Aku Menjadi Pacar Gelap

Kamar kostku sangat sederhana, hanya dibatasi dinding papan yang sudah

rapuh dari kamar pasangan suami istri yang belum punya anak. Karena
kondisi itulah sejak aku sewa kamar itu selama 2 bulan aku mempunyai
kebiasaan mengintip dari sebuah lubang kecil di dinding ujung tempat
tidurku yang makin lama semakin melebar karena ulah jariku. Lubang itu
kututup dengan poster sehingga tidak ada cahaya yang keluar dari
kamarku. Sedangkan di kamar sebelahku antara dinding dengan tempat tidur
mereka hanya terhalang oleh kelambu.

Kegiatan mengintipku tidak mengenal batas waktu, dari pagi, siang
ataupun malam. Sehingga aku hafal benar kehidupan di kamar sebelah, dari
lekuk tubuh Mbak Dwi (nama samaran) sampai kehidupan sex mereka.
Walaupun kehidupan rumah tangga mereka tampak rukun, tetapi aku tahu
bahwa Mbak Dwi selalu tidak terpuaskan dalam kehidupan sex, karena
suaminya hanya mampu 2-3 menit dalam bertempur, itu pun tanpa pemanasan
yang cukup. Sehingga sering aku melihat Mbak Dwi diam-diam melakukan
masturbasi menghadap ke dinding (ke arahku) setelah selesai bersenggama
dengan suaminya. Dan biasanya pada saat yang sama, aku pun melepas
hajatku, tanpa berani bersuara sedikitpun. Bahkan tidak jarang kulihat
Mbak Dwi terlihat tidak bernafsu melayani suaminya, dan menjadikan
tubuhnya hanya untuk melepas birahi suaminya saja.

Aku kenal dekat dengan Mbak Dwi dan suaminya, aku sering bertandang ke
rumahnya untuk membaca koran karena kamar kontrakannya satu rumah
denganku, bedanya mereka mempunyai ruang tamu, ruang tidur dan dapur.
Aku lebih akrab dengan Mbak Dwi. Disamping umurnya kuperkirakan tidak
jauh terpaut banyak di atasku, juga karena suaminya berangkat kerja
sangat pagi dan pulang malam hari, itulah yang membuatku dekat
dengannya. Mbak Dwi sebagai ibu rumah tangga lebih banyak di rumah,
sehingga kami lebih sering bertemu di siang hari, karena kuliahku
rata-rata 2 mata pelajaran sehari, dan selama itu pula aktifitas
mengintipku tidak diketahui oleh mereka.

Hingga pada suatu hari, aku berniat pulang kampung dengan menggunakan
Travel, yaitu kendaraan jenis minibus yang dapat dimuati 8 orang dan
dioperasikan dari kota S ke kotaku pulang pergi. Aku selalu menggunakan
jasa angkutan ini, karena harganya tidak terlalu mahal dan juga diantar
sampai ke rumah. Aku kaget ketika masuk kendaraan, ternyata di dalam
sudah ada Mbak Dwi yang mendapat tempat duduk persis di sampingku.

“Eh Mbak Dwi, mau kemana..?” sapaku sambil mengambil tempat duduk di
sampingnya.
“Oh Dik Ton.., mau ke kota T. Ada saudara Mas yang sakit keras, tapi Mas
nggak bisa cuti. Jadi saya datang sendiri.”
Kami pun terlibat obrolan yang menyenangkan.
Dia menggunakan rok lengan pendek, sedangkan aku menggunakan t-shirt,
sehingga berkali-kali tanpa sengaja kulit lengan kirinya yang putih
mulus bersetuhan dengan kulit lengan kananku. Perjalanan malam yang akan
memakan waktu 8 jam ini akan menyenangkan pikirku.

Kami sudah kehabisan obrolan, kulihat Mbak Dwi memejamkan mata, walaupun
aku yakin dia belum tidur. Gesekan lengan kami lama-lama menimbulkan
rangsangan buatku, sehingga kurapatkan dudukku ketika mobil berbelok.
Kini tidak hanya lenganku yang menempel, tetapi pinggul kami pun saling
menempel. Mbak Dwi mencoba menjauh dari tubuhku, dan aku pura-pura
tidur, tapi posisi menjauhnya menyulitkan duduknya, sehingga pelan-pelan
lengannya kembali menempel ke lenganku. Aku diam saja dan menahan diri,
lalu lama-lama kugesekkan lenganku ke kulit lengannya, pelan sekali,
setelah itu berhenti, menunggu reaksinya, ternyata diam saja. Darahku
mulai cepat beredar dan berdesir ke arah penisku yang mulai mengeras.

