Harem 10

Harem 10
By Jakongsu

Cerita ini hanya hiburan, jangan terlalu dibawa ke dalam hati. Ada pesan yang terselip di dalam rangkaian cerita ini. Selain menghibur, mudah-mudahan bisa memberi inspirasi. Rangkaian ceritanya cukup panjang, tetapi saya berusaha agar pembaca tidak harus terlalu berkosentrasi. Saya buat sesantai mungkin, sehingga tidak ada beban pembaca harus melihat kembali bagian cerita diatasnya

Setelah keberhasilanku menurunkan berat badan Juli, Mbak Ratih dan Bu Rini juga minta diturunkan kegemukannya. Kelebihan berat mereka berdua tidak terlalu parah, mungkin hanya perlu turun 5 sampai 10 kg.
Sudah tiga orang berhasil kuterapi jadi kurus dan berisi. Aku tidak menyangka kemampuanku ini kelak akan menerbangkan aku ke banyak tempat dan menjadi dambaan banyak ibu-ibu dan perawan gemuk.
Aku tidak mampu mengurus sendiri begitu banyak permintaan terapi. Bu Rini kuminta menjadi managerku. Dia lah yang mengatur waktu bahkan menentukan biaya terapinya. Kami berdua yang tadinya banyak berharap mendapat penghasilan dari MLM, sekarang sudah kami tinggalkan.
Informasi dari mulut ke mulut ternyata cepat sekali merebak. Aku akhirnya kewalahan menghadapi begitu banyaknya order yang masuk. Aku minta Bu Rini membatasi orderan. Dia bingung bagaimana caranya menyeleksi, semua butuh dan semua perlu dibantu. Aku lalu minta dia menetapkan tarif yang tinggi agar tidak banyak orang mampu mengorderku. Tapi aku minta dia juga menyeleksi atau bahkan mencari mereka yang perlu benar-benar dibantu. Terhadap mereka ini kutekankan kepada Bu Rini jangan minta bayaran apa pun.
Melalui teknik penyeleksian ini aku jadi banyak bertemu wanita-wanita tingkat atas. Aku kagum atas berlimpahnya uang mereka. Jika mereka minta diterapi, selalu menyewa kamar hotel bintang 5. Mulanya aku agak minder juga menghadapi mereka, karena penampilan yang wah dan wangi serta kelengkapan yang serba mahal.
Dengan kemampuan uang yang begitu besar, kadang-kadang permintaan mereka rada aneh. Sebagai contoh ada yang minta lubang vaginanya disempitkan atau bibir vaginanya dibuat berwarna pink atau mengecilkan puting susu.
Terhadap mereka yang kurang mampu, mereka umumnya sangat menurut dan patuh pada semua nasihatku. Aku berharap bantuanku kepada mereka bisa lebih mencerahkan jalan hidupnya ke depan. Umumnya yang minta diterapi baik dari kalangan kaya, maupun dari kalangan kurang mampu adalah keluhan kegemukan.
Bedanya, kalangan berduit banyak sekali permintaannya. Kadang-kadang jika aku kesal, aku mainkan penekanan syaraf erotisnya. Mereka kelojotan minta digauli. Pada titik ini aku berlagak bodoh dan pura-pura tidak memahaminya. Aku selalalu menyudahi terapi dengan mengatakan, Bu atauu Mbak, terapinya sudah selesai,
Mas bisa nggak aku diservice sekalian, kepalaku pusing jadinya nih,
Apanya yang diservice bu/mbak,
Aduh tolong lah dik nanti aku kasi tip tambahan deh, kata mereka.
Jika sudah mereka mengiba-iba aku baru keluarkan jurus penuntasan. Biasanya tip yang diberikan kepadaku jauh lebih besar dari tarif resmi yang harus mereka bayar. Tips ini tentu saja 100 persen masuk ke kantongku.
Aku jadi makin berduit, tetapi aku tetap berusaha hidup bersahaja. Masalahnya aku belum siap memasuki dunia glamour. Kalau mau sebetulnya aku cukup mampu membeli mobil baru, beli apartemen. Tapi jika itu kuturuti aku harus mengubah pola hidupku yang belum tentu aku mampu menjalaninya. Begini saja udah enjoy, uang banyak, hidup dikelilingi bidadari yang setiap saat siap dilayani dan melayani, batinku.
