ABG Kembar


Jam 12.00 siang, kulihat keadaan kantor sudah mulai sepi. Sesekali
kuihat lagi jam tanganku, Perutku sudah terasa lapar. Ruang kantorku
sepi, sementara aku masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.
Maklum aku cukup sibuk, sebagai seorang Direktur dari satu perusahaan
kontraktor ternama. Sudah 15 tahun aku berjuang jatuh bangun dengan
perusahaan ini sampai kubawa ke tingkat yang cukup tinggi. Kini
akupun dapat menikmati hasilnya, Sebuah rumah mewah, sebuah apartemen
mewah di tengah kota Jakarta, beberapa koleksi mobil mewah, bisa
kunikmati sekarang.

Pukul 12.45 siang, ah sudahlah pikirku, jika terus aku berkutat
didepan komputer di ruang kantorku ini bisa stress nantinya.
Kuputuskan untuk pergi keluar mencari suasana baru sekaligus pergi
makan siang. Mercedezku parkir di mall Ambassador Kuningan.
Kuputuskan untuk makan siang disana. Setelah tiba di sebuah cafe di
mall itu akupun memesan makanan dan secangkir cappucino hangat.
Sejenak lepas beban pekerjaanku saat ini, haaah ingin rasanya menarik
nafas panjang.

Pandanganku beralih, sekitar 2 meja di depanku, duduk dua orang siswi
SMU lengkap dengan baju seragamnya. Mereka tertawa-tawa ceria, sambil
memainkan HPnya. Setelah kuperhatikan lebih seksama lagi, ternyata
mereka sungguh manis, dan astaga….mereka kembar. Ya kembar identik,
sekilas aku tak bisa membedakan antara 2 gadis remaja itu. Dua-duanya
punya kulit putih bersih yang mulus. Dua-duanya punya mata bulat
dengan bulu mata yang lentik. Dua-duanya punya rambut panjang hitam
lurus sepunggung. Dua-duanya memiliki hidung mungil yang lucu.
Dua-duanya juga memiliki bibir tipis yang menggoda, dan selalu dihiasi
senyum nakal remaja. Selain itu keduanya juga punya tubuh mungil khas
remaja, dengan dada yang tidak begitu besar namun montok dan menantang
serta dihiasi seragam SMU yang ketat, Rok yang beberapa centi diatas
lutut, dan kaus kaki putih panjang yang menutupi keindahan betisnya.
Ya, kecantikan wajah dan tubuh mereka, nyaris sempurna, sangat sesuai
dengan seleraku.

Waah sebuah pemandangan yang indah dan membangkitkan nafsu syahwatku.
Ahh satu kesempatan pikirku, kulirik salah satu dari mereka. Ketika ia
melihatku, gadis itu tersenyum kemudian berbicara pada saudara
kembarnya, tak lama kemudian mereka tertawa. Ceria sekali pikirku,
jiwa-jiwa remaja yang tanpa beban. Sungguh indah. Akhirnya setelah
meminum cangkir cappucinoku, aku memberanikan diri mendekati meja mereka.

“Selamat siang nih adik-adik, lagi pada ngapain nih ??” tanyaku.
“Siang juga om..” jawab mereka bersamaan sambil terus tertawa kecil.
“Lagi iseng-iseng aja om, abis dari sekolah…hihi. ..” jawab yang satu
dengan pita pink di rambutnya.
“Om boleh duduk disini ga ?” tanyaku dengan sopan.
“hehehe…boleh donk om inikan tempat umum, siapa aja boleh duduk…”
jawab yang satu lagi dengan pita biru muda di rambutnya.

Setelah kuperhatikan ternya mereka punya sedikit perbedaan, si pita
pink punya tubuh yang lebih pendek daripada si pita biru, sementara si
pita biru punya satu tahi lalat kecil diatas bibir tipisnya di sebelah
kiri. manis sekali pikirku.