Kuulangi lagi gesekanku, kali ini lebih lama, tetap tidak ada reaksi.
Kuulangi lagi berkali-kali, tetap tidak ada reaksi. Kini aku merasa
yakin bahwa Mbak Dwi juga menikmatinya, kumajukan lenganku pelan-pelan,
kutindihkan lengan kananku di lengan kirinya. Kulihat Mbak Dwi masih
tidur (pura pura..?) dan kepalanya beberapa kali jatuh ke pundakku. Aku
makin terangsang, karena lenganku menempel pada buah dadanya. Mbak Dwi
masih diam saja ketika tangan kiriku mengelus-elus kulit lengannya yang
mulus, aku sangat menikmati kulitnya yang halus itu. Aku terkejut ketika
dia membetulkan duduknya, tetapi tidak, ternyata dia menarik selimut
pembagian dari Travel, yang tadinya hanya sampai perut sekarang ditutup
sampai lehernya. Aku mengerti isarat ini, walaupun duduk di barisan
belakang dalam kegelapan, tetapi kadang-kadang ada sinar masuk dari
kendaraan yang berpapasan.

Kulihat ibu-ibu di samping Mbak Dwi masih terlelap dalam tidurnya.
Melihat isyarat ini, kuletakkan tangan kiriku di atas buah dadanya,
tangannya menahan tangan dan berusaha menyingkirkannya, tetapi aku
bertahan, bahkan kuremas dadanya yang cukup besar itu dari luar bajunya.
Tidak puas dengan itu, tanganku kumasukkan dalam bajunya, kusingkapkan
BH-nya ke atas, dan kuremas dadanya yang kenyal dengan lembut langsung
ke kulit payudaranya yang halus sekali.

Kembali tangannya mencengkeram tanganku ketika aku memelintir putingnya
yang sudah mengeras, tetapi hanya mencengkeram dan tidak menyingkirkan.
Kepala Mbak Dwi tersandar di bahuku, sedangkan kemaluanku sudah sangat
keras dan berdenyut. Kuremas dan kuelus buah dadanya yang kenyal dan
licin dengan lembut sepuas-puasnya, Mbak Dwi terlihat sangat
menikmatinya. Permainan ini cukup lama, ketika rangsanganku makin
meningkat, kurasakan penisku makin keras mendesak celanaku. Kugeser
tanganku dari payudaranya ke perut dan pinggangnya yang langsing, dari
pusar tanganku makin ke bawah mencoba menerobos ke bawah CD-nya. Mbak
Dwi menahan tanganku dan menyingkikirkannya dengan keras. Akhirnya aku
harus puas mengelus perutnya.

Aku sudah sangat terangsang, dalam kegelapan kubuka resleting celanaku,
kukeluarkan penisku yang sudah sangat keras dari celana. Kubimbing
tangan Mbak Dwi ke kemaluanku. Pada awalnya dia menarik tangannya,
tetapi setelah kupaksa di tengah tatapan protesnya, ahirnya dia mau
menggenggam kemaluanku. Sungguh nikmat sekali tangannya yang telah
menyetuh barangku, bahkan dengan lembut meremas-remasnya.

“Mbak Dwi jangan diremas, dielus saja..!” bisikku.
Bersamaan dengan itu, kembali tanganku menyusup ke celana dalamnya. Kali
ini Mbak Dwi diam saja, bahkan tanpa sadar diangkatnya kakinya,
menumpangkan paha kirinya ke atas pahaku. Di tengah rimbun rambut
kemaluan, kucari celah vaginanya, kujumpai vaginanya sudah mulai basah.
Ketika jari tenganku mengelus dan memutar klitorisnya, kulihat Mbak Dwi
mendesis-desis menahan rintihan. Sementara elusan di batang kemaluanku
telah berubah menjadi kococokan.

Kenikmatan sudah memenuhi batang kemaluanku, bahkan menjalar ke pinggul.
Ketika jariku sedang mengelus di dalam dinding dalam vaginanya,
kurasakan kedutan di kepala kemaluanku sudah semakin kencang. Aku tidak
tahan lagi.
“Crot..,” akhirnya muncratlah air maniku beberapa kali, dan bersamaan
dengan itu pula terasa dinding vagina Mbak Dwi menjepit keras jariku,
punggungnya mengejang, Mbak Dwi mengalami orgasme.
Kutarik tanganku, dan kurapihkan selimutku dan juga selimutnya. Setelah
itu kami terlelap tidur dengan kepala Mbak Dwi tersandar di pundakku.

*******

Aku terbangun ketika mobil berhenti di tempat parkir sebuah restoran
yang sudah dipenuhi dengan bis malam. Di tengah sawah yang gelap itu,
berdiri sebuah restoran Padang, tempat para supir istirahat dan
penumpang minum kopi dan makan. Penumpang minibus beranjak turun, Mbak
Dwi kulihat masih terlelap tidur. Dia bangun ketika ibu-ibu yang duduk
di sebelahnya terpaksa membangunkannya karena mau lewat untuk turun, dan
dia hanya memiringkan tubuhnya untuk memberi jalan.