Aku hanya ingin berbagi cerita pengalaman yang unik-unik saja yang aku temukaan dari pasienku. Salah satunya adalah Ibu Dina. Dia adalah pengusaha wanita terkenal dan mungkin termasuk jajaran konglomerat. Saking menjaga rahasia, dia harus menyewa 2 kamar di hotel bintang 5 dengan kamar yang memiliki conneting door. Kalau sudah begini Bu Rini lah yang berperan mengatur terapi rahasia itu, sehingga hanya aku, bu Rini dan Bu Dina saja yang tahu soal terapi ini.
Bu Rini awalnya memiliki tubuh yang terlalu gemuk. Dia ingin tampil seperti badan gadis remaja atau katakanlah gadis 20 tahunan. Padahal usianya sudah hampir mencapai 50. Karena kekuatan uang maka meski gemuk dia tetap berpenampilan cantik dan mahal.
Dik aku sudah bosan kemana-mana untuk nurunin berat badanku ini, tapi selalu tidak berhasil. Kalaupun berhasil, tidak bisa lama bertahan, aku malah tambah gemuk. Gimana ya dik solusinya, kata Bu Dina .
Aku jelaskan bahwa soal menunrunkan berat badan itu tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada terapis, tetapi harus ada kerjasama dengan yang diterapi. Bahkan Ibu Dina harus lebih banyak berperan dari pada saya yang menerapi. Saya hanya memberi arah saja bu, ibu yang harus mengikuti jalan itu. Kalau ibu tidak nurut, ya pasti tidak akan berhasil, kataku.
O gitu toh dik, tapi kan saya udah makan obat, masak yo saya harus susah payah nahan selera makan segala sih. Saya kan suka ada acara dinner, makannya itu enak-enak dan mahal, rasanya sayang kalu nggak dicoba, katanya.
Saya tidak menjanjikan terapi saya bakal berhasil bu, tetapi saya coba, kalau cocok mungkin bisa berhasil. Biasanya saya tidak mengharuskan pasien saya mengubah 180 derajat pola makan mereka, tetapi hanya mengurangi saja porsi dari yang sebelumnya. Bagaimana bu apa mau dicoba, tanya ku dengan nada merendah.
Kamu ini masih muda kok bisa punya keahlian gini toh dik, katanya udah banyak yang berhasil, makanya aku penasaran, katanya.
Seperti biasa aku meminta dia mengenakan sarung dan kusarankan agar melepas BH juga. Badan Bu Dina sangat mulus, putih dan gemuk Aku mulai melakukan ritual. Semua simpul syaraf yang berhubungan dengan selera makan aku garap. Simpul-simpul itu tidak sampai 30 menit sebetulnya sudah tuntas. Selebihnya aku hanya melakukan chek up lalu memberi pijatan nyaman. Dia sudah merasa membayar mahal, jika aku hanya menggarapnya 30 menit rasanya tidak pantas.
Selama kelebihan waktu itu aku juga iseng menekan syaraf-syaraf erotisnya. Dalam hal ini kurasa keahlianku sudah sangat mahir. Baru sekitar 15 menit syaraf erotis kumainkan, Bu Dina sudah mulai merintih. Dik pijetanmu kok enak banget to dik, katanya.
Bu maaf ya bu, kelihatannya ibu jarang disambangi nih, kataku memancing reaksinya.
Disambangi apa toh dik, tanyanya dengan nada heran.
Ah ibu ini masak nggak paham, maksud saya disambangi ama bapak, kataku.
lho kamu kok bisa tahu rahasia sampai kesitu to, emang benar kok dik, bapak itu kan diabet, jadi ya agak susah, apa kamu bisa terapi diabet juga to dik, tanya Bud Dina.
Aku terus terang belum pernah mencoba terapi orang diabet, tetapi penyakit itu menerut pengetahuanku tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikendalikan.
Maaf ya bu, ini dampaknya dari kurang disambangi, jadi ibu ini termasuk suka mudah marah, emosinya rada cepat meluap, kataku datar.
Dia membenarkan, bahkan dia malah nyrocos, dalam soal sepele saja kadang-kadang marahnya bisa meledak-ledak. Susah mengendalikan emosi marah katanya. Dia tanya apa yang begituan bisa dikendalikan.
Saya katakan ini adalah ibarat asap, apinya adalah soal disambangi tadi. Jadi ada perasaan yang terpendam bertahun-tahun dan lama-lama tidak menyadari, padahal perasaan kecewa itu tetap ada di dalam.
