Kado ulang tahun untuk Dewi





Waktu itu hari Sabtu di bulan Juli. Hari jadinya Dewi. Dewi dan aku telah menjadi pasangan sejak 8 bulan. Dewi itu anaknya PD (percaya diri), ceria dan spontan blak-blakan. Meskipun terkadang dia bisa judes sekali tetapi dia jujur terhadap lawan bicaranya, selalu berbicara sesuai dengan keadaan hatinya. Dewi tidak memiliki wajah cantik seperti bintang-bintang film layaknya, tetapi dia memiliki senyum yang bila orang melihatnya mampu mengeluarkan perasaan yang nyaman bagi kita-kita. Buatku dia adalah yang terseksi.

Hari ini telah kurencanakan sejak beberapa minggu yang lalu. Aku berniat memberikan sesuatu yang spesial yang tak dapat terlupakan begitu saja. Hari telah larut, matahari mulai terbenam, dan aku mempersiapkan diri untuk menjemput Dewiku. Dewi sudah tahu kalau aku akan mengajaknya keluar makan malam, tetapi dia belum tahu ke manakah kita akan pergi.

Jam menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat ketika aku sampai di rumahnya. Aku memencet bel rumahnya. Tidak lama kemudian keluarlah Dewi dengan senyumnya yang menawan, memakai rok terusan tidak berlengan berwarna biru muda. Dia berlari-lari kecil sambil memakai jaket jeans. Di balik tubuhku telah kusiapkan setangkai mawar berwarna merah, dan ketika dia berdiri di hadapanku, kuberikan padanya sambil mengucapkan selamat dan memberikan ciuman kecil di pinggir bibir kirinya. Sekilas dia tersipu, tetapi dari pancaran matanya menyorotkan hatinya yang senang. Aku membukakan pintu mobil dan mempersilakannya masuk. Setelah itu kita mulai jalan.

Sepanjang jalan kami bercanda ria, sambil tak lupa kusinggung penampilannya yang anggun sekali hari ini. Dan Dewi pun tahu sekali bagaimana merespon sikapku ini terhadapnya. Dia bersikap manja sekali terhadapku, yang bisa membuat hatiku senang, menimbulkan perasaan suka yang dalam terhadapnya.

Akhirnya setelah menyetir setengah jam, sampailah kami di tempat tujuan. Dewi sekilas agak terkejut setelah melihat tempat tujuan kami, karena bukan fancy restaurant atau hotel mewah yang menyambut kami, melainkan sebuah kedai di pinggiran jalan. Tetapi Dewi tidak menampakkan ekspresi kecewa sama sekali karena kedai tersebut adalah kedai soto kudus, makanan favoritnya. Kami pun jalan masuk ke dalam kedai tersebut dan mulai memesan makanan. Kami duduk saling berhadap-hadapan, sambil tertawa-tawa kecil, kami pun terus mengobrol ngalor ngidul menunggu datangnya makanan. Selama mengobrol itu aku sekali-kali memegang tangannya dan mengelus-elusnya sambil kucium kecil, sedangkan Dewi sambil tertawa kecil berusaha menarik-narik tangannya dan berkata, “Aihh, malu ah”. Aku pun hanya tertawa saja sambil melepas tangannya dan di bawah meja aku mulai melepaskan sepatuku tanpa sepengetahuannya dan mulai memainkan jari-jari kakiku di betisnya yang ramping dan putih itu. Ahh, dia terkejut sedikit, tetapi cepat menanggapi situasi, tak lama kemudian dia pun ikut memainkan kakinya ke kakiku. Tetapi permainan kami tiba-tiba terhenti dengan datangnya makanan yang kami pesan.

Kami pun mulai menikmati kehangatan makan untuk menutupi dinginnya malam. Aku menyuapinya sekali-kali dan Dewi pun membalasnya. Malam itu seakan-akan milik kami berdua saja. Tak lama kemudian aku pamit dengannya untuk keluar sebentar saja. Kemudian aku kembali dengan seorang pengamen. Pengamen itu tersenyum kepada Dewi dan mengucapkan selamat Ulang Tahun dan mulai menyanyikan satu lagu yang khusus yang telah kuminta dari pengamen tersebut. Lagu dari Memes yang judulnya telanjur Sayang. Sedangkan Dewi terlihat di pipinya merekah noda-noda merah tersipu, sambil tersenyum.

Malam pun semakin bertambah hangat untuk kita berdua. Selesai bersantap malam, kami pun beranjak keluar. Tetapi malam belum berakhir bagi kami. Aku menyetir lagi ke tempat tujuan berikutnya.

Mobil mulai menggelinding meninggalkan kedai tersebut ke arah kota. Sepanjang perjalanan kami saling bercanda ria dan bermesraan. Setiap perhentian di lampu merah kita gunakan untuk berciuman dengan lembut. Akhirnya sampai di tujuan, di sebuah hotel di tengah kota. Dewi tidak terlihat terkejut sama sekali, karena kami memang sering menghabiskan waktu berduaan di hotel, di mana kami merasa mendapatkan cukup privacy.

Setelah mendapatkan kunci, kami naik ke atas menggunakan lift. Sesampainya di kamar, Dewi langsung menyerbuku dengan menggebu-gebu, merangkul dan menciumi bibirku, tetapi aku menahannya karena masih ada sesuatu yang ingin kuberikan kepada Dewi, yaitu hadiah HUT-nya. Aku mengeluarkan kotak kecil berwarna biru dan berkata, “Happy Birthday Sweetheart”. Dewi membuka kotak itu dengan hati-hati, setelah melihatnya, terlihat matanya memancarkan sinar, “Thanks Honey” dan merangkulku sambil menciumi bibirku dengan menggigit-gigit kecil. Aku berbisik padanya, “Di coba dong sayang.” Sambil berjalan ke arah cermin, Dewi melepaskan jaket jeansnya dan langsung mencoba anting-anting baru pemberianku. Aku mengamatinya dengan seksama dan mendekati perlahan-lahan dari belakang.

Aku memeluk Dewi, tanganku menampik rambut Dewi ke arah kiri dan mulai menciumi lehernya yang jenjang. Kumainkan bibirku di bagian kanan lehernya, dengan sekali-kali kusentuh dengan ujung lidah dan kuhisap-hisap, sementara tanganku mulai mengusap-usap paha Dewi, menarik roknya agak ke atas. Dewi sendiri hanya mendesah-desah kecil. Jilatanku berpindah ketelinganya di sebelah kanan dan tanganku berusaha membuka ritsleting bajunya. Jatuhlah bajunya ke lantai, kupeluk Dewiku yang hanya berbalut pakaian dalam dari belakang.

Tiba-tiba Dewi membalik dan memelukku erat-erat sambil menciumi bibirku dengan ganas. Kami saling berpagutan, aku melahap bibir atas Dewi, dan Dewi melahap bibir bawahku, bergantian. Lidah kami berputar-putar di dalam mulut. Ciuman berpindah ke leher masing