“Om boleh kenalan kan ??” tanyaku.
“Hihi…iya boleh donk om…” jawab si pita biru muda.
“Aku Chesya, yang ini saudaraku Vhasya…hihi. ..” jawabnya sambil
tertawa kecil. sementara si pita pink tersenyum nakal.

Oh ternyata si pita pink yang manis ini namanya Vhasya, sementara si
pita biru muda namanya Chesya. Nama-nama yang indah pikirku. Setelah
kuperhatikan kedua remaja ini mengenakan aksesoris yang lumayan mahal.
aku bisa tahu karena anakku yang juga masih SMU minta dibelikan
aksesoris-aksesoris macam itu. Berarti mereka berasal dari keluarga
yang lumayan berada.

“Kalian saudara kembar kan ?? berapa nih usianya ??” tanyaku penasaran.
“Iya om…aku dan Chesya sekarang 16 tahun sebentar lagi 17
tahun…hihi. ..”
“Oooh…udah gede-gede ya, pantas cantik-cantik begini..”
“Hihihi…om bisa aja ah…O iya om sendiri belum kenalan…”

Atas permintaan mereka keperkenalkan diriku sebagai Hendro Hartono
Direktur sebuah perusahaan kontraktor besar. Sambil berbincang-bincang
aku mengetahui kalau Chesya dan Vhasya baru duduk di kelas 2 SMU,
lebih muda setahun dibanding anakku, dan mereka kini sekolah di sebuah
SMU unggulan di Jakarta. Ayah mereka pengusaha, sementara ibu mereka
dosen di Trisakti. Selain sekolah formal mereka juga ikut sekolah
Modelling, dan pernah beberapa kali jadi cover girl majalah remaja
terkenal, dan pernah juga jadi bintang iklan TV sebuah produk
kecantikan remaja. Setelah berbincang selama hampir 1 jam, muncul
pikiran-pikiran kotorku.

“Kalian udah punya pacar belum ??” tanyaku.
“Vhasya udah tuh om, nama pacarnya Reno, hihi…”
“Iiih….apaan sih Ches, Reno tuh cuma temen deket aja juga…”

Mereka bercanda-canda, kulihat keceriaan dunia remaja yang indah.

“Kalian udah pernah pacaran kan ?”
“Iya udah Om…tapi ya gitu deh cinta monyet aja….hihi. ..”canda Vhasya.
“Kalian udah pernah ML ??” tanyaku memberanikan diri.

Sejenak mereka saling berpandangan, kemudian tersenym dan tertawa.
“Iiiih…om apaan sih…kok nanyanya begituan hihihi….”
“Ya kan om mau tau aja udah pernah atau belum ??”

Mereka terdiam sejenak kemudian saling berbisik di telinga saudaranya.

“Emang bener om mau tau ???” tanya Chesya menggoda.
“Iii…iya.. lah..” jawabku terbata-bata.
“hihi…kalo mo tau om harus buktikan sendiri….” jawab Vhasya sambil
tersenyum nakal.

Astaga pikirku, inilah saatnya. Saat yang dari tadi kunantikan.
Keinginan kotor ku disambut oleh jiwa-jiwa muda nakal yang haus akan
petualangan. tak boleh kulewatkan. Apa rasanya mereguk kenikmatan dari
tubuh-tubuh indah remaja yang masih segar ini pikirku. Aku tak sabar
menunggu petualangan apa yang merka tawarkan padaku.

Sekitar jam 6 sore, aku bersama Chesya dan Vhasya keluar dari mall
itu. Aku merasakan tatapan-tatapan iri pria-pria di dalam mall itu
ketika melihat aku, pria umur 40 tahunan, bertubuh gemuk, berwajah
pas-pasan, bercanda ria dengan 2 gadis remaja kembar yang luar biasa
cantiknya. Hahaha….naluriku sebagai laki-laki bangkit. Aku merasa
sedang menggenggam dunia.

