudian Mbak tun mengalami
orgasme yang luar biasa yang belum pernah Mbak tun alami
sebelumnya. Tubuh wanita alim yang selalu berpakaian
rapat tertutup dengan jilbab yang lebar itu mengejang,
tersentak-sentak disertai desahan panjang selama
hampir satu menit, lalu kemudian menjadi lemas dan
jatuh tertelungkup. Namun tampaknya Pak Bagus belum
selesai, sehingga cengkeramannya pada pinggul Mbak tun
semakin kuat, sampai-sampai kulit Mbak tun berdarah
karena tergores kuku Pak Bagus yang Hitam. genjotannya
juga semakin dipercepat sampai kemudian dia mencapai
kelimaks dan memuntahkan spermanya ke dalam rahim
Mbak tun. Saking banyaknya, sampai-sampai sperma pak
Bagus meluber keluar, bersama cairan tempik ibu muda
berjilbab yang alim itu, mengalir turun membasahi
jubahnya.

Begitu Pak Bagus mencabutnya, Mbak tun kembali mendesah
saat si botak langsung memasukkan tongkolnya ke dalam
tempik Mbak tun tanpa memberi waktu untuk istirahat.
Sambil terus menyodok tempik Mbak tun dalam posisi anjing,
jari si botak menyusup ke dalam jubah Mbak tun,
mempreteli kancing jubah itu sampai perut, dan
meremasi payudara wanita alim yang lugu itu yang sudah
terlihat bergantung bergoyang-goyang mengikuti irama
sodokan si botak. Tidak lama kemudian si gendut
mencapai kelimaks, dia menekan tongkolnya ke dalam
mulut Mbak tun dan tanpa aba- aba, langsung menembakkan
spermanya ke dalam mulut wanita berjilbab yang
berkulit putih itu. Banyak sekali spermanya yang Mbak tun
rasakan di mulutnya, namun ketika Mbak tun hendak
membuang sperma itu, Pak Bagus yang terlihat sedang
duduk beristirahat berkata. “Jangan dibuang dulu,
cepet kamu kumur-kumur mani itu yang lama… pasti
nikmat… ha.. ha.. ha..” Dan seperti seekor kerbau
yang bodoh, Mbak tun menurutinya berkumur dengan sperma
itu. Sungguh erotis sekali, melihat seorang muslimah
yang masih memakai jubah dan jilbab, berkumur
menggunakan sperma seorang laki-laki yang bukan
suaminya, sementara ekspresinya tegang menahan
kenikmatan dari sodokan demi sodokan yang ia terima
dari belakang.

Sementara si botak terus menyodok-nyodok tongkolnya di
dalam tempik Mbak tun, Pak Bagus masuk ke dalam rumah
Mbak tun dan keluar kembali dengan membawa sebuah terong
besar yang dibeli Mbak tun tadi pagi untuk dimasak, serta
sebuah kalung mutiara imitasi milik wanita alim itu.
Tidak berapa lama kemudian si botak mencapai kelimaks
dan Mbak tun pun terjatuh lemas di atas pasir tersebut,
dengan tempik yang berlepotan sperma, yang mengalir
turun membasahi pasir dibawahnya. Melihat temannya
sudah selesai, Pak Bagus menghampiri Mbak tun sambil
memaksa Ibu muda berjilbab lebar itu kembali ke posisi
merangkak.

“Sambil menunggu tenaga kita kembali pulih, mari kita
lihat hiburan dari mbak Mbak tun ini..” katanya sambil
memasukkan terong ungu yang sangat besar itu ke dalam
tempik Mbak tun. Tentu saja ibu muda berjilbab yang alim
itu terkejut dan berusaha memberontak, tetapi kedua
temannya segera memegangi Mbak tun. Dan tidak lama
kemudian, “Bless..!” terong itu masuk 3/4-nya ke dalam
tempik Mbak tun. Rasa sakitnya benar-benar luar biasa,
sehingga wanita alim itu menggoyang-goyangka n
pantatnya ke kiri dan kanan.

“Lihat anjing ini.. ekornya aneh.. ha… ha… ha…”
kata si botak. “Sekarang kamu merangkak keliling
halaman belakang ini, ayo cepat..!” kata si gendut.
Dengan perlahan Mbak tun merangkak, dan ternyata rasanya
benar-benar nikmat. Desahan demi desahanpun keluar
dari mulut wanita berjilbab itu, bersamaan dengan
gerakan terong yang terasa mengaduk-aduk tempiknya.

Karena rasa geli-geli nikmat itu, sedikit-sedikit
Mbak tun berhenti, tetapi setiap Mbak tun berhenti dengan
segera mereka mencambuk pantat wanita alim yang lugu
itu. Tidak berapa lama wanita berjilbab yang berkulit
putih itu mencapai klimaks, dan dari tempiknya kembali
menyembur keluar cairan putih. melihat itu mereka
tertawa. Pak Bagus kemudian menghampiri Mbak tun, lalu
mulai memasukkan kalung mutiara imitasi yang sebesar
kelereng tadi satu persatu ke dalam lubang anus Wanita
berjilbab lebar itu. Mbak tun kembali menjerit, tetapi
dengan tenang dia berkata, “Tahan dikit ya.., nanti
enak kok..!”

Sampai akhirnya, kemudian kalung itu tinggal
seperempatnya yang terlihat, lalu sambil menggenggam
sisa kalung tersebut dia berkata. “Sekarang mbak maju
pelan-pelan yaa..” Dan ketika Mbak tun bergerak, kembali
kalung itu tercabut pelan-pelan dari anus Mbak tun sampai
habis, dan kembali pula wanita alim yang lugu itu
mendesah dan mengerang, menikmati sensasi yang belum
pernah ia rasakan sebelumnya itu. Begitulah mereka
mempermainkan Mbak tun sampai kemudian mereka siap
memperkosa wanita alim itu lagi berulang-ulang sampai
sore hari, dan anehnya setiap mereka klimaks, Mbak tun
pun turut orgasme dengan arti Mbak tun menikmati
diperkosa.

Dan malam harinya ketika suami Mbak tun pulang, wanita
yang selalu berpakaian rapat tertutup dengan jilbab
yang lebar itu sama sekali tidak melaporkan kejadian
tersebut kepadanya


About this entry