Ibu Dina rupanya termasuk istri yang setia dan tidak pernah punya keberanian untuk bermain mata dengan laki-laki lain. Untuk terapi ini saja dia membuat pengamanan berlapis-lapis agar jangan sampai diketahui orang. Maklumlah dia sendiri termasuk orang punya nama, suaminya juga terkenal.
Aku jadi penasaran ingin membuat Bu Dina kelojotan. Apakah dalam kondisi di puncak rangsangan dia masih mampu bertahan. Bagaimana sih kuatnya benteng pertahanannya . Aku memainkan syaraf syaraf sensual. Stimulasi terus-menerus aku garap, tanpa menyentuh bagian-bagian alat vital.
Aduh dik aku kayaknya udah nggak kuat lagi ni dik, katanya.
Aku lalu berhenti memijat dan bertanya apa pijetnya cukup sekian aja. Bu Dina langsung membantah bahwa bukan itu yang dia maksud, katanya kepalanya mau pecah menahan rasa yang nggak karuan. Aku lalu menawarkan untuk memijat kepalanya. Padahal aku tahu itu tidak akan menyembuhkan bahkan mungkin bisa tambah menggila. Dia memberi kesempatan aku memijat kepalanya. Bukan tambah selesa, tetapi malah tambah menggila. Bu Dina tanpa dia sadari merebahkan badannya ke badanku yang sedang memijat kepalanya dari depan. Dia memelukku erat sekali sambil kepalanya di guselkan ke dadaku. Dia menarik kepalaku dan diciuminya wajahku lalu bibirku disedot dan diciuminya ganas sekali. Kepalaku lalu didorong kea rah dadanya. Aku segera paham bahwa payudaranya minta disedot. Payudara Bu Dina masih cukup montok dengan pentil yang agak besar.
Bu Dina menggeliat-geliat menikmati cumbuanku. Aku lalu mengoralnya sampai dia orgasme bahkan aku membawanya juga G Spot O. Namun Bu Dina masih ingin dilanjutkan dan dia membuka celanaku lalu mengoralku sebentar kemudian dia minta aku menyetubuhinya. Aku menggenjotnya, sampai dia mencapai O , tapi dia masih minta aku melanjutkan permainan sampai dia kembali mendapat O. Badanku merasa lelah dan aku mulai berkosentrasi untuk mencapai O. Menjelang aku O Bu Dina rupanya juga hampir nyampe. Aku sengaja melepas ledakan ejakulasiku di dalam vagina bu Dina. Dia memelukku erat sekali dan diciuminya wajahku.
Saya puas dik, biar aku nggak berhasil jadi kurus tapi kamu harus mau melakukan terapilagi, kata Bu Dina.
Bu Dina adalah pelangganku yang menjadi ketergantungan kepadaku. Dia selalu minta diterapi setiap 2 minggu sekali. Pernah juga aku dimintanya menyusul ke Singapura. Aku diperamnya disana selama 3 malam.
Berat Bu Dina berhasil juga turun hampir 15 kg dalam 6 bulan. Terapi yang aku lakukan adalah kombinasi pijatan dan hipnotis. Tidak hanya soal mengurangi selera makannya, tetapi juga emosinya sekarang lebih terkendali. Dik aku sudah bisa menahan marah , sejak kamu terapi aku kok jadi penyabar ya dik, katanya.
Aku memujinya. Dia kupuji karena mau bekerjasama untuk memperbaiki sifatnya yang negatif. Aku juga menenamkan ke dalam benaknya bahwa marah itu adalah perbuatan sia-sia. Aku selalu memberi tantangan kepadanya untuk mengembangkan kreatifitas. Maksudnya jika timbul rasa marahnya kepada seseorang, maka dia harus mencari cara atau jalan atau kata-kata agar orang yang seharusnya dimarahi karena kesalahannya bisa menyadari dan memperbaiki diri . Bu Dina pasti bisa mencari cara lain dari marah, kata ku.
Iya dik, bahkan ada karyawanku yang harusnya aku marahin malah aku kasih uang dan kuajak bicara baik-baik, akhirnya dia sekarang jarang berbuat kesalahan, malah loyal sekali kepadaku, katanya.
Aku membatin, sumber penyebab kemarahannya sudah cair, yakni keinginan sexnya yang selama ini bertumpuk sudah lenyap, karena aku menjadi pelanggan servicenya. Selain itu sugesti yang aku tanamkan di dalam alam bawah sadarnya membantu dia berfikir positif dan kreatif.
