Namaku Simon..

4 tahun di Industrial Light & Magic, US, spesialis sculpture untuk kostum, topeng, dan bagian tubuh palsu. Resumeku mungkin sangat membanggakan. Beberapa perusahaan pembuat film kelas kakap Hollywood bahkan sangat berminat menjadikan aku sebagai advisor atau konsultan, tapi aku tolak. Ku hendak pulang ke Indonesia.

Aku tak pernah mempermasalahkan duit. Penghasilanku di ILM jauh melebihi seorang pekerja senior di industri migas. Tabunganku di Amerika sudah jauh lebih dari cukup untuk hidup secara layak di Indonesia. Tanpa bekerja. hanya dari bunga tabungan saja. Orang bilang pensiun dini. Aku bilang awal dari petualangan hidup. Yang sebenarnya. Yang selalu aku impikan dan bayangkan.

Nama panggilanku adalah Simon, seperti nama SImon Templar di serial The Saint, yang amat jago menyamar.

***

Aku selalu punya keinginan mendalam untuk mengintip. Bukan, bukan hanya sekedar mengintip celana dalam perempuan sebentar atau sekilas belahan dada yang terbentuk ketika seorang wanita membungkuk. Lebih dari itu. Aku ingin mengintip tanpa rasa takut ketahuan. Aku ingin mengintip, benar-benar mengintip, sampai aku terpuaskan, segala macam yang tersembunyi dari wanita. Belahan dada tak cukup bagiku. Aku harus mengintip buah dada, penuh sampai putingnya. Celana dalam tak cukup bagiku. Aku harus bisa melihat isinya yang rimbun atau tercukur rapi.

Jelas, sebelum aku pulang ke Indonesia, peralatan untuk mencetak topeng dan kostum sudah kupaketkan, Demikian juga dengan peralatan spy cam cukup canggih, dan kupastikan belum ada di Indonesia. aku punya rencana yang sangat brilian.

***

Penyamaran menjadi hobi keduaku sebelum aku pulang ke Indonesia. Aku selalu mencoba beranekaragam bentuk tubuh dan wajah manusia. Toh, itu juga yang menjadi pekerjaanku sehari-hari. Kalian mungkin pernah melihat film Tootsie, ketika Dustin Hoffman menjadi seorang wanita demi mendapatkan gadis impiannya. Atau Mrs. Doubtfire, ketika Robin Williams menyamar menjadi ibu-ibu tua untuk mendekati keluarganya. Hehehe, jelas bukan aku yang mengerjakan kostum untuk film-filem itu, tapi itulah gambaran pekerjaanku. Karena jenis pekerjaanku itulah, aku bisa mendapatkan akses ke banyak peralatan dan bahan pembuat kostum-kostum itu, dengan gratis.

Aku kemudian mencoba untuk membuat kostum dan topeng-topeng itu, dan kemudian memakainya sendiri. Setelah itu, aku biasa memakainya, dan membawanya ke tempat-tempat ramai seperti mall, toko swalayan, gereja (ya,ya, aku memang gila), untuk mengetahui apakah orang bisa tahu apakah aku sedang menyamar atau tidak. Yupe, orang tidak pernah tahu. Bahkan suatu ketika aku menyamar menjadi seorang nenek tua (ya, dengan segala macam keriput di wajah, lengan, dan leher), aku diperlakukan seperti layaknya nenek-nenek tua, dituntun tangannya, didudukkan di depan, bahkan dicarikan taksi.

Inilah awal mula rencanaku.

***

Aku tertegun membaca papan nama di sebuah sudut, sangat dekat dengan rumah yang baru saja aku beli. “Dibutuhkan pembantu wanita untuk kos putri. Segera. Hub. 081 12345678 Dwi untuk wawancara”.

Ha! Tiba-tiba kurasakan impianku mendekati kenyataan. Surga dunia ada di depan mata! Impian mengintip bidadari-bidadari dengan samaran seorang pembantu wanita bisa aku wujudkan.

Aku masturbasi sore itu sambil menyusun rencana.

***

Jadi pembantu mungkin tidak susah, tapi capeknya itu yang tidak tertahankan. tapi menimbang “upah” yang mungkin bakalan aku dapat, dengan nekat aku telepon nomer itu. Tentu dengan suara wanita. Ku menelepon di wartel agar lebih meyakinkan.

“Selamat malam. bisa bicara dengan ibu Dwi?”
“Selamat malam, saya sendiri,” manis sekali suaranya. kurasakan tubuhku menegang. Jantungku berdebar keras.
“Nama saya Srini bu. Saya menelepon untuk lowongan pembantu di rumah ibu. adik ipar saya kemarin lewat depan rumah ibu, dan memberitahu saya mengenai lowongan itu.”
“O ya? Kalau boleh tahu, umurnya berapa ya?”
Deg. aku mau nyamar menjadi umur berapa ya?
“Saya umur 45 tahun, bu …”
“O, mungkin mbaknya bisa langsung datang ke rumah untuk wawancara ya. maaf, saya tanya umurnya karena kami nyari orang yang agak tuaan untuk jaga rumah dan penghuninya gitu. ”

Haduh. Selamat aku.

