Kekasihku Ternyata Simpanan Orang

Saya adalah seorang pemuda yang biasa saja, teman teman yang mengenal saya banyak yang bilang tidak ada yang aneh dari diri saya. Saya tinggal di Pekanbaru, di sebuah rumah kontrakan, ya bias dikatakan cukup besar untuk saya yang tinggal seorang diri. Sehari harinya saya bekerja sebagai seorang programmer, dan dengan keahlian yang saya miliki tersebut, saya berhasil menciptakan lading usaha sendiri, atau singkatnya saya adalah seorang wirausaha. Saya lahir 27 tahun yang lalu dan sampai kini saya belum menemukan teman yang dapat saya jadikan pendamping hidup saya. Salah satu yang bisa dijadikan alasan untuk ini adalah mungkin karena saya adalah tipe laki laki yang pemilih, terlalu mengharapkan yang sempurna dari wanita yang ingin saya dekati, karena terus terang, dalam hal materi saya sudah bias dibilang cukup mapan. Saya memang banyak dekat dengan teman wanita, bahkan bisa dibilang saya cukup popular dikalangan teman wanita bisa. Namun seperti tadi saya ceritakan, akhirnya banyak diantara teman wanita saya yang merasa segan atau kecewa dengan sikap yang saya miliki tersebut. Sampai akhirnya, saya sekarang merasa hal tersebut adalah senjata makan tuan buat saya. Mungkin beberapa pembaca ada yang merasa bingung dengan apa yang saya kemukakan ini, tapi beginilah keadaannya. Awal dari ceritanya sebenarnya cukup klise.


Pada awal tahun 2008, tepatnya tanggal 6 Januari, saya sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda beberapa hari sebelumnya. Seperti biasa, saat bekerja saya selalu saja harus ditemani dengan rokok dan kopi hitam. Karena menurut saya sepertinya, apabila tidak ada rokok dan kopi di meja kerja saya, pikiran saya seakan buntu dan tidak dapat bekerja dengan maksimal. Saya ingat, pada saat itu jam dinding menunjukkan pukul 16.30 sore. Saya sengaja melihat jam pada waktu itu karena, keadaan diluar sepertinya sudah hampir gelap, yang mungkin karena pada waktu itu matahari sedang diselimuti mendung tebal. Ditambah lagi hujan yang sepertinya tetap intensitasnya, tidak mereda juga tidak semakin deras. Sesekali saya melihat keluar melalui jendela yang berada tepat di samping meja kerja saya. Waktu itu jalanan memang sedang sepi, mobil yang lalu lalang pun sangat jarang.

Ketika saya sedang mengamati beberapa file di layar monitor, saya dikejutkan dengan suara mobil yang berhenti didepan rumah. Saya pun segera melongokkan kepala melalui jendela. Saya melihat mobil Honda Jazz berwarna hitam yang berhenti tepat di depan gerbang rumah. Saya semakin penasaran dan bergumam sendiri, “ siapa sih yang datang hujan hujan seperti ini, mengganggu orang saja”. Tak lama kemudian, pintu kanan mobil tersebut terbuka, dan keluarlah seorang wanita dengan membawa sebuah tas, yang saya perkirakan tas itu berisi sebuah notebook. Gumaman saya yang tadi sepertinya saya lupakan, karena melihat yang datang adalah wanita yang menurut saya cukup menarik. Mungkin sekilas bisa saya gambarkan, wanita itu memiliki kulit yang putih bersih, tinggi badan yang proporsional dengan berat tubuhnya sehingga terlihat sangat seksi, apalagi pada saat itu dia mengenakan pakaian kerja berwarna hitam dipadu dengan rok sebatas lutut. Parasnya cantik, ayu dan alami, rambutnya sebahu, yang kelihatannya sedikit diberi warna kemerahan. Tanpa sadar saya melamun membayangkan bagaimana bila wanita itu menjadi istri saya, dan kemudian saya di kejutkan dengan suara ketukan pintu berulang ulang. ”Astaga, kenapa saya bisa melamun nih”, ujar saya dalam hati sembari berlari kecil kedepan untuk membukakan pintu depan yang sengaja saya tutup.