Mobil kami diparkir di paling ujung di sebelah sawah yang gelap di
antara parkir bis-bis besar jurusan luar kota. Semua penumpang telah
turun, dan aku hanya berdua dengan Mbak Dwi. Kupandangi wajah cantiknya,
kuraih lehernya ke arahku, dalam kantuknya kucium dengan lembut
bibirnya, kuhisap dan kumasukkan lidahku mencari lidahnya. Dia
membalasnya setengah sadar, tetapi ketika kesadarannya mulai pulih, Mbak
Dwi membalas ciumanku, lidahnya bergesekan dengan lidahku, hisapannya
juga tumpang tindih dengan hisapanku. Tanganku sudah masuk ke dalam
bajunya dan meremas buah dadanya, nafasku dan nafasnya mulai memburu.
Batang penisku kembali menegang dengan besaran yang penuh.

Kucium lehernya, dia menggelinjang kegelian dan aku makin terangsang.
Dan kuberanikan diri untuk meminta kepadanya.
“Mbak Dwi, saya pengin dimasukkan.., boleh kan Mbak..?”
Dia hanya mengangguk dan mengangkat pantatnya ketika aku melepaskan
CD-nya. Kuperosotkan celanaku sampai ke lutut, sehingga batang
kemaluanku mendongak ke atas bebas.

Ketika sedang berpikir bagaimana posisi yang pas untuk menyetubuhinya
pada posisi duduk di jok belakang yang sempit itu, tiba-tiba Mbak Dwi
bangkit, mengangkangi kedua pahaku menghadap ke arahku. Dengan
mencincing roknya sampai ke pinggang, dipegangnya batangku dan di
bimbingnya ke arah kemaluannya. Disapukannya kepala penisku dari ujung
klitorisnya sampai bibir vaginya yang paling bawah berkali-kali.
Kurasakan geli dan nikmat digeser-geser di daerah licin seperti itu. Aku
mendesis kenikmatan karena untuk pertama kali inilah aku berhubungan
badan dengan seorang wanita.

“Enak Dik Ton..?” tanyanya ditengah dia menatap wajahku yang keenakan.
“Mbak, masukin Mbak, saya pengen ngerasain..!” aku meminta.
“Mbak masukin, tapi jangan cepet dikeluarin ya.., Mbak pengen yang lama.”
Aku hanya mengangguk, walaupun aku ragu apakah aku mampu lama. Aku
terbayang suami Mbak Dwi yang hanya mampu 2-3 tiga menit saja.

Dia mulai menurunkan pantatnya pelan sekali, terasa kepala penisku
terjepit bibir yang lincin dan hangat. Serr.., seerr.., terus makin ke
dalam, sampai akhirnya sudah separuh kemaluanku terjepit di liang
vaginanya. Pada posisi itu dia berhenti, kurasakan otot dalam vaginanya
menjepit-jepit kemaluanku, nimat sekali rasanya. Sebagai pemula, aku
berusaha mengocok kemaluannya dari bawah, kusodok-sodokkan penisku ke
vaginanya, sehingga mobil terasa bergoyang.

“Dik Ton, kamu diam aja, biar Mbak yang mainin..!”
Aku menurut walaupun kadang aku kembali mengocoknya, tapi dia menatapku
dengan tajam dan menggelengkan kepala. Aku menurut dan diam saja. Mbak
Dwi mengocok kemaluanku dengan tempo sangat lambat, dan lama kelamaan
makin dalam, sehingga pangkal paha kami saling menempel dengan ketat.
Dan ketika itu lah Mbak Dwi merangkulku, dan merintih-rintih. Dia
mengocok kemalauanku makin cepat, dan kadang pinggulnya diputarnya,
sehingga menimbulkan sensasi yang demikian hebatnya. Hampir aku tidak
kuat menahan ejakulasi.

“Mbak, stop dulu Mbak, aku mau muncrat..!” bisikku.
Dia berhenti sebentar, tetapi segera mulai memutar dan mengocokkan
pinggulnya lagi. Aku sudah benar-benar hampir keluar, maka kugigit
lidahku, kualihkan rasa nikmatku kerasa sakit yang menyerang lidahku.
Ternyata dengan cara ini aku dapat menahan pancaran spermaku. Mbak Dwi
makin menggelora, dia merintih-rintih, kadang kupingku digigitnya,
kadang leherku, dan juga jari tangannya mencakari punggungku.