“baik, bu, saya akan datang senin sore untuk wawancara?”
“Maaf, mbak, bisa agak cepetan, sabtu sore, mungkin?” Ha, cuman sehari untuk membuat segala macam kostum dan topeng? Mati aku.
“Baik bu”

***

Aku segera menciptakan skema tubuh wanita Indonesia umur 45 tahun. Keriput sudah ada dimana-mana, tapi tidak terlalu kentara. Ada lipatan kecil-kecil di leher. Bagian perut sudah agak membesar. Dada sedikit kendor. Rambut sudah mulai memutih, tapi tidak banyak. Oke, sudah siap, tinggal buat cetakan. Sial. aku tak punya banyak waktu. Terpaksa aku pakai cetakan resin, terutama untuk bagian body. Keras, tapi cepat. Cetakan karet aku gunakan untuk bagian tubuh yang kelihatan, seperti muka, leher dan lengan.

***

Sabtu sore aku datang. Kupakai baju orang desa, sebuah gaun long-dress kembang-kembang, dengan lengan pendek, dan lipatan-lipatan pada bagian dada. Yup, cukup mewakili penampilan orang desa pada umumnya. Tak lupa aku membawa KTP palsu atas nama Srini, wong “ndeso” dari Mojokerto, Jawa Timur. Tak susah membuat KTP palsu indonesia.

Aku masuk ke rumah besar bertingkat dua itu. Mengetok pintu besar dengan dua daun pintu dan pegangan raksasa. Tiba-tiba sebuah wajah wanita melongok sedikit membuka pintu besar itu.

“Bu Srini?”
“Iya bu …”
“Mari masuk. Saya Dwi, yang kemarin terima telepon,” sapa wanita itu ramah.

Dwi, sepertinya yang empunya rumah.
“Silakan duduk dulu. Saya ganti baju dulu, tadi baru saja aerobik di belakang,” Ujarnya sambil berbalik.

Tidak, tidak usah ganti baju. Aduh, tiba-tiba pikiran ngeresku muncul. Betapa tidak, si Ibu Dwi ini tipikal ibu-ibu setengah baya yang “bening” banget. Mungkin umur mendekati kepala 5, tapi bodi masih cukup mengundang birahi. Dada besar, lengkap dengan belahan karena baju senamnya yang ketat, bodi gitar, walapun ada tumpukan lemak di sana-sini (tapi kusuka!), kulit putih terawat, dan ya ampun, bokongnya besar padat. Terlihat garis celana dalamnya tercetak di balik celana senam ketatnya. Wajah pun cukup manis. Lebih aduh lagi, si otong mulai berdiri, membentuk tenda di balik gaun kembang-kembangku. Segera kututup dengan tas kumal yang aku siapkan.

Ah, ternyata baju gantinya lebih menarik daripada baju senamnya. Baju longgar model kini, dengan lubang leher yang cukup lebar sampai ke bahu warna cerah. Tali kutang warna hitamnya mengintip di bahu mulus si ibu Dwi. Lubang lengannya juga besar, membuat aku pengen ngintip dari samping. Roknya pendek (bukan mini), kira-kira 5 centian di atas lutut. Aduh, jangan siksa aku dong bu!

“Jadi, Bi Srini sudah lama kerja jadi pembantu?” kata bu Dwi sambil duduk, mengambil posisi di sampingku. Aha, ketiak dan sebagian kutangnya terlihat. Ketiaknya jelas mulus. Kutangnya berenda. Sayang aku tak bisa melihat volume payudaranya secara jelas.

Bu Dwi mengulangi pertanyaannya. Aduh, maaf, saya suka lupa kalo lagi asyik ngintip tubuh bagus begini. Percakapan pun lancar kembali. Aku tak pernah kesulitan dengan mengarang cerita. Kuceritakan bahwa aku adalah janda yang ditinggal mati suami dengan 4 orang anak di Mojokerto. Datang ke Jakarta 3 tahun yang lalu untuk bekerja sebagai buruh pabrik kerupuk di Jakarta utara. Tidak tahan karena bosnya suka sekali mencaci maki bawahan, trus nginep di rumah adik ipar sambil jadi buruh nyuci.

“Jadi, rumah adik iparnya deket-deket sini ya bi?” tanya bu Dwi. sambil bertanya dia mengangkat kakinya. Sekejap kulihat paha putih mulus mengintip. Kebetulan, ada 2 temanku mantan kameraman ngontrak deket-deket di situ. Bisa diaturlah kalau suruh berperan jadi adik ipar.