“Maaf mas, sore-sore gini saya datang kesini….” Ujar wanita itu, dan belum sempat saya menjawab, dia segera melanjutkan, “Saya tau dari teman, kalo mas Aditia mengerti masalah komputer.” Ujarnya. “Ohh, iya mba, bisa-bisa, silahkan masuk dulu mba,” ujar saya sedikit grogi sambil mempersilahkan duduk. Saya sangat merasa aneh sekali, kenapa saya bisa grogi dengan wanita tersebut, seperti ada yang lain yang saya rasakan pada wanita tersebut. “Begini mas, saya minta tolong notebook ini diperbaiki, karena sepertinya ada virus yang menginfeksi notebook saya ini, gawat deh, mana didalamnya ada file file kerja saya semua lagi…”, kata wanita itu sambil mengeluarkan notebooknya dari dalam tas. Saya daritadi masih tertegun melihat paras wanita tersebut, “Wah, cantik sekali cewek ini, ck..ck..ck……” pikir saya dalam hati. “Mas !, bisa apa enggak?? Karena besok saya harus sudah bisa mengakses file-file di laptop ini…,” ujar wanita itu dengan suara yang sedikit agak keras. “Ohh, bisa-bisa mba, sekarang saya usahakan bisa selesai, tunggu sebentar ya mba, mau minum apa mba? “ tanya saya sekedar basa basi. “Enggak usah repot-repot deh mas, saya Cuma perlu laptop saya itu selesai aja. Saya tunggu aja mas”, ujar wanita itu sambil menyisir rambutnya yang sedikit basah karena kehujanan setelah turun dari mobil tadi. “Sebentar ya mba, saya mau liat dulu”, saya pun segera membawa notebooknya ke ruangan kerja saya, yang kebetulan pintunya tepat berada di depan wanita itu duduk.

Sekitar satu setengah jam sudah saya melakukan scan dan akhirnya saya menemukan virus yang menginfeksi laptop tersebut. “I got it” gumam saya perlahan. Saya pun segera melakukan clean pada sistem dan berupaya supaya file-file lain tidak ikut terhapus. “Gimana mas, bisa atau gak nih kira-kira?”, tanya wanita itu yang tiba tiba berada dibelakang saya. “Oh, iya bisa mba, nih lagi saya clean, paling tinggal beberapa menit lagi deh,” jawab saya mencoba menenangkan. “Hmm, iya deh mas, mudah-mudahan gak ada masalah ya”, sambung wanita itu. “Oiya mas, nanti sekalian diinstalkan aplikasi Yahoo Messenger dong, hehe…” canda wanita itu sembari duduk dikursi yang ada disebelah saya. Aroma wangi tubuhnya sangat menggairahkan sekali, sampai-sampai saya bingung mau bicara apa. “Oh iya mba, sebentar lagi ya”, jawab saya singkat. Setelah beberapa proses cleaning dan instal YM yang dimaksud selesai, saya pun kembali mengajak wanita tersebut untuk duduk kembali di ruang tamu, sambil ngobrol ngobrol ringan, dan dari obrolan-obrolan itulah akhirnya saya tahu nama wanita tersebut adalah Sari Wulandari, dia bekerja sebagai akunting disalah satu perusahaan swasta yang ada di Pekanbaru dan Kami juga sempat bertukar nomor telephone. “Mas, udah maghrib nih, Sari pulang dulu yah, tapi janji, kalo ternyata masih ada trouble lagi di laptop ini, Sari tinggal call mas loh., siap?” tanya Sari kepada saya dengan nada bercanda. “Siap deh, pokoknya kalo ada apa apa, hubungi aja nomor saya tadi, saya siap 24 jam khusus buat Sari.” Jawab saya tenang sambil mengantarkannya ke gerbang depan rumah.