Sebelum keluar dari mall tersebut, aku dan dua kembar itu sempat
berbelanja. Aku membelikan mereka beberapa potong baju dan celana,
serta pakaian dalam. Kubelikan juga mereka sepasang HP canggih
keluaran terbaru. Hahaha…lucu juga pikirku, biasanya aku pergi
berbelanja mengantarkan istri dan anakku, kini ceritanya lain. Selain
itu sempat juga membeli beberapa snack untuk bisa dimakan nantinya.

Kupacu Mercedezku ke Salah satu hotel ternama milik teman bisnisku,
aaah yang dekat sajalah pikirku, toh mereka tak ambil pusing dibawa
kemana. Mereka hanya nurut saja dengan apa kemauanku. Setelah Check in
di salah satu kamar aku dan dua remaja itu langsung naik menuju kamar
yang sudah kupesan itu.

Ketika Chesya dan Vhasya sedang pergi ke kamar mandi, aku
berkesempatan menelepon rumah. Aku berbohong pada istriku bahwa aku
harus meeting mendadak di Surabaya. Sehingga aku tak bisa pulang malam
ini. Chesya dan Vhasya sebelumnya telah setuju menghabiskan malam ini
bersamaku.

Kulihat Chesya dan Vhasya sedang menelepon kerumahnya lewat HP mereka.
Merekan beralasan menginap di rumah teman untuk mengerjakan tugas
sekolah. kulihat cukup lama mereka bergantian berbicara dengan ibu
mereka di telepon. Layaknya anak remaja sepertinya mereka banyak
mendapat larangan-larangan dari orang tuanya di telepon itu. Untuk
memecah perhatianku aku membuka laptop yang selalu kubawa di tas kerjaku.

“Om aku pinjem laptopnya donk, bisa internet kan ?” tanya Vhasya
setelah menutup telepon dari ibunya.
“Oh iya sayang, nih…” aku mempersilahkan Vhasya.

Vhasya asyik mengutak-atik laptopku, ia sepertinya sedang cek e-mail,
dan membuka Friendster. Kulihat Chesya sedang duduk diatas ranjang
sambil menonton Televisi. Kuhampiri dia. Aku duduk di sampingnya,
setelah berpandangan ia melemparkan senyum manisnya padaku. Sepertinya
ia sudah tau apa yang ku mau. Kuraba-raba punggungnya yang masih
terbalut sergam SMU itu. Semerbak wangi tubuh remaja ini membangkitkan
gairahku. Kurasakan tubuhnya bergetar ketika tanganku menjelajah turun
menuju pinggulnya. Sebuah pemandangan indah ketika aku melihat pahanya
yang putih mulus itu ditumbuhi bulu-bulu halus yang tertutup oleh rok
mini abu-abu itu. Kuraba tanganku ke lutut halusnya, kemudian
bergerak naik ke pahanya sambil menyingkap rok abu-abu itu. Sungguh
indah pemandangan paha putih mulus remaja ini, aku sedikit tergelak.

“Oooomm…suka paha Chesya gaaa….??” tanya Chesya manja
“I…iya sayang suka banget…” jawabku terbata-bata.

Tangannya menuntun tanganku menyusuri halus lembut kulit paha itu.
Sambil mengelus-ngelus paha dan lutut Chesya aku mendekatkan tubuhku
ke tubuhnya. kuraih dagunya untuk mendekatkan bibirnya ke bibirku. Ia
melemprkan senyum nakal kepadaku sebelum kulumat bibir tipis remaja 16
tahun ini. Kucium wangi wajahnya, kurasakan halus kulit wajahnya
ketika bersentuhan dengan kulit wajahku.