Pembicaraan berakhir soal gaji. Terang aja aku bilang mau digaji berapa saja, asal bisa bekerja dengan tenang (dan bisa ngintip sepuasnya, hehehe).

“Bi Srini bisa langsung kerja?”
“Kalau boleh bu, kira-kira bisa tidak ya sabtu minggu depan saya kerja. Ga enak sama adik ipar saya bu, kalau langsung pergi. Ada utang bikin kue bantuin istrinya.”
Bu Dwi terdiam sebentar berpikir.

“Bi Srini, saya masih perlu lihat kerjaan bu Srini. bisa ngga sebulan dulu disini untuk lihat kerjaanya”

Ah, lega. Sebulan juga sudah cukup untuk memuaskan “hobiku”. Berarti ada kesempatan untuk buat kostum yang nyaman dipakai dan tidak mencurigakan. Ada waktu 3 hari juga untuk berlatih menjadi pembantu.

***

Aku tak sabar menunggu hari aksiku itu. sebuah koper besar sudah aku siapkan.

Tapi malam itu bukan bu Dwi yang membukakan pintu.
“Bi Srini ya, silakan masuk bi,” kata gadis manis yang bongsor bongsor itu.
“Tante Dwi lagi terbang …”
Aku melongo.
“maksudnya, tante Dwi kan pramugari Garuda. Sekarang lagi tugas. Biasanya 3-4 harian gitu bi. Oya, kenalin, namaku Erika, ponakan tante Dwi ..”

Manis sekali anak ini. wajahnya sih masih bau kencur, tapi bodinya, ck ck ck, benar-benar potensial untuk digumuli. Si gadis itu terus nyerocos menerangkan tugas-tugasku sambil menunjukkan kamar yang akan aku tempati. Sebuah kamar kecil di dekat dapur belakang, dengan tangga ulir kecil untuk naik ke tempat jemuran. Rumah besar itu punya tangga utama yang biasa digunakan anak kos berlalu lalang. Aku sendiri tidak terlalu mendengarkan omongan gadis itu. Dengan berada di belakang gadis itu, aku bisa melihat volume bokongnya yang menggiurkan. Gadis itu memakai baju yang biasa saja sebetulnya, rok dengan kaos yang tidak terlalu ketat, tapi tetap saja, membayangkan potensinya membuat si otong berdiri.

“Bi, ayo naik ke atas, kukenalkan sama anak-anak kos,” tangannya menggandeng tanganku. Aku naik ke lantai 2.

Lantai 2 mempunyai 8 kamar besar. rata-rata berukuran 3×4,5 m, dengan kamar mandi di dalam. ada dua kamar yang kamar mandinya barengan. Letaknya dekat tempat jemuran yang bisa diakses dari dapur (dekat kamarku). Erika menerangkan kalau rata-rata penghuni kos-kosan adalah wanita bekerja, cuman dua orang yang masih kuliah semester akhir.

Ketika kami sampai di lantai 2, ternyata anak-anak kos sedang kumpul di ruang tengah yang cukup lebar sambil nonton TV yang ukurannya besar, mungkin sekitar 40an inci. Dan ketika melihat itu semua, aku hanya bisa berkata, inilah surganya para pengintip. 8 orang perempuan, bercanda ria, ketawa-ketiwi, dengan kostum santai (terlalu santai) tanpa curiga bahwa ada lelaki diantara mereka, AKU!!!

Tina, seorang karyawati bagian customer care di perusahaan GSM terkemuka di Jakarta, diperkenalkan kepadaku pertamakali oleh Erika. Wajahnya mengingatkanku pada Happy Salma. Hitam manis, bibir berkumis, dengan tubuh padat berisi. Malam itu si “Happy Salma” memakai kaus tanktop warna hitam, dengan tali kecil di bahu, memperlihatkan warna tali kutangnya yang merah muda. Belahan dadanya yang padat mengintip (bukan mengintip, tapi memberontak ingin keluar) mengundang birahi (ku, tentu saja).
“Hallo Bi, aku Tina,” salamnya ramah. Aku salaman sambil melihat dadanya tentu saja. Bodohnya aku.

Silva dan Silvia, anak kos yang kemudian dikenalkan dengan aku, adalah kembar yang masih kuliah. Mereka menempati kamar kos yang kamar mandinya barengan. Keduanya bertubuh mungil, putih, dengan rambut dikuncir dan mata bening yang belok. Mataku langsung membelalak melihat “kostum” yang mereka kenakan. Keduanya memakai gaun tidur yang lebih tepat dikenakan di dalam kamar, tidak di luar kamar. Gaun tidur satin warna merah maroon, dengan tali bahu tipis (orang bule biasanya bilang spaghetti straps), renda terawang di bagian dada, dan mini 10an centi di atas lutut. Aduuh !