Saya pun kembali meneruskan pekerjaan saya yang tadi sempat tertinggal. Tapi saya tetap saja masih teringat akan pertemuan singkat dengan Sari. Sampai akhirnya saya pun tidak bisa meneruskan pekerjaan tadi karena tidak dapat fokus. Akhirnya saya pun memilih tidak meneruskan pekerjaan saya tadi, alias mematikan komputer dan beranjak ke tempat tidur, karena terus terang mata saya sudah sangat pedas setelah seharian berkutat di depan layar monitor. Tanpa terasa, saya tertidur dengan sangat pulasnya, sampai2 lupa menutup gerbang dan mengunci pintu depan. “Kriiiiiiiiiing”, tiba tiba saja saya terbangun dengan bunyi handphone saya yang memang sengaja saya letakkan di sebelah bantal saya. “Wah, ini siapa sih yang menelpon malam-malam, kaya ga ada waktu lain aja”, gerutu saya sambil melihat jam dinding, yang ternyata saat itu sudah menunjukkan pukul 23.55 WIB, yang baru saya sadari pula ternyata saya sudah tertidur dari pukul 18.30. Hanphone saya terus berbunyi, dan saya melihat ada panggilan dengan nama Sari W, dan langsung tanpa pikir panjang, segera saya jawab panggilan tersebut. “Ya, halo, ada apa Sar? “ tanya saya dengan nada ramah. “Maaf mas, saya telpon malam-malam, ini masalahnya laptop saya sekarang malah enggak bisa loading sama sekali, gimana nih mas? Bisa minta tolong kesini segera ga? Karena file-file ini besok harus saya gunakan, please…”jawab Sari dengan nada kesal bercampur bingung. “Iya deh, tenang aja Sar, bentar lagi saya kesana”. Setelah Sari memberitahukan alamat rumahnya, saya pun bergegas untuk segera kesana, tak lupa dengan membawa beberapa peralatan dan driver-driver yang diperlukan. Di satu sisi saya merasa sangat senang, karena Sari adalah wanita yang saya rasa berbeda dari teman-teman wanita saya yang lainnya, itulah alasan saya kenapa saya tidak pikir panjang untuk segera berangkat meskipun tengah malam dan hujan seperti itu.

Setelah sedikit tersesat, akhirnya saya bisa menemukan rumah Sari. Rumahnya cukup besar untuk ukuran seorang karyawan swasta seperti Sari. Apalagi dia tinggal sendirian disana. Dia tinggal di kawasan yang bisa dibilang Texas yang berada di pinggiran kota Pekanbaru. Setahu saya, tempat itu sangat bebas dan sangat modern yang mungkin bisa di anggap bahwa kebudayaan barat ada di sana, di mana orang bebas melakukan berbagai bentuk perjudian, sex dan narkoba. Tapi itu semua tetap saya abaikan, dan saya lupakan karena tujuan awal saya adalah untuk memperbaiki notebook yang tadi telah saya perbaiki, tapi ternyata masih bermasalah disini. Saya tiba dirumahnya tepat pada pukul 01.00 dini hari. Saya pun segera turun dari mobil dan berlari kecil karena saat itu masih turun hujan, untuk menuju pintu utama rumahnya. Sebelum pintu saya ketuk, ternyata Sari sudah membukakan pintu, “Ah, mas, maaf banget ya udah bikin repot malam-malam gini, habisnya besok ini presentasinya penting banget mas…” ujar Sari kepada saya dengan nada menyesal. “Ah, gak apa apa kok Sar, ini udah tanggung jawab saya sih.”, jawab saya. Setelah saya dipersilahkan masuk, saya pun segera memeriksa kembali laptopnya. Lumayan lama saya mengatasi masalah kali itu, mungkin karena pikiran yang tidak konsentrasi karena Sari pada saat itu sedang duduk disamping saya dan mengenakan pakaian tidur yang sangat seksi. Rambutnya di ikat keatas, kulitnya yang putih mulus sangat menggairahkan. Pahanya yang mulus seringkali tersentuh dengan siku kanan saya. Dalam hati saya berpikir kapan saya bisa memiliki wanita secantik ini. “Bentar ya mas, Sari buatkan kopi dulu”, ujar Sari memecahkan lamunan saya akan dirinya sambil beranjak ke dapur. Nah, kesempatan inilah yang saya gunakan untuk berkonsentrasi mengatasi trouble di laptopnya. Alhasil, selesai sudah permasalahannya, ternyata hanya masalah instalasi aplikasi antivirus yang corrupt, dan segera saya perbaiki.