Kulumat habis bibir mungil itu, sambil tanganku terus menjelajahi
kemulusan kulit paha gadis itu. Aku tak tahu apa yang dilakukan
saudara kembarnya karena aku dalam posisi tidak bisa melihatnya, namun
aku tidak perduli, gairahku membumbung tinggi menikmati keindahan
bibir Chesya. Chesya mulai mengeluarkan lidahnya memancing aku untuk
juga menyambut hot kissing ini. Setelah menikmati ciuman panas ini aku
tergoda menyusuri kelembutan kulit wajah Chesya dengan lidahku,
kujilati kulit pipinya, hidungnya, dan dagunya. Chesya hanya
tertawa-tawa kecil menghadapi perlakuanku. Aku pun berpindah, kini
ingin kurasakan kehalusan kulit paha mulus berbulu halus itu dengan
lidahku. Sejenak kulihat Vhasya masih sibuk di depan laptopku, ia
nampak serius dengan kesibukannya sendiri.

Aku berhenti sejenak, aku berpandangan dengan Chesya, ia tersenyum
manja kepadaku. Kuraih tubuhnya, lalu perlahan kubuka kancing baju
seragam SMU-nya. Astaga, kulihat kulit putih mulus yang membalut
daging kenyal yang memiliki bentuk indah tergantung di dadanya.
Payudara Chesya ditutupi Bra berwarna krem. Ukuran payudaranya tidak
terlalu besar, kutaksir hanya sekitar 32B, namun bentuknya bulat,
padat dan sangat menggoda.

Tanpa menunggu lama kuraih keindahan daging kenyal itu, lembut
kulitnya sambil perlahan kuremas-remas. Chesya sedikit mendesah sambil
tangannya sedikit menepis tanganku dari payudaranya, kutatap wajahnya
yang memerah karena malu. sambil tertunduk ia mulai membuka seragam
sekolahnya dan kemudian menanggalkan Bra-nya. Kini payudara gadis
remaja itu tertampang mulus. Sekarang aku bisa melihat puting
payudaranya yang mungil berwarna merah muda itu.

Dengan gemas aku mulai memainkan jemariku pada puting mungil Chesya,
sesekali kulihat wajahnya yang tersenyum malu-malu. Sambil meremas
payudaranya aku sudah tidak tahan lagi untuk segera menyapu kulit
mulus itu dengan lidahku. Kuhisap puting payudara kirinya dengan
mulutku sambil kujilati juga.

“Aduuuh…om pelan-pelan sedikit..” Chesya bereaksi.
“Waah…udah mulai nih ?” kulihat tiba-tiba Vhasya menghampiri aku dan
Chesya, tetapi ia tidak bergabung, hanya duduk disisi ranjang sambil
memperhatikan permainanku.

“Sssttt….uuuh. …om…. ” Chesya merem melek menghadapi sapuan
lidahku di sekitar puting payudaranya.

Desahan-desahan Chesya terdengar halus dan membangkitkan gairahku.
Satu-persatu kujelajahi kenikmatan dua payudara belia itu. Sambil
menikmati kehalusan kulit payudara Chesya, Vhasya mulai
mengelus-ngelus punggungku. Aku semakin menggila. Jilatan-jilatanku
semakin liar di payudara Chesya.

Setelah puas mereguk kenikmatan payudara belia Chesya, aku mulai
menelanjangi diriku. Aku memberikan tanda kepada mereka untuk
menanggalkan pakaian mereka juga. Vhasya terlihat santai, ia belum mau
membuka seragamnya, namun Chesya yang sudah tanggung ‘ON’ langsung
menanggalkan pakaiannya. Penisku langsung mengacung dengan tegak.

Aku tidak tahan untuk melanjutkan permainanku dengan Chesya tadi,
kuberi tanda kepada Vhasya untuk menunggu gilirannya nanti, ia hanya
tersenyum kepadaku. kurebahkan tubuh telanjang Chesya diatas ranjang,
kemudian kuangkat kakinya keatas sambil kulebarkan. setelah posisi
Chesya mengangkang aku dapat melihat vaginanya. Vagina Chesya terlihat
mulus menggairahkan, merah muda, sempit dengan bulu kemaluan yang
halus dan masih jarang. Ingin sekali rasanya ku menikmati jepitan
vaginanya. Kubimbing penisku yang sudah mengeras menjelajah masuk
melalui bibir vagina Chesya.