Ada lagi pelangganku yang minta aku melakukan terapi di motel-motel. Dia selalu minta janji ketemu di pusat-pusat perbelanjaan. Dari situ dia minta aku membawanya ke motel hanya berdua saja.
Pelangganku yang kupanggil dengan nama Bu Monik ini awalnya juga minta tubuhnya dirampingkan, tetapi kemudian berkelanjutan minta diservice lengkap. Dia juga pengusaha kaya yang nafsu sexnya tidak mampu diimbangi suaminya. Kalau ku turuti dia maunya aku melakukan terapi setiap minggu.
Aku sudah 2 tahun malang melintang di dunia terapi . Relasi ku di kalangan atas, terutama para wanita cukup lumayan. Tidak hanya pengusaha, tetapi juga politisi selebriti dan ibu pejabat. Ada juga ibu yang mempunyai jabatan penting dikalangan TNI dan Polri.
Jujur saja aku tidak merasa cukup mampu menjadi terapis. Aku juga sebenarnya kurang yakin bahwa titik-titik simpul syaraf yang ditekan bisa manjur menyembuhkan berbagai penyakit. Kuperhatikan simpul-simpul syaraf itu hanya membantu usaha penyembuhan. Penyembuhan sepenuhnya sebetulnya adalah pada diri orang itu. Jika dia mengubah pola hidupnya maka keberhasilannya untuk sembuh lebih besar. Namun jika dia tetap dengan pola hidupnya yang lama, maka penyakit yang dikeluhkannya akan tetap menggerogotinya. Teori ini tidak bisa diterapkan juga kepada semua orang dan semua penyakit. Akan tetapi sebagian besar memang begitu.
Kesibukanku melayani pelanggan membuatku jadi jenuh. Aku berkeinginan suatu saat bisa berkeliling Eropa untuk berlibur. Pada dasarnya aku senang berkelana. Namun menjelajah Eropa jika hanya menikmati dari balik jendela rasanya kurang puas. Maksudku di balik jendela itu adalah dari balik jendela hotel, taxi, bus, kereta api dan seterusnya. Artinya aku tidak terlibat dengan kehidupan sehari-hari di tempat yang kukunjungi. Untuk bisa begitu paling tidak aku harus bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat.
Keinginan itulah yang mendorong aku mengambil kursus bahasa Perancis, Jerman dan Spanyol sambil memperdalam pengetahuan bahasa Inggris. Setahun kurasa cukup untuk menguasai sekedar bahasa sehari-hari bahasa-bahasa besar dunia itu.
Awalnya aku ingin berkelana sendiri ke Belanda, Prancis, Jerman dan Spanyol. Namun ketika aku bercerita sambil melakukan terapi kepada beberapa pelangganku, mereka malah mau ikut. Jadinya ada 5 orang emak-emak kaya raya yang mau ikut berkelana. Mereka malah membiayai semua kebutuhanku. Apalagi mereka akhirnya tahu bahwa aku lumayan ngerti bahasa negara-negara yang akan kami kunjungi.
Berkelana selama 2 minggu ke 4 negara pada musim panas kemudian memang terwujud. Aku jadi tour leader, dan memang aku yang mengatur kemana saja tujuan wisata kami. Aku syaratkan kepada ibu-ibu pesertaku agar tidak berbelanja oleh-oleh kecuali mau dipakai langsung. Aku tidak mau perjalananku terhambat gara-gara soal barang bawaan yang terlalu banyak. Ibu-ibu kalau tidak dibendung, nafsu belanjanya kadang-kadang lebih besar dari nafsu sexnya.
Selama kami tour, kami berenam sudah seperti remaja lagi. Tidak hanya aku harus bergantian setiap malam tidur dikamar mereka, Tetapi sering juga kami ngumpul berenam lalu melakukan orgy party. Ibu-ibu itu selalu menempati suite room, jadi kamarnya lebih lega. Terbang pun kami selalu di kelas satu.
Aku rasa soal ini kalau diceritakan bisa terlalu panjang. Namun lain kalilah kuungkap kehidupan 2 minggu kami sambil berkeliling Eropa. Jika anda mengikuti cerita ini dari awal dan sampai di bagian ini, saya berterima kasih banyak. Kritikan mudah-mudahan menambah kemampuan saya menulis. thx

*********


About this entry