Sambil menunggu proses install antivirus yang baru selesai, saya pun menghidupkan sebatang rokok. Sari pun datang dengan membawa nampan berisi secangkir kopi hitam kesukaan saya. Ketika sedang meletakkan nampan diatas meja, saya tidak sengaja melihat pemandangan yang sungguh luar biasa. Belahan dada Sari yang indah, meskipun tidak begitu besar terlihat saat dia menunduk untuk meletakkan gelas ke dekat saya,”WOW, astaganaga,,,,,kapan saya bisa mencucup milikmu Sari”, ujar saya dalam hati. Tapi saya berusaha untuk tidak terpancing dengan nafsu birahi saya sendiri, karena terus terang saya sungguh sungguh mencintai Sari bukan lantaran nafsu belaka. Malam itu, tidak terjadi apa apa antara kami berdua, kami hanya saling bercerita mengenai pengalaman pengalaman yang lalu. Sepertinya Sari menaruh simpatik terhadap saya sehingga dia tidak ragu untuk bercerita pengalaman-pengalaman pahitnya kepada saya. Disitu pula akhirnya saya mengetahui bahwa sebenarnya Sari adalah simpanan Laki-laki hidung belang yang sebut saja bernama Wid. Mereka telah berhubungan selama 4 tahun, dan tidak heran jika Sari diberikan segala yang diinginkannya, seperti mobil, rumah dan kebutuhan lainnya. Dalam hati saya sedikit kecewa mendengar cerita tersebut, karena saya sungguh-sungguh mencintainya namun saya tetap berusaha tegar agar dia tidak mengetahui bagaimana perasaan saya yang sesungguhnya. Tanpa terasa, jam tangan saya menunjukkan pukul 03.00 dini hari, karena keesokkan harinya kami berdua sama-sama memiliki aktivitas pekerjaan, maka saya segera pamit pulang. Tapi malam itu sepertinya sangat berkesan sekali bagi saya, perbincangan kami sepertinya sudah sangat akrab sekali.

Pada tanggal 7 Januari, pagi harinya, seperti biasa saya bangun pukul 06.00. Saya segera mandi, dan menyiapkan sarapan pagi. Saat saya sedang makan, saya menerima SMS dari Sari, yang isinya dia ingin datang kerumah saya sepulang kerjanya pukul 17.00 wib. Saya pun segera membalas pesannya bahwa saya akan menunggu kedatangannya dengan senang hati. Setelah lama menunggu, akhirnya Sari sampai dirumah, dan segera saya persilahkan masuk. Saat itu, Sari datang dengan mengenakan blazer berwarna merah hati, dengan rok kira kira 2 cm diatas lututnya. Betisnya yang panjang dan mulus terlihat sangat merangsang. Sore itu dia terlihat sangat seksi dan spesial buat saya. Tak terasa kami berbincang sampai larut, obrolan pun terkesan datar dan biasa saja. Sari pun bermaksud pulang pada malam itu, tapi karena saya merasa tidak tega membiarkan wanita seperti Sari pulang sendirian tengah malam, maka saya pun ikut mengiringi mobilnya dari belakang. Dan sesampai di rumahnya, Saya kembali dipersilahkan mampir sejenak untuk minum kopi.