Aku duduk di antara anak-anak kos itu sambil berkenalan (sebenarnya karena dari tadi si otong tidak mau tidur!).

Eva, yang tertua dari semua anak kos, berumur sekitar 30an tahun. Dia bekerja sebagai marketing executive perusahaan properti yang setiap sabtu dan minggu tayangannya ada di hampir semua televisi swasta. Kacamata agak tebal tidak menghilangkan bahwa Eva adalah seorang perempuan Cina yang seksi. Tinggi badannya layak disandingkan dengan model-model semacam Caroline Zachrie atau Catherine Wilson. Senyumnya maut, tapi agak angkuh. Tangannya aduhai halus. Dari posisi dudukku di depan dia, ku bisa melihat bahwa Eva memakai celana dalam warna hitam. Roknya tidak mini, tapi cara duduknya yang super nyantai [n00bie200 9melanggar.com/]yang menyebabkan pemandangan itu. Diantara yang lain, kostumnya paling sopan.

Dinia, entah apa kerjanya, tapi itu tidak penting begitu melihat bodinya. Jelas tidak sekelas dengan teman-teman kosnya yang lain. Wajahnya tidak menonjol. bodinya agak besar, kalau tidak bisa dibilang gendut. Lipatan perutnya jelas tercetak di kaos ketatnya. Ah, ini penyimpangan di surga. tak apalah.

Tere (bukan penyanyi), adalah seorang bartender cewe yang bekerja di sebuah bar yang cukup besar di daerah Jakarta Selatan. ini hari liburnya. Biasanya sabtu dia tak pernah ada. Tato gambar kupu-kupu tercetak jelas di betisnya yang putih mulus. Kakinya sungguh sempurna. Padat berisi, penampang sedikit bulat, putih mulus. Celana hotpants super pendek jelas sangat-sangat menarik perhatianku. Sedikit terlihat bongkahan bokong putihnya ketika dia menggeser duduknya.

Dua orang terakhir yang dikenalkan padaku adalah Vina dan Gege. Gege, seperti namanya, serba gede, mulai dari bemper depan (astaga!) sampai bemper belakang (lebih astaga lagi!). Wajah sih biasa, kulitnya juga hitam. Hanya dia yang pakai daster di ruangan itu. Daster mini dengan tali bahu yang kecil. Daster ini sebenarnya belahan dadanya tidak rendah, tapi karena ukuran dadanya yang luar biasa, belahan dada yang dalam tampak mengintip dengan leluasa.BH dan CDnya matching, warna biru tua.

Vina, ah rasanya tak perlu kuceritakan. Sama sekali tidak menonjol, baik bodi maupun wajah. Penyimpangan seperti halnya Dinia.

Aku ngobrol sebentar dengan mereka sambil memuaskan mataku mengintip berbagai bagian tubuh mereka yang terbuka. Sungguh indah dunia ini …

Aku masturbasi lagi malam itu …

***

Minggu Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Bukannya rajin, tapi aku pengen ngeliat pemandangan-pemandangan cewe-cewe yang sedang bangun tidur dengan pakaian seadanya dan bersiap untuk mandi. Sengaja kupegang lap pel dan ember untuk alasan bekerja. Dan ngepelnya tentu saja dari lantai dua, dimana pemandangan lebih indah. Pesan dari Erika, semua kamar harus dipel seminggu sekali, dan pas ada orangnya, jadi pembantu tidak dicurigai apabila ada kehilangan. OK deh.

Gila, jam 7 pagi belum ada yang bangun? bolot semua nih cewe ya. Aku mengetuk pintu kamar cewe favoritku, Eva. Semoga saja …

“Non, bibi, nih, mo ngepel lantai …” Ketukku perlahan.

Tidak ada jawaban.

“Non Eva? Bi Srini, non,”ketukku lebih keras.
“ya bi, sebentar.”

Tangan mulus pun membuka pintu. Tampak wajah Eva masih mengantuk.
“Pagi banget sih, bi, nanggung nih …”
“Maaf Non, abis kerjaan bibi banyak sih, …” ujarku sambil masuk ke kamar Eva, tentu saja sambil melirik kostumnya. Wah, biasa saja. Piyama lengan panjang dengan celana panjang. Garing. Aku bergegas mengepel, sampai tak sengaja aku melihat BH renda warna merah muda yang tergantung di gantungan baju di balik pintu. Jangan-jangan …

Iya, benar, Eva tidak pakai BH. Setelah aku perhatikan dengan seksama, di balik baju piyamanya sudah tidak ada penghalang apa-apa lagi. Dua puting susu tampil malu-malu menonjol di balik bajunya. Aduh, aku jadi ga konsen …

“Non Eva ada cucian kotor?” tanyaku sambil tetap mengepel dan melihat bodinya yang seksi.
“Ada bi, daleman semua nih, nunggu yang lain aja ya bi.”
Ha, Daleman? “Ga usah Non, nyicil aja, biar sayanya juga ga kebanyakan nyuci gitu.”