“Dik Ton, aku nikmat sekali.., oohh.., apa kamu juga enak..?”
“Iya Mbak..” balasku.
“Sebelah mana..? Mbak sudah senut-senut sampai tulang punggung, mungkin
Mbak sudah nggak bisa lama lagi. Aduh.., sshh.., nikmat sekali, Mbak
belum pernah seperti ini. Kontolmu besar dan nikmat sekali..!”
Mbak Dwi berbicara sendiri, aku tidak yakin apakah dia sadar atau tidak,
tetapi itu membuatku makin terangsang. Aku ikut mengocok dari bawah,
pangkal kelamin kami yang becek oleh lendir beradu makin sering,
sehingga menimbulkan bunyi ceprok.., ceprok.., ceprok.

Batangku sudah berdenyut kenikmatan, sedang kepala penis kurasakan makin
membesar dan siap memuntahkan lahar. Ketika Mbak Dwi merintih makin
keras, dan ketika jarinya mencengkeram pundakku kencang sekali,
instingku mengatakan bahwa Mbak Dwi akan selesai. Maka kuangkat
pinggukku, kutekan kemaluanku jauh ke dalam dasar vaginanya, kuputar
pinggulku sehingga rambut kemaluan kami terasa menjadi satu. Pada saat
itulah ledakan terjadi.

“Dik Ton.., eekh.., eekh.., eekh.., eekh..!”
Lubang dalam vaginanya berkedut-kedut, sementara ototnya menjepit
batangku. Mbak Dwi melepas orgasmenya, dan pada saat itu pula lah maniku
menyembur deras ke diding rahimnya, banyak sekali. Kami telah selesai,
tubuhku lemas dan kami istirahat serta pura-pura tidur berjauhan ketika
penumpang lain mulai masuk mobil.

*******

Sejak kejadian itu, aku sering melakukan hubungan sex dengannya pada
siang hari ketika suaminya tidak di rumah. Papan yang menyekat kamarku
dengan kamarnya telah kulonggarkan pakunya, sehingga 2 buah papan
penyekat dapat kucopot dan pasang kembali dengan mudah. Kami menyebutnya
“Pintu Cinta”, karena untuk masuk ke kamarnya aku sering melalui lubang
papan tersebut. Mbak Dwi kini tahu bahwa aku sering mengintip ke
kamarnya, bahkan ketika dia melayani suaminya, dan kelihatannya dia
tidak keberatan. Dan entah kenapa, aku pun tidak pernah cemburu, bahkan
selalu terangsang jika mengintip Mbak Dwi sedang disetubuhi oleh suaminya.

Siang hari jika aku tidak ada kuliah, dan Mbak Dwi sendirian di rumah,
aku sering menerobos melalui “Pintu Cinta” untuk menyalurkan birahiku
sekaligus birahinya yang tidak pernah dia dapatkan dari suaminya. Tetapi
sejak saat itu pulalah hubungannya dengan suaminya tambah mesra, jarang
marah-marah, sering pula kulihat dia memijat suaminya mejelang tidur.
Pelayanan sex-nya kepada suaminya juga tidak berkurang (dia melakukannya
rata-rata dua kali satu minggu), tidak jarang pula suaminya hanya
dilayani dengan oral sex.

Yang mebuatku bingung adalah jika Mbak Dwi mengulum dan mengurut-urut
penis suaminya, suaminya mampu bertahan cukup lama, tetapi kalau
dimasukkan ke vagina hanya mampu 5 sampai 10 kocokan, kemudian sudah
tidak tahan. Biasanya, jika telah selesai melakukan tugasnya dan
suaminya sudah pulas, Mbak Dwi akan mengeser tidurnya ke arah dinding
yang menempel ke kamarku. Dengan posisi miring setengah telungkup,
tangannya menyusup melalui kelambu dan “Pintu Cinta” yang sudah kubuka.
Dia akan mencari paha dan kemaluanku, dan tanganku pun akan menyelusup
ke arah selangkangannya untuk menuntaskan birahinya yang tidak pernah
dicapainya dengan suaminya. Setelah itu kami saling mengocok kemaluan
kami sampai masing-masing orgasme. Petting di samping suaminya yang
tidur sungguh menegangkan, tetapi nikmat sekali.

Bahkan pernah suatu malam, dimana suaminya tertidur pulas, kami
melakukan persetubuhan yang sangat unik. Setelah saling meraba melalui
lubang cinta, Mbak Dwi memasukkan separuh tubuhnya bagian bawah melalui
kelambu dan lubang cinta ke kasurku, sedangkan pinggang ke atas masih
tetap di kamarnya bersebelahan dengan suaminya yang masih mendengkur.
Sebenarnya aku sangat kuatir kalau ketahuan suaminya, tetapi karena
nafsuku juga sudah tinggi, melihat vagina yang merekah dan berlendir aku
tidak tahan untuk tidak menjilatnya dan menyedot-nyedot kemaluannya.