“Sebentar ya mas, Sari mau ganti baju dulu, gerah nih seharian belum salin.” Ujar Sari sambil berlalu masuk kedalam sebuah kamar. Saya pun menunggu di sofa yang ada di ruang tamunya sambil menghidupkan sebatang rokok. Tak lama kemudian, Sari keluar dengan membawa secangkir kopi seperti pada malam sebelumnya. Tapi yang berbeda di malam sekarang, Sari tidak mengenakan pakaian tidur, akan tetapi dia mengenakan kaos you can see ketat berwarna putih, dan celana pendek yang ketat berukuran minim berwarna pink. Bentuk tubuhnya menjadi semakin jelas tergambar disitu. Sungguh pemandangan yang luar biasa bagi saya. Alangkah bahagianya Om Wid yang telah merasakan kemolekan tubuh Sari. “Nah, ini mas kopinya, ngobrol-ngobrol dulu deh, jangan langsung pulang yah”, ujar Sari sambil duduk di sebelah saya. Harum tubuhnya sekali lagi sangat menggoda saya. Rambutnya sengaja di ikat keatas, sehingga lehernya yang jenjang menjadi suatu keindahan tersendiri. Dalam obrolan kami, sesekali saya melirik paha mulus Sari, dan dadanya yang menurut saya tidak terlalu besar, tetapi sesuai dengan porsi tubuhnya. Obrolan kami pun mulai menjurus kearah yang lebih dewasa, dan saya pun semakin tidak tahan dengan suasana malam itu. Saya pun memberanikan diri dengan meletakkan tangan kanan saya ke paha kiri Sari yang mulus. Ternyata tidak ada reaksi marah atau apapun, malah justru Sari semakin merapat kearah saya. Kesempatan ini lah yang tidak saya sia siakan. Tangan saya segera saya mainkan, dengan mengelus mesra pahanya naik turun, dengan maksud agar dia terangsang. Bukan main, dia sepertinya memahami permainan saya. Saya kemudian berpindah sasaran, dari paha, kemudian saya berusaha merangkulnya dengan tangan kanan, dan sedikit merengkuhnya supaya dia semakin merapat dengan saya. “Sar, kamu wangi banget sih, tangan kamu mulus”, saya berusaha merayu seadanya, dan Sari hanya tersenyum. “Wah, ini lampu hijau nih”, saya berkomentar dalam hati. Saya pun mendekatkan bibir saya ke telinganya dan membisikkan, “Sari, kamu seksi sekali malam ini”, bisik saya sambil mengecup telinganya yang bersih dan harum tersebut. Sari pun sedikit menggelinjang, mungkin karena merasa geli dengan kecupan saya tersebut. Permainan pun saya lanjutkan. Nafas saya mulai sedikit tidak teratur, tangan kanan Saya mulai menjelajah ke perutnya yang masih terbalut kaos seksi tersebut. Saya berusaha mengelus perutnya dengan menyingkap kaosnya yang memang agak ketat itu sambil terus menciumi telinganya. Tanpa sadar, tangan kiri saya juga mulai ikut menggerayangi paha mulus Sari. Sari pun nampaknya mulai mengikuti alur permainan saya, dia berusaha mengimbangi dengan memeluk punggung saya sambil sedikit mendesah. Saya yang mengetahui bahwa Sari mulai terangsang, segera mengeluarkan jurus jurus lain.