Aku keluar menenteng ember kecil berisi daleman Eva.

***
Beberapa hari ku di sini, salah satu kegiatan paling menyenangkan adalah mencuci baju. Bukan, aku bukan seorang fetish, walau harus kuakui, melihat daleman wanita, apalagi yang sudah dipakai, dengan renda-renda yang menerawang dan warna-warna yang berani, membuat diriku sedikit terangsang ketika mencucinya.

Aku paling suka mencuci baju-baju Tere dan Eva. Bukannya apa-apa, tapi baju-baju mereka, terutama dalemannya, sangat-sangat merangsang. Mayoritas berwarna merangsang seperti off-white, merah, hitam, dengan hiasan-hiasan renda dan bahan satin yang lembut dan menggoda. Aku suka berlama-lama di ruang cucian agar dapat menikmati interaksi dengan dalaman mereka. Berinteraksi maksudnya, beronani dengan menggesekkan dalaman lembut bekas pakai itu ke otong, dan kemudian memuncratkan cairan si otong ke dalaman itu sebelum dicuci. Ahh, nikmat!

***

Kejadian Pertama : Memijat “Happy Salma”

Ini bulan pertama aku di sini. Aku semakin mendapatkan kepercayaan dari Ibu Kos dan tentu saja, anak-anak kos. Aku tak ingin mereka curiga dengan keberadaanku di sini, dan buat aku, mendapatkan kepercayaan dari anak-anak kos berarti rejeki nomplok.

Satu hal yang membuatku terbayang-bayang sampai sekarang adalah kejadian memijat salah seorang anak kos.

Sore itu hujan deras sekali. Seperti biasanya, sore merupakan saat melepas lelah bagiku. Aku nonton TV di ruang tengah lantai 2, karena TV di kamarku kecil. Ada Vina di sampingku, dia tidak kerja karena lagi cuti haid.

“Bi, kaki-kakiku pegel semua nih, lagi mens. Mau ngga pijetin saya bi?” tanya Vina.

Aduh, bukannya nolak sih, cuman bodi si Vina ini jauh dari menggiurkan. Anaknya agak item, badannya se Okky lukman gitu deh, plus giginya ada kawatnya! Ganggu aja orang nonton TV!

“Iya deh, non,” kataku terpaksa. Adegan di TV lagi seru, ada Me vs Mom, yang maen si montok Sissy Priscilla. Kemudian aku mulai memijat kaki-kaki Vina. Buset dah, kakinya keker bener, kaya pemain sepakbela, keras. mana banyak asesorisnya lagi.

“Nah, di situ bi, enak banget tuh,” kata Vina. Iya, kamu yang enak, aku yang sesak napas!

sekitar 15 menit, aku menanyakan ke Vina, apakah dia sudah puas. “Masih belum bi, lanjutin bentar lagi ya,” ujarnya keenakan.

Tiba-tiba …
“Eh, Vin, enak bener dipijetin bibi,” seru suara cewek yang naik tangga. Oh, si Tina, si “Happy Salma”.
“Eh, Non Tina. ga kehujanan Non?” tanyaku ngarep. Betapa ga ngarep, saat itu Tina memakai kaus ketat warna krem, yang pasti akan memberikan bayangan yang menarik apabila basah. Yah, semacam Girls Gone Wild begitu.
“Ga bi, naik taksi tadi,” katanya berlalu dari hadapanku.

Aku akhirnya menyerah juga, berhenti memijat Vina dengan kaki besarnya dan bergegas untuk menyiapkan makan malam. Bu Dwi sebentar lagi mau pulang.

***

Setelah makan malam bersama, aku beranjak ke tempat tidur. Hari ini memang luar biasa capek, dan hawa dingin setelah hujan membuatku ngantuk sekali. Aku sudah hampir tidur ketika kudengar ketokan perlahan di pintuku.

“Siapa ya?” tanyaku.
“Tina, bi.” Eiits, si Happy Salam. Bergegas aku membuka pintu. Upps, sial, untung aku sempat sadar, wigku belum kupakai, dan aku belum memakai kostum bi Srini. “Ya, non tunggu sebentar,” Buru-buru saja aku mengambil kain untuk menutupi diriku, sampai bagian dada, kubiarkan tali kutangku keliatan, agar keliatan baru bangun tidur.

Dan di depan pintuku telah berdisi si Tina dengan segala keindahannya. Seperti mimpi saja rasanya ada bidadari montok di depan kamarku.