Ketika nafsuku tidak terkendali dan berniat untuk memasukkan penisku
yang sudah mengeras sejak tadi ke lubang vaginanya, aku mengalami
kesulitan posisi. Maka tidak ada jalan lain, kutarik tubuhnya makin ke
dalam dan kuganjal pantatnya dengan bantal. Walaupun buah dadanya dan
kepalanya masih di kamarnya, tetapi seluruh pinggangnya yang masih
terbalut baju tidur sudah masuk ke kamarku, pahanya mengangkang
lebar-lebar. Maka dengan setengah berjongkok, kumasukkan kemaluanku ke
arah bawah. Memang ada sensasi lain. Jepitannya semakin kencang, dan
klitorisnya terlihat jelas dari sudut pandangku.

Aku mengocoknya pelan-pelan, karena aku menjaga untuk tidak membuat
bunyi apapun. Sambil kukocok vaginanya yang menjepit terus menerus itu,
kuelus-elus klitorisnya dengan ibu jariku. Pada saat Mbak Dwi mengalami
orgasme yang pertama, ternyata aku masih separuh perjalanan. Kubiarkan
kemaluanku tetap di lubangnya ketika pinggulnya diangkat ke atas
tinggi-tinggi saat menikmati orgasmenya, kedua pahanya menjepit keras
pinggangku. Setelah kubiarkan istirahat sejenak, kembali kukocok
vaginanya serta kuputar-putar klitorisnya dengan jempolku. Dan kulihat
pinggulnya berputar semakin liar, aku segera tahu bahwa Mbak Dwi akan
segera oegasme yang kedua.

Kutekan kemaluanku ke dalam liang sanggamanya, dan kupercepat putaran
jempolku ke klitorisnya, sampai kurasakan tangannya mencengkeram pahaku.
Biasanya pada saat orgasme aku mendengar rintihan dan melihat wajahnya
menegang, tapi kali ini aku tidak mendengar dan melihat wajahnya.
Kucabut penisku yang masih mengeras dan bersimbah lendirnya, segera
kukocok dengan tangan kananku, kira-kira lima centi di atas lubangnya,
dan akhirnya.., aku tidak dapat menahan kenikmatan. Kusemprotkan seluruh
spermaku ke lubang vaginannya yang masih menganga. Mbak Dwi segera
menarik tubuhnya masuk ke kamarnya, sedang aku menutup kembali papan
yang terbuka. Sebuah permainan sex yang berbahaya dan menegangkan namun
penuh nikmat dan tidak terlupakan.

Sejak saat itu, kami tidak pernah berani melakukannya lagi permainan sex
di samping suaminya yang masih tidur, walaupun permainan dengan tangan
tetap dilakukan. Apalagi sex di siang hari, masih rutin kami lakukan.

*******

Sudah dua minggu ibunya Mbak Dwi yang tinggal di kota lain menginap di
keluarga itu. Umurnya kutaksir sekitar 45 tahun, kulitnya putih seperti
anaknya, tubuhnya sudah tidak langsing, tapi masih padat dan mulus,
terutama paha dan pinggulnya sungguh menggiurkan untuk lelaki normal.
Aku biasa memanggilnya Bu Ar, dan aku sering mengobrol dengannya dengan
bahasa Jawa yang sangat santun, seperti kebanyakan orang Jawa berbicara
kepada orang yang lebih tua. Di rumah dia selalu menggunakan daster
tanpa lengan, sehingga pangkal lengannya yang mulus sering menjadi
curian pandanganku. Kehadirannya ini tentu mengganggu hubunganku dengan
Mbak Dwi, karena kami tidak dapat bebas lagi bercinta.

Sejak kedatangannya, kami hanya melakukannya sekali ketika dia sedang
pergi ke warung, itu pun kami lakukan dengan terburu-buru. Suatu minggu
pagi, Mbak Dwi dan suaminya terlihat pergi berbonceng motor, dan ibunya
sendirian di rumah. Karena kulihat koran minggu tergeletak di meja ruang
tamunya, dengan terlebih dulu minta ijin aku masuk ruang tamunya untuk
ikut membaca di ruang tamunya. Tidak berapa lama, ibunya keluar membawa
secangkir kopi dan singkong rebus.

“Nak Ton, ini Ibu bikin singkong rebus, dicobain..!” sambil meletakan
cangkir dia duduk di depanku.
“Terima kasih Bu..,”
“Anak muda koq hari minggu tidak ngelencer kemana-mana..?”
“Ah enggak Bu, badan saya lagi kurang sehat, mungkin masuk angin, saya
mau istirahat saja di rumah.” jawabku.
“Mau Ibu kerokin supaya agak ringan..?” dia menawarkan jasanya.
“Terima kasih Bu, saya nggak biasa kerokan.”
“Kalau gitu diurut saja, masuk angin nggak boleh didiamkan. Nanti
setelah diurut, Ibu bikinkan minuman jahe.” nadanya memerintah.
Karena tidak enak menolaknya, aku pun mengikuti dia masuk ke dalam rumah.