Saya memberikan rangsangan lain kepada Sari, yaitu dengan menjilati leher jenjangnya dari kiri ke belakang. Tangan kanan saya berusaha melepaskan kaos seksi yang dari tadi membalut tubuhnya. Tapi ternyata Sari berontak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan saya. “Eh, Jangan disini mas, ini ruang tamu, nanti kalo tiba-tiba ada yang dateng gak enak…” celetuk Sari kepada saya. Saya pun segera tersadar dan menelan ludah. “Ayo kita kedalam aja mas”, tambah Sari yang langsung saya iyakan tanpa pikir panjang, karena saya berpikir inilah kesempatan saya untuk bisa menggagahi Sari yang cantik dengan tubuh mulus dan menggiurkan. Sari pun menuntun saya ke kamar yang dimaksudnya. Disitu terdapat springbed kira kira berukuran 2 x 1,6 m. Saya pun ikut masuk kedalam setelah Sari mengunci pintu dari dalam. Karena mungkin nafsu saya yang sudah meledak ledak dan tidak tahan lagi, saya pun langsung mendekap tubuhnya saat sedang mengunci pintu. “Ah, mas, sabar dulu dong”, pekik Sari perlahan. Namun itu tidak saya hiraukan. Saya tetap menciumi lehernya dari belakang, sambil kedua tangan saya meremasi dadanya yang sejak kemarin sudah memancing birahi saya. Sari pun saya cumbu sesaat dalam posisi berdiri, saya tetap berusaha melepaskan kaosnya dari belakang dan akhirnya berhasil. Namun, dia tetap saya biarkan dalam posisi membelakangi saya sehingga saya lebih leluasa menciuminya. Saya malam itu seperti dikuasai nafsu setan, usaha saya tidak berhenti sampai situ saja, tangan kanan saya pun mulai berusaha melepaskan kancing celana pants yang dikenakannya. “Mas, jangan itu mas, jangan sekarang”, bisik Sari kepada saya sambil sedikit mendesah. Namun lagi-lagi tidak saya perdulikan. Dan berhasil, saya berhasil membuka kancing celananya. Tanpa menunggu berlama lama, segera saya turunkan celana pinknya dengan tangan kanan, sambil tangan kiri saya tetap meremas payudaranya yang masih terbungkus bra berwarna biru. Saya tahu bahwa dia ikut menikmati permainan tersebut. Nafas saya semakin tidak beraturan setelah kini Sari yang ada dipelukan saya hanya tinggal mengenakan bra dan celana dalamnya yang berwarna putih. Saya pun segera saja membalikkan tubuh Sari agar saling berhadapan. Tinggi badan kami memang tidak jauh berbeda, Sari hanya 5 cm sedikit lebih rendah daripada saya. Itu sebabnya saya tidak begitu menunduk untuk mengulum bibirnya yang berkilau oleh olesan lipgloss. Bibirnya terasa hangat, lidah saya pun saya permainkan didalam rongga mulutnya, dan sesekali diamenarik lidahnya. Saya tidak berhenti sampai disitu, sambil melumat bibirnya, tangan kanan saya berusaha membuka branya dengan meraih pengait bra yang berada dipunggungnya. Sedangkan tangan kiri saya tetap memegang sisi kepalanya yang sebelah kiri sambil membelai rambutnya. Pada saat itu saya masih mengenakan pakaian lengkap. Tiba-tiba saja tangan kanan Sari dengan lembut mengusap batang kemaluan saya yang masih tertutup celana, yang saya rasakan semakin mengencang. Saya berhasil melepas pengait bra yang dikenakannya, dan saya tarik kedepan untuk melepaskan dari lengan Sari. “Wah, ini dia yang saya tunggu-tunggu”, gumam saya dalam hati. Payudara Sari sungguh indah, bentuknya mungil dengan putting yang berwarna kecoklatan muda. Tanpa menunggu lama, saya pun segera berpindah haluan menuju putting payudara sebelah kirinya. Dengan lembut, saya mencucup dan menjilati putting kecil yang indah tersebut, dan sesekali menghisapnya. Saya pun merasakan Sari menekan sedikit lebih keras pada batang kemaluan saya yang masih terbungkus celana jeans. Pada saat itu, kami masih dalam posisi berdiri. Karena saya tidak kuasa membendung libido yang sedari kemarin, maka sejenak saya pun menghentikan aksi disekitar payudaranya. Saya membuka satu per satu kancing pakaian saya dan kemudian melepaskan ikat pinggang dan segera menurunkan celana jeans yang saya kenakan.

Tanpa diberikan aba-aba, Sari pun langsung mengambil posisi berjongkok, kemudian menurunkan celana dalam saya. Saya pun sambil mengusap perlahan batang kemaluan saya yang memang sudah tegang dari tadi, tapi tetap tertahan karena jeans ketat yang saya kenakan. Saya melihat ekspresi Sari yang sepertinya terkejut melihat batang kemaluan saya yang mungkin memiliki ukuran yang lebih besar dari kebanyakan namun tidak diperlihatkan kepada saya. Tangan Sari yang kecil terlihat oleh saya tidak dapat menggenggam sepenuhnya batang kemaluan saya. Perlahan ia mulai menggerakkan tangannya maju mundur seperti gerakkan tangan yang sedang mengocok. Saya pun hanya menyaksikan aksinya sambil sesekali mendangakkan kepala keatas karena rangsangan yang diberikan begitu dahsyat, “Arrgghhh….terus Sar…”, desah saya perlahan. Rambutnya yang panjang terurai sempat menghalangi pandangan saya, yang akhirnya saya sibakkan, saya lilitkan ke telapak tangan saya dan sedikit saya tarik keatas. Saya mulai merasakan ada yang membasahi batang kemaluan saya, dan ternyata Sari mulai menjilati kepala zakar saya. Saya pun semakin terangsang dengan aksi semacam itu, sepertinya Sari sudah sangat memahami cara untuk menaikkan birahi lawan jenisnya. Saya pun sudah tidak sabar dengan permainan semacam itu, langsung saja sedikit saya dorong kepala Sari agar bibirnya mendekati kepala zakar saya, dengan maksud agar ia segera mengulum batang kemaluan saya dengan mulutnya. Rupanya Sari segera mengerti, perlahan ia membuka bibirnya yang mungil sambil tangan kanannya tetap memegangi batang kemaluan saya. Sepertinya ia sedikit kesusahan menyesuaikan gerakan kocokan dengan ukuran bibirnya yang mungil sedangkan batang zakar saya yang cukup besar. Saya pun membantunya dengan mendorong kepalanya maju mundur. “Mppffhh…..”, begitu kira-kira suara yang saya dengarkan. Semakin cepat saya menggerakkan kepalanya maju mundur, sesekali saya tekan lebih dalam dan menyentuh pangkal kerongkongannya, rupanya Sari kualahan juga, dan ia tersedak. Saya pun menghentikan aksi tersebut, dan menarik lengannya untuk berdiri. Saya lupa, ternyata Sari masih mengenakan celana dalam, celana dalamnya ternyata lupa saya tanggalkan tadi karena keasyikan bermain dengan payudaranya yang montok dan putih bersih. Tapi tidak apa apa, karena saya merasa waktu masih sangat panjang untuk menghabiskan malam ini.