“Mari-mari Non, masuk,” aku menyilakan,”maaf, ini, masih pake kain, abis tadi udah mau tidur.”
“Ga papa bi,” balas Tina sambil didik di dipanku. Malam ini Tina memakai daster warna merah tua, dengan tali bahu yang kecil. Aku tak melihat ada tali kutang, jadi sepertinya dia….. NOBRA! dadaku langsung berdegup keras. sialnya, lampu bohlam kuning di kamarku tidak mendukung aksi penerawangan itu. lagian, bahan dasternya cukup tebal, sehingga tidak menyisakan ruang untuk imajinasi liarku.

“Bi, boleh minta tolong dipijitin, ga? aku pegel banget nih abis jaga stand seharian. Aku bayarin deh bi, mau ya?”

Glek. Hampir saja aku berkata,”Aduh non, kenapa harus bayar, asal bisa liat non telanjang saja udah cukup.”

Aku memasang muka tenang, biar ga terlalu keliatan napsu. “Non mau pijat pake minyak atau pijat biasa aja non? baiknya kalo pegel banget sih pake minyak telon atawa minyak kayu putih.”

“iya, deh bi, terserah bibi aja. Saya baring aja ya bi,” kata Tina sambil memasang posisi telungkup di dipanku. Tangannnya meloloskan kedua tali bahu daster itu sampai ke lengannya. Dadaku berdegup makin keras melihat pemandangan erotis di depanku itu. hampir saja botol minyak telonnya jatuh karena tanganku bergetar ketika menjangkaunya.

Dengan pelahan, tanganku mulai mengolesi bahunya yang mulus dengan minyak dan memijat perlahan di bagian leher dan tulang selangkanya.

“iyaaah, di situ bi, enaak banget,” kita Tina mendesah. Sama, aku juga enak. Aku terhenti sebentar melihat kedua bongkah susunya melimpah di samping. Indahnya. Aku meneruskan memijat bahunya, sambil sekali-sekali menyentil limpahan susu itu. Aku benar-benar terangsang.

Urutanku beralih ke garis punggungnya. “NOn, masih mau pake minyak ga? kalo masih mau pake, dasternya harus dilolosin,” kataku ngarep. “iya bi,” kata dia bangkit sebentar dan kemudian menurunkan daster sampai batas punggung dengan pantat. Sekilas kulihat dadanya yang penuh bergoyang ke samping.
“Aduh, Non, maaf ya non, bodi non bagus banget deh. Ngingetin bibi waktu bibi masih muda dulu …”, Tina cuma ketawa. “Masak sih bi, jadi geer nih,” ujarnya kemudian sambil mengambil posisi telungkup.

Aku meneruskan pijatanku di daerah punggungnya. Saat ini limpahan susunya membentuk gelembung padat sempurna di samping kiri-kanan punggungnya, tanpa sehelai benang sedikitpun. Ah, seandainya …

“Iya non, bibi dulu waktu masih muda kayak Non, sekel, bahenol, kata orang dulu. Yang ngantri mau kawinin bibi banyak non, sampai pak Kades segala,” asal ku bercerita sambil memijat punggung sempurna coklat sawo itu. tanganku bergerak ke arah pinggang, mendekati puncak pantat yang padat itu. Celana dalam hitamnya telihat mengintip di balik dasternya. Keliatan garis rendanya yang berlubang-lubang kecil. [n00bie2009 melanggar.com/]Aku mulai kegerahan dengan kostumku ini, belum lagi ada desakan di celana dalamku.

“Ah, masak sih, bi, ayo cerita lagi dong bi,” kata Tina sambil beringsut kecil, mungkin dadanya yang super padat agak kepayahan menahan berat tubuhnya. Aku pun semakin bersemangat cerita, tidak lain agar Tina bisa lebih relax dan tanganku bisa menjelajah lebih jauh. Kali ini tanganku sudah memijat pangkal pantat, tepat diatas tali celana dalamnya.

“Maaf non, bokongnya mau dipijat tidak? kata orang-orang jaman dulu, di bokong itu ada titik-titik refleksi untuk gangguan maag, ginjal dan hati,” kataku ngawur.

“Aduh, malu bi ….”
“Ah, Non, kan sama-sama wanita ….”
“Iya deh, tapi Tina pinjem selimut ya bi untuk nutup bagian atas, dingin nih lama-lama …”
“Ini non selimutnya. Celananya dan dasternya dicopot dulu ya Non, biar gampang mijitnya, ” kataku sambil langsung menarik daster dan celana dalam ke arah kakinya. Napsu!

Ketika tubuhnya menggeliat untuk mengambil selimut itulah aku melihat pemandangan yang benar-benar memukau. Payudara kanannya yang pada dengan puting warna coklat tua menampakkan dirinya dengan segala keindahannya. Aku hampir saja ngecrot di tempat! Putingnya mancung ke depan, seperti puting payudara yang terangsang. Tapi mungkin karena dingin, jadi mancung begitu.