“Situ di kamar saja nak Ton, dan kaosnya dicopot, Ibu mau menyiapkan
minyaknya dulu..!”
Aku masuk ke kamar yang ditunjuknya, melepas T-shirtku, dan dengan hanya
mengenakan celana training, aku telungkup di kasur.
“Celananya diganti sarung saja nak Ton, supaya mudah ngurut kakinya..!”
dia masuk kamar sambil membawa mangkuk berisi minyak sambil menyerahkan
sarung dari lemari.
Kuganti trainingku dengan sarung dengan extra hati-hati, karena
kebiasaanku kalau di rumah memakai training, aku tidak pernah memakai
celana dalam.

Dia mulai mengurut kakiku, pijatannya sangat keras, sehingga kadang aku
harus meringis karena menahan kesakitan. Dalam mengurut bagian ini,
kakiku ditumpangkan di atas pahanya, sehingga gesekan kaki dengan
pahanya yang tertutup oleh daster menimbulkan kenyamanan tersendiri.
Bahkan ujung jari kakiku menyentuh perutnya, aku tidak bereaksi, karena
dianggap kurang ajar.

Selesai di bagian kaki, dia mulai mengurut paha, disingkapkannya
sarungku ke atas sehingga separuh pantatku terbuka, aku diam saja. Pada
mulanya mengurut dari paha bawah, kemudian mengarah ke paha samping
atas, tetapi kemudian paha bagian dalam mulai diurutnya, sampai disitu
jantungku mulai berdegup. Kadang-kadang tanpa sengaja jarinya menyenggol
biji kemaluanku sehingga pelan-pelan penisku mulai membesar. Kejadian
itu makin sering, sehingga aku berpikir bahwa ini kesengajaan. Kemudian
Bu Ar mulai memijit punggungku, dan posisi duduknya pun berubah dari
duduk di sampingku, sekarang dia duduk (setengah berjongkok) di atas
pahaku.

Dari posisiku memang aku tidak dapat melihatnya, tetapi aku dapat
merasakan. Bahkan ketika dia menarik dasternya yang menghalangi pahaku
dengan pahanya pun aku tahu. Pahaku dan kulit pahanya bergesekan, dan
aku lebih menikmati gesekan paha dari pada pijatannya. Aku makin
terangsang, dan kemaluanku juga makin keras berdiri, sehingga aku
terpaksa membetulkan letak kemaluanku dengan mengangkat pinggulku dan
meluruskannya dengan tanganku.

“Kenapa Nak Ton..?” tanyanya pura-pura tidak tahu.
“Ah enggak apa-apa Bu, kejepit..,” jawabku penuh malu.
“Tidak apa-apa, Ibu ngerti koq, anak muda memang gampang berdiri. Nah
sekarang membalik, tinggal depan yang mesti diurut..!”
Aku mengikuti perintahnya sambil berusaha menutupi burungku yang berdiri
tegak dengan sarung. Tetapi Bu Ar justru melepaskan sarungku ke bawah.

“Nggak usah malu Nak Ton, Ibu sering melihat ngeliat burung seperti ini
koq. Itu punyaknya bapaknya Dwi..?”
“Besar mana Bu..?” tanpa sadar aku bertanya.
“Kurang lebih sama koq, cuman bedanya punyaknya Bapaknya Dwi kepalanya
nggak sebesar ini.”
Kulihat Bu Ar melihat kemaluanku cukup lama, dan dari nafasnya serta
gerakannya, kuyakini bahwa Bu Ar juga terangsang.

Sementara itu ia duduk di samping, dan tangan kananku persis di bawah
pantatnya, karena aku sengaja tidak memindahkan tanganku. Dengan hati
yang tegang (karena takut kena marah), kutarik tanganku, dan kupindahkan
ke pahanya bagian dalam, aku hanya memegang, menunggu reaksinya. Ketika
kulihat dia tidak bereaksi dan tetap mengurut dadaku, maka kuberanikan
diri untuk mengelus pahanya, dia menatapku sekilas tanpa ekspresi.
Elusanku kuteruskan ke arah pangkal pahanya, dan ketika kusentuh celana
dalam, persis di liang vaginanya. Aku terkejut, ternyata celananya sudah
basah. Wajahnya merah, aku tidak tahu apakah karena terangsang atau
karena malu.