“Uugghh…om pelan-pelan. ..” Chesya sedikit merintih.

Setelah membenamkan seluruh penisku di dalam vagina Chesya, kulihat
wajah Chesya, ia seperti mengerang menahan sakit dan nikmat yang
menjalari vaginanya. Setelah ia menoleh padaku kuberi tanda ia bahwa
aku akan memulai. Hangat kurasa menjalari penisku, jepitan vagina
Chesya membuatku keenakan, aku tidak sabar segera memompa liang nikmat
remaja itu. Kulihat lagi wajahnya yang sayu namun tetap kelihatan
cantik, semakin menambah semangatku untuk menyetubuhi gadis ini.

Pompaan demi pompaan kulakukan terhadap vagina Chesya. Tubuh kami
bergerak seirama menyambut kenikmatan yang datang membabi buta. Ketika
kuhujamkan penisku memasuki vaginanya, ia pun bergerak sejalan
membenamkan penisku masuk terus ke vaginanya. Kurasakan kenikmatan
yang belum pernah kurasakan sebelumnya, saat ini aku sedang
menyetubuhi seorang gadis remaja yang cantik dan seksi. Hanya beberapa
menit tubuh kami mulai deras berkeringat namun harum wangi tubuh
Chesya mampu membuatku lebih bersemangat menikmati persetubuhan ini.

Disela-sela genjotanku, kusempatkan mengintip wajah Chesya yang
kelihatan panas, dengan mulut mungilnya yang megap-megap mencari
udara, Matanya terpejam sambil merintih-rintih keenakan. Kepalanya ia
jatuh-jatuhkan ke kanan dan kekiri, ikut menyibakkan rambut halusnya
yang terurai panjang, Sungguh pemandangan yang seksi.

“Uuuuh…aaah. ..om….uuuh. ..” lenguhnya.
“uuuh…Kamu pernah…ahh. ..dientot begini sama pacar kamu Chesya ?”
tanyaku dengan terbata-bata.
“Aaaah…ga pernah om…ga pernah segede om…sshhh.. .” desisnya
“hihihi…iya om…Chesya keenakan tuh” ledek saudara kembarnya hasya

Waah, mereka memang masih amatir pikirku, Justru aku suka yang begini,
gadis-gadis dengan pengalaman seks yang masih minim justru
membangkitkan libidoku. Aku tahu mereka pasti sudah bukan perawan
lagi, namun jepitan vagina Chesya membuatku menarik kesimpulan kalau
mereka mungkin baru beberapa kali saja ML dengan pacar-pacarnya, masih
bisa dihitung dengan jari tangan.

Aku hampir lupa dengan Vhasya, sedikit kumenoleh kepadanya. Vhasya
dengan sabar menunggu gilirannya kulihat ia rebahan sambil
meremas-remas payudaranya yang tertutup seragam SMU itu, nampaknya ia
juga horny melihat persetubuhanku dengan kembarannya. Ketika ia
menyadari penglihatanku, ia tersenyum padaku, kubalas senyumannya
sambil memberi tanda untuk menunggu gilirannya. Lekuk-lekuk tubuh
Vhasya makin menaikkan tensiku menggenjot tubuh Chesya. Naluriku mulai
menggila, kuposisikan tubuhku untuk lebih mudah menusuk-nusuk
vaginanya, itu membuatnya lebih mengangkang, namun jepitan vaginanya
terasa tidak berubah, “kuhajar” vagina Chesya dengan gerakan yang
cepat sambil tanganku bergerak liar menggerayangi payudara mungilnya
yang terbanting-banting akibat gerakanku.