Celana dalam dan daster sudah ada di tumit kakinya. Ya Tuhan, tak tahan aku. Aku merasakan penisku tegang luar biasa ketika melihat pemandangan bukit kenyal itu. Kedua pantat itu benar-benar sempurna, padat dengan bentuk yang pas, tanpa selulit sama sekali. Buah pantatnya mulus tanpa jerawat yang biasanya ada di pantat, dan di tepat dibawah kedua buah sempurna itu, terlihat bukit kecil yang menonjol dengan kedua belahan vagina yang sedikit tertutup oleh rambut-rambut. Oh, dia mencukur rambut vaginanya! SEgera kututup pemandangan itu dengan selimut agar dia tidak curiga.

“Non, boleh agak ngangkang kakinya? saya pegel nih non di samping terus. Lebih enak kan di tengah kaki non, jadi lebih gampang mijitnya,” padahal maksud aslinya biar lebih pas memandang gundukan bukit kemaluan yang mempesona itu, dan tentunya pantat padat dan kenyal itu. Perlahan aku mulai memijat pantat kenyal itu. Tubuh Tina sedikit menggelinjang. Tanganku mulai meremas dimulai dari titik awal belahan pantat dibagian pinggang Tina. Tina semakin menggelinjang. “Geli, bi, jangan di situ,….” lirih katanya.

Aku menurut. Remasanku turun ke bongkahan padat kenyal itu. Aku bersikap layaknya profesional, seakan-akan menekan titik-titik refleksi di daerah pantat, padahal aslinya memperlama kontak antara tangan jahilku dengan pantat indah itu. Benar-benar tak tahan aku ….!

Tanganku naik kembali ke atas punggungnya, mengurut lembur bagian samping punggung, agar dapat kesempatan untuk menyentil kembali buah dada padat itu, kali ini lebih lama dari yang seharusnya. Tina sepertinya … terkantuk-kantuk.

“Tidur aja non, nanti Bibi bangunin kalo sudah selesai mijitnya,” kataku ngarep. Ucapanku tak ditanggapinya. wah, beneran ngantuk dia. Kesempatan emas ini. Tanganku mengurut turun kembali ke pantatnya. Kali ini tanganku meremas pantat besar itu dengan sepenuh hati, dan beranjak turun ke pangkal pahanya yang membulat sempurna. Aduh mulusnya. Sambil mengurut, kedua jempol tanganku kuarahkan ke arah belahan kemaluannya. Urutanku berulang naik turun, dari pangkal paha ke pangkal betis, dan sebaliknya. Ketika jempol tanganku tak sengaja menyentuh bagian dalam bukit kemaluan itu, bagian selangkangannya, kurasakan tubuh Tina sedikit menggelinjang, tapi dia tak berkomentar apa-apa. Maka kuteruskan langkah berani itu, setiap kali urut, jempolku tak lupa menyentuh selangkangan dan bukit kemaluannya, makin lama makin ke dalam, dan makin lama semakin terdengar deru napas. Bukan, bukan hanya deru napasku yang semakin memburu, tapi deru napas Tina juga. Iya, aku pastikan itu. Tampaknya dia terangsang ….

tanganku turun ke betis, dan membelai betis mbunting padi itu (istilah koran kuning!). Dengan satu tangan yang lain, aku menaikkan kain penutup badanku dan dengan susah payah mengeluarkan penisku yang sudah keras dari celana dalam sempit itu. Kupelorotkan sedikit celanaku, agar penisku lebih mudah menghirup udara bebas dan bergerak. Aku membuat sesedikit mungkin gerakan agar Tina tidak curiga.

Tidak, aku tak hendak memasukkan penis itu kedalam vagina merah merekah yang menanti. Tak mau aku melakukan satu tindakan konyol yang nikmat tapi bakalan merusak kesempatan untuk melakukan seperti ini lagi dengan anak kos yang lain.

Jemariku sekarang lebih berani meremas dan menjangkau daerah erotisnya. Berkali-kali jariku menggoda, menggesek selangkangan dan belahan vaginanya, dan berkali-kali pula aku mendengar Tina menghela nafas. Kamu menikmati juga to ternyata.

“Non, Non, maaf, Non, pijitnya sudah selesai. Mau dilanjutkan pijit bagian depan atau mau diselesain sekarang Non?” tanyaku biar kelihatan sopan. Maunya sih …

“Boleh bi, pijit bagian depan, tapi aku sambil tidur ya bi, abis enak banget mijitnya,” sahutnya terlalu cepat. Nah, aku benar-benar yakin kalau dia pun menikmati rangsangan yang aku berikan.

Aku beranjak dari dipan dan menarik selimut melindungi tubuhnya. Padahal sebenarnya untuk menutupi penisku yang menjulang dari kain. Tina berbalik, agak malu dia menutupi tubuh telanjangnya dengan kedua tangannya. AKu segera menutupi tubuh bagian atasnya dengan selimut agar dia tak malu.