“Ah.., Nak Ton rupanya nakal ya, Ibu kan sudah tua, tidak pantas kalau
sama anak muda.” katanya sambil tangannya mengeser dari pahaku, kemudian
mengelus dengan lembut pangkal kemaluanku.
“Ibu masih cantik, pahanya masih kenceng dan mulus sekali, aku sudah
sangat terangsang sekali Bu, gimana nih Bu.., Bu Ar mau kan ngajarin
saya..?” aku mulai merayu, dan jariku kucoba masuk ke dalam celananya,
tapi tidak berhasil karena terhalang celananya yang ketat.
“Loh koq diajarin, kan udah pinter, sampai kemarin Dwi hampir pingsan
kamu kocok-kocok. Kemarin Ibu ngintip kamu lagi main sama Dwi.”
Aku kaget seperti disambar petir, aku tidak menyangka bahwa hubungan
seksku dengan Mbak Dwi kemarin diketahui oleh ibunya.

“Ibu ngelihat..?” tanyaku gugup.
“Ibu ngintip lama sekali lho. Hati-hati, lain kali pintu depan harus
dikunci dulu.” dia merebahkan dirinya di sampingku sambil tetap
menggenggam kemaluanku.
Kubuka tali dasternya, dan kuremas-remas buah dadanya yang mulus dan padat.
“Ibu nggak marah..?” tanyaku sambil terus melucuti daster dan celana
dalamnya.
“Tidak, aku kasihan sama si Dwi, suaminya itu kan lemah, dari pada dia
pacaran dengan sembarang orang. Biarlah dia jadi pacar kamu.”

Kulumat bibirnya, sambil badanku sudah menindih badannya yang gempal.
Nafsuku sudah tinggi, begitu pula dia. Pahanya sudah dibuka dengan
lebar, belahan vagina bagian dalam yang berwarna merah dan basah
terpampang di depanku. Sebenarnya aku ingin menjilat kemaluannya, tapi
dia mencegahnya.
“Jangan ah..!” sambil dia menutupnya dengan tangan ke selangkangan.
Akhirnya kuarahkan batang kemaluanku ke bibir kemaluannya, Bu Ar
memejamkan matanya, wajahnya sayu menahan gejolak birahinya. Tangannya
terkulai di samping badannya. Tubuhnya sudah pasrah untuk disetubuhi.

Kumasukkan pelan-pelan kemaluanku ke liang kemaluannya, langsung menusuk
sampai dasar, kuputar pinggulku tanpa mengangkat pantat. Ini adalah
teknik yang kusukai, karena aku dapat memberikan rangsangan gesekan pada
klitorisnya tanpa menimbulkan banyak gesekan pada penisku. Sehingga
dengan begini aku dapat tahan cukup lama.

Bu Ar masih memejamkan mata, hanya kadang-kadang lidahnya keluar untuk
menyapu bibirnya sendiri. Otot vaginanya mulai menjepit-jepit
kemaluanku, sehingga kenikmatan menjalar di kemaluanku. Cukup lama aku
melakukan putaran ke kiri dan ke kanan sambil menekan dalam-dalam
kemaluanku ke liang vaginanya yang menyedot-nyedot kemaluanku itu.

Lama-lama Bu Ar makin sering mengeluarkan lidah, dan mendesis-desis.
Kini kuangkat pinggulku tinggi-tinggi, dan aku mulai mengocoknya. Aku
masih bertumpu pada tanganku, sehingga hanya kelamin kami yang menempel.
Pada saat itulah tangannya mulai memegang pantatku, mengelus, menekan,
meremas bahkan sering kali jari tangannya mengelus-elus anusku, dan ini
menimbulkan rangsangan tersendiri bagiku. Aku mengocoknya lama sekali.
Tiap kali tarikan keluar, selalu diikuti dengan jepitan liangnya sambil
pingulnya diputar, sehingaga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa ke
seluruh batang penisku.

Desisnya makin mengeras, dan kepalanya sering mendongak ke atas walaupun
masih tetap memejamkan matanya. Bila aku mempercepat kocokanku, dia
selalu menggigit bibir bawahnya serta membuka matanya, dan memandangku
mungkin menahan kenikmatan yang amat sangat. Melihat tingkahnya itu, aku
menjadi makin terangsang. Segera kukocokan kemaluaku dengan cepat dan
lama. Seperti biasa, dia memandangku dengan sayu. Desis berubah menjadi
rintihan, dan ketika aku tetap tidak mengendorkan kocokanku, Bu Ar
mencengkeram bokongku dengan keras, kedua kakinya dilibatkan ke
pinggangku dengan rapat dan dahi mengkerut.