Seiring kemudian, saya pun menuntunnya ke tepi tempat tidur yang kalau tidak salah, tingginya kira kira sekitar 50cm. Tanpa ada sepatah kata keluar dari bibir kami, saya langsung melepaskan celana dalamnya, jadilah pada malam itu kami berdua tidak mengenakan sehelai benang pun. Saya semakin tidak tahan lagi melihat apa yang ada di balik celana dalam Sari. Daerah segitiganya di tumbuhi bulu-bulu halus yang habis di cukur, sampai ke selangkangannya. Tanpa pikir panjang, saya mengangkat kedua kakinya dan sedikit membengkangkannya, sehingga sekarang vaginanya semakin jelas terlihat, pada saat itu, saya masih tetap berdiri dengan sedikit membungkuk. Vaginanya sungguh indah, sepertinya Sari wanita yang pandai merawat badannya, terutama pada daerah kewanitaannya. Sebenarnya saya masih ingin berlama-lama mencumbui wanita ini, namun apalah daya, si adik kecil saya sepertinya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Akhirnya saya pun menuruti keinginan adik kecil saya yang sudah merengek minta dicarikan sarang dari kemarin. Rudal saya mulai bergerak mendekati bibir vagina Sari. Lutut kanan saya terpaksa harus saya tumpukan pada tepi kasur, tepat berada di sebelah pangkal paha Sari yang saya angkat tadi untuk lebih memudahkan penetrasi rudal saya. Segera saya amblaskan rudal saya ke dalam vagina Sari. “aaahhh….pelan..pelan…mas, sakit nih….”, rintih Sari setengah melengking. Rupanya saya pun sadar, ternyata vagina Sari masih sangat sempit untuk saya masuki. Tapi saya tidak begitu perduli dengan rintihan Sari, namun malah justru menjadi semangat birahi buat saya. Saya menekuk kakinya sedemikian rupa sehingga kedua lututnya kini menghimpit payudaranya yang montok tersebut. Saya pun kini leluasa menggenjot tubuh Sari yang seksi, persis seperti gerakkan memompa, pantat saya saya hempaskan kencang supaya batang kemaluan saya bisa menyentuh klitorisnya. “Ahh,,,,,hhhh,,,,,,ahkhhh,,,,,”, desahan Sari semakin memacu goyangan saya. Semakin cepat saya menggenjotnya, semakin keras desahan yang keluar dari bibirnya, saya pun berinisiatif untuk membungkamnya supaya tidak terlalu berisik. “aaahhhh,,,mmmphhh,,,,,”, saya membungkamnya dengan ciuman ke bibirnya. Gerakan saya percepat, Sari pun semakin menggelinjang tidak menentu karena marasakan sesuatu yang nikmat sedang ada didalam vaginanya. Semakin cepat dan cepat akhirnya saya pun mencapai klimaksnya, dan, “crott,sroot,…arrrghhh….hhhh”, zakar saya telah memuntahkan cairan sperma yang sengaja saya semburkan ke dalam vaginanya. Sari pun mengejang dan tak lama kemudian kami berdua berpelukan dengan posisi saya berada diatas tubuh Sari. Pada malam itu, cuaca sedang dingin, dan ruangan tersebut ber AC, namun kami berdua tetap saja berkeringat. “Sar, kamu luar biasa,……maafin saya ya, ini sungguh diluar rencana saya….’, ujar saya berbisik di telinga Sari. “Iya mas, gapapa kok, Sari juga ngerti.”, jawabnya singkat. “Sar, saya sungguh-sungguh cinta sama kamu, kamu boleh percaya boleh juga tidak, tapi sejak saya pertama lihat kamu, saya merasakan ada yang lain, Kamu wanita yang pertama yang mengetuk hati saya Sar.”, timpal saya, saya orang yang paling tidak bisa merayu, tapi malam itu saya tidak tahu kenapa saya bisa mengeluarkan rayuan semacam itu. Saya sendiri memang benar benar mencintai Sari. “Ah, mas nih bisa aja, kan kemarin Sari dah cerita, siapa Sari sebenernya, kalo Sari tuh simpanannya orang.” Jawab Sari seakan tidak yakin dengan perasaan cinta yang saya ungkapkan. Tapi saya tetap bersikeras meyakinkan dia bahwa saya memang sungguh-sungguh mencintainya. “Oke deh mas, Sari belum bisa jawab sekarang, besok Sari kasih tahu jawabannya, sekarang mas mandi dulu gih, tuh di balik pintu ada handuk”, seloroh Sari sambil berusaha untuk bangun dari tindihan saya. “iya deh Sar, besok saya tunggu ya jawabannya. Sekarang mas mau langsung pulang aja deh, ntar aja mandi dirumah, tidak enak malem-malem masih disini.”, jawab saya seraya mengenakan pakaian dan celana. Tak lama kemudian, setelah berpamitan, saya punbergegas menuju mobil dan pulang menuju ke rumah.