“Rilek saja Non, pokoknya kalo sudah dipjetin bibi pasti langsung enak deh, kalo perlu ditutupi saja Non matanya pake handuk, biar ga malu gitu,” kataku menenangkan. Aku memberikan handuk kecil yang aku ambil dari lemari.

Setelah matanya ditutup, aku terpaksa harus berhenti sebentar, kalo tidak bisa bobol pertahananku. Cairan sperma sudah menggelegak di ujung penis, ingin segera dimuntahkan. Selimut menutupi bagian dada sampai lutut Tina, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuh yang menggiurkan itu. Kedua puting yang tampaknya semakin mancung itu menonjol dengan angkuhnya dari balik selimut. Benar, dadanya memang masih tegak menantang. Aku duduk kemudian di sampingnya, dan mulai memijat pahanya, mulai dari pangkal paha sampai tumit kakinya. Urutan-urutan menjurus kembali kulancarka, kali ini sampai memastikan bahwa ujung jempolku menyentuh labia mayoranya.

“Bi, kok sampai ke situ, sih …,” bisiknya lirih sambil menggelinjang geli.
“Non, ini namanya pijat asmarandana. Gunanya untuk memulihkan tubuh yang cuapek banget. Memang harus ke titik vital wanita, non, biar nanti bisa rilek,” kataku ngawur sambil menatap belahan vaginanya yang sekarang terpampang jelas di depanku.
“Dulu bibi pernah diajari teknik mijit ini dari Mbah buyut bibi, namanya mbak Iro. Ndak semua orang bisa, lho, non.”
“ya sudah deh, terserah bibi aja. Asal jangan cerita-cerita ke orang ya bi kalo saya pernah dipijat seperti ini,” kata Tina sambil tersenyum malu.
Aku melanjutkan pijitanku. Kali ini, kuurut lembut perutnya yang langsing tanpa tanda lipatan lemak. Dengan begitu, otomatis selimutnya semakin naik terdorong tanganku. Tubuh telanjangnya terbuka pelan, menampakkan keindahan yang tiada duanya. Benar, Tina mencukur bulu vaginanya, menyisakan sedikit rambut di bagian tengah.

Tanganku sampai pada pangkal bawah buah dadanya. Kurasakan dadanya berdetak cepat sekali. Nafasnya keliatan memburu. Kuraba pelan bagian bawah payudara kenyalnya, dan kemudian dengan gerakan melingkar kuurut dada kenyal itu, tapi masih menghindari putingnya, agar dia penasaran. kuulang gerakan itu, pelan, tapi pasti. Tiba-tiba Tina membusungkan dadanya. Ah, dia terangsang, aku tambah semangat. Kuubah urutanku, kali ini tanganku tidak mengurut, tapi meremas kedua payudara montok itu, tapi tetap kuhindari putingnya. Tina menggeliat, tetap sambil membusungkan dadanya. Akhirnya kusentuh lembut puting yang sudah sangat keras itu, tak tahan juga aku. Tina melenguh. Kupilin lembut kedua puting susu warna coklat tua itu. Tina kembali melenguh kali ini lebih keras.

Tanpa ada perlawanan berarti, aku meneruskan kenakalanku. Kali tangan kiriku kembali menyusuri perut mulus Tina, terus turun sampai bukit kemaluannya. Dengan tangan kanan tetap memilin puting susunya, tangan kiriku menyusup masuk ke dalam vaginanya. Ya Tuhan, lembab sekali! Bau vagina yang khas mulai menyusup hidungku. Tubuh Tina menggeliat-geliat menikmati sensasi erotis ini. Aku? sudah tak tertahankan rasa penis tegang tak terkira ini. Jari kiriku mulai aktif, menyentuh dan memijat klitoris kecil di ujung labia. Tina semakin kencang melenguh, dengusan nafasnya semakin kentara. Aku menggosok klitoris yang semakin lama semakin mengencang kurasakan. Jariku masih semakin dalam dan memilin semakin keras. Tina melenguh dan melenguh, sampai akhirnya …..

Tubuhnya mengejan. Otot kakinya mengencang. Kurasakan dinding vaginanya berkedut. Teratur. Dia Orgasme. Tanganku kubiarkan berada dalam vaginanya. Sampai kedutan itu berhenti.

“Enak ga Non?” senyumku penuh kemenangan. Kupandang dadanya yang memerah. “Aduh bi, Tina malu ….,” dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Sudah malam, Non, sebaiknya Non naik ke atas,” kataku. Padahal aku pengen segera onani.

Dia kemudian segera memakai bajunya, dan menyerahkan duit 25.000 kepadaku.

Yang pasti itu bukan kali pertama aku memijat anak-anak kos.


About this entry