“Stop..! Berhenti Nak Ton.., Ibu nggak tahan.., sshh..!”
Kuhentikan gerakanku, dengan jepitan kaki di pinggangku, aku pun hampir
saja menumpahkan air mani. Aku pun masih ingin lama bermain dengannya,
walaupun sekarang sebenarnya sudah cukup lama kami menikmati gesekan
kelamin kami. Kuhentikan gerakanku, walaupun kakinya masih melingkar di
pinggulku, tapi wajahnya tampak mengendor.

Walaupun kami berdua belum orgasme, kurasakan kedutan kecil-kecil di
dinding kemaluannya maupun di kemaluanku. Kurebahkan dadaku ke tubuhnya,
kami menjadi satu, kulit kami yang berpeluh menempel seluruhnya.
Kurasakan kenyamanan dan kenikmatan yang tiada tara.
“Ibu hebat sekali, jepitannya enak sekali,” aku memujinya sambil kucium
bibirnya.
Tapi dia menghindar sambil memalingkan kepalanya. Akhirnya kuciumi
pipinya, kuelus-elus rambutnya. Dia menolehku dan senyumnya merekah.
“Dik Ton, aku sudah lama nggak mendapatkan seperti ini, sejak bapaknya
Dwi kerja di Malaysia, dia jarang pulang,” katanya sambil mengelus-elus
punggungku.
“Ibu mainnya hebat sekali, bagaimana kalau aku ketagihan sama Ibu..?”
tanyaku merayu sambil kuremas buah dadanya.

Kami istirahat sejenak, tubuhku menindih tubuhnya agak miring, agar
tidak terlalu membebaninya. Kupandangi wajahnya.
“Wanita ini.., masih cantik dan lembut..” pikirku.
Kembali kuelus kulit wajahnya yang putih dan licin, sekali-kali
kukocokkan kemaluanku pelan pelan, dan dibalas dengan sedotan vagina
secara ringan.
“Bu, gimana kalau aku ketagihan sama Ibu..?” ulangku sambil kukocok
pelan-pelan vaginanya.
“Lho kan ada Dwi..,” jawabnya sambil tersenyum.
Aku tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawabnya. Kucium
bibirnya secara paksa, walaupun tadinya menolak, akhirnya dia membalas
ciumanku pula.

Sambil berciuman, aku kembali menyodok-nyodokan kemaluanku kembali. Kali
ini Bu Ar sangat aktif, di tengah kocokanku, vaginanya menghisap-hisap
penisku sambil memutar pinggulnya. Kami merasakan kenikmatan yang lebih,
Bu Ar mengerang-erang dan mendesis, aku pun tidak dapat menahan desisanku.

“Aduh.., nikmat sekali Dik Ton.., sshh.. sshh.., Ibu sudah hampir
keluar.., oh..!”
“Saya juga Bu.., mau dikeluarin sekarang Bu..?” kataku sambil kami masih
berdekapan.
“Sebentar lagi Nak Ton, uuhh.., sshh.., sshh.., eehh..!”
Kukocokkan batang penis makin cepat dan makin cepat, karena aku sudah
tidak tahan lagi.
“Eekhh.., Ibu sudah nggak tahan lagi, oohh.., eekhh.., ayo Nak Ton,
keluarin bareng. Ayo Nak Ton..! Ibu keluaar.., eekhh.., eekhh..,
eekhh..!” dia mengalami orgasme yang hebat.

Pinggulnya diangkat ke atas, dan wajahnya mendongak ke atas, sementara
kemaluanku menghujam jauh sekali ke dalam sambil kuputar dan kutekan.
Satu detik kemudian, aku pun menyemburkan spermaku beberapa kali. Oohh
nikmat sekali, kenikmatan menyelusuri seluruh tulang belakangku. Sebuah
puncak kenikmatan dahsyat telah lewat beberapa detik yang lalu, tubuhku
masih menindih tubuhnya. Kucium bibirnya dengan lembut, kuusap-usap
wajah dan rambutnya, sementara aku tidak mencabut kemaluanku yang masih
berdiri dari liang vaginanya. Masih kunikmati sisa-sisa kedutan nyaman
dari vaginanya di pori-pori kulit kelaminku.

Pagi itu aku sempat tertidur bersamanya hingga siang hari dengan tubuh
telanjang, dan aku kembali ke kamarku sebelum Mbak Dwi dan suaminya
kembali.

*******

Besok harinya, sebelum berangkat kuliah aku mampir ke rumahnya, yang
kujumpai hanya Mbak Dwi.
“Mbak Dwi kemana Ibu..?”
“Oh Ibu sudah pulang, tadi pagi habis subuh minta diantar Mas ke
terminal, katanya besok ada urusan, sehingga pulangnya dipercepat.”
Aku kecewa, tapi kusembunyikan wajah kecewaku di hadapan Mbak Dwi. Sejak
itu aku tidak pernah lagi menjumpai, kecuali dalam lamunanku. Kapan
kejadian ini terulang..?


About this entry