Tanggal 8 Januari 2008, adalah hari yang paling bahagia buat saya. Sari ternyata menerima cinta saya. Dia datang kerumah saya pada siang hari dengan membawakan dua bungkus bakso dan dua es jeruk. Siang itu kami pun bercerita kesana kemari, tertawa seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Seiring hari berlalu, Hubungan kami pun semakin akrab. Hampir disetiap pertemuan kami selalu melakukan hubungan layaknya suami istri. Sampai pada suatu hari, ketika saya sedang menggauli Sari di kamarnya, tiba-tiba Om Wid, pengusaha kaya yang disebut-sebut Sari sebagai pria yang membiayainya selama ini datang kerumahnya dan menggedor gerbang memanggil-manggil Sari. Sebenarnya saat itu saya ingin sekali keluar dan menghajar laki-laki itu. Namun saya berfikir dua kali untuk melakukan hal tersebut, karena yang pertama saya pikirkan adalah nasib Sari nantinya, karena bagaimana pun juga Sari sudah pasti pernah berkomitmen dengan laki-laki tersebut yang saya sendiri tidak tahu sejauh apa komitmen itu. Akhirnya kami berdua seperti ayam yang berteduh pada waktu hujan, kami hanya bersembunyi di dalam kamar sampai pria itu pergi. Saya sungguh-sungguh mencintai Sari meskipun dia adalah wanita simpanan orang lain. Hubungan kami terus berlanjut sampai sekarang, karena kami berdua sebenarnya saling mencintai dan memiliki banyak persamaan, meskipun terkadang kami harus secara sembunyi-sembunyi. Namun sempat juga terjadi perdebatan kecil antara kami, mungkin karena Sari merasa cemburu dengan masa lalu saya. Pada bagian awal saya lupa menulis, bahwa saya pernah bercerita pada Sari kalau saya dulu pernah memiliki cinta sejati, dengan wanita yang bernama Zen yang sekarang masih melanjutkan studi di Bandung kota kembang. Saya berpikir wajar bila Sari meragukan ketulusan cinta saya, karena bagi saya itu sudah cukup untuk membuktikan ketulusan cinta Sari kepada saya.

Kadang kala hati saya teramat perih bila membayangkan bagaimana ketika Sari dicumbu, dan bagaimana ketika dia digagahi oleh pria yang bernama Om Wid itu. Dan terakhir, dalam benak saya sering terbersit, apakah benar Sari akan menjadi milik saya, apakah mungkin hubungan seperti kami bisa disatukan kedalam ikatan pernikahan.. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Cerita ini akan saya abadikan sebagai ungkapan rasa cinta saya yang tulus kepada Sari Wulandari


About this entry