“Aaaahhh…. ooohhh… .ooom…pelaan- pelaaan.. ..aaaah” Chesya berkelojotan
“Iya om pelan-pelan, kasihan tuh Chesya….” Vhasya terlihat kuatir
melihat keadaan adiknya.

Aku tidak peduli, yang kupikirkan hanya aku ingin segera melepas
birahi yang sudah ingin meledak keluar dari bawah ini. Kugenjot tubuh
Chesya makin keras membuat ranjang yang kami tempati bergoyang-goyang.

“Aaaah…..ampun om !!….sakiiit. ..aaah… ” Chesya mengeluh
“Sudah om cukup !!” Kulihat wajah Vhasya mulai khawatir

Aku tidak tahu tenaga dari mana, dalam kondisi seperti ini aku masih
saja belum mencapai orgasme, sementara lawanku dalam persetubuhan ini,
gadis SMU bernama Chesya ini sudah gelagapan menghadapi “pertempuran”
ini. Mungkin aku terlalu ‘excited’ karena sudah sangat lama tidak
merasakan tubuh-tubuh belia seperti dua gadis kembar ini.

Chesya hanya bisa berteriak-teriak kecil sambil tangannya
mencakar-cakar ranjang. tubuhnya berkelojotan menahan sakit dan
nikmat, membuat dadanya membusung seksi menunjukkan kebulatan
payudaranya yang segera kulahap dengan mulutku.

Ditengah-tengah kerasnya genjotan ku, kudengar suara tangis Vhasya
yang merasa sedih melihat posisi adiknya di dalam pelukan buas diriku,
aku tidak memperdulikannya, ku perkuat frekwensi sodokanku untuk
mencapai orgasme. Kuhujamkan penisku dalam-dalam ke vagina Chesya
disaat yang sama aku merasa akan segera orgasme.

“Aaaah….anjiiiing !! enak banget memek kamu Sya !!! aaaagghhh… .!!”
teriakku ketika mencapai puncak.

Kuhujamkan penisku bersamaan kurasakan orgasme luar biasa yang belum
pernah kurasakan sebelumnya. Sperma bermuncratan keluar dari ujung
penisku membasahi rahim Chesya. Puas rasanya.

Kudiamkan beberapa saat penisku didalam vaginanya usaiku mencapai
orgasme sambil mencoba menarik nafas, tubuhku terasa lemas namun
sangat puas berhasil mereguk kenikmatan gadis belia ini. Kulihat
kondisi Chesya yang sudah sangat kepayahan, Ia tergeletak lemah tak
berdaya, penuh keringat dan mencoba menarik nafas. Kulihat payudaranya
yang bulat kecil itu naik turun, ia menangis sambil tidak berani
melihat wajahku. Vhasya juga kulihat menangis terisak-isak melihat
kondisi adiknya. Aku terdiam sementara, tidak ada rasa kasihan pada
diriku. Mungkin birahi setan sudah menguasaiku untuk ingin lagi
mereguk kenikmatan tubuh-tubuh muda ini.

Kutarik penisku keluar dari vagina Chesya, sambil berjalan aku mencari
segelas air untuk mengembalikan tenagaku.
Vhasya langsung kontan memeluk adiknya yang tergeletak lemah itu.
Mereka menangis sambil berpelukan.

“huuu…Kamu ga pa pa Ches ?? huuu…” Tanya Vhasya kepada Chesya
sambil terisak-isak

Chesya tidak menjawab ia hanya mengangguk pelan tanpa tenaga. Setelah
kuhabiskan segelas air putih yang kuambil tadi kudekati ranjang tempat
mereka berdua tadi.

“Terima kasih sayang, tadi ‘appetizer’ yang sangat luar biasa, jangan
terus-terusan menangis donk, hari ini masih panjang kan, dan akan jadi
lebih panjang…” seringaiku kepada dua gadis kembar itu diikuti wajah
mereka yang memelas takut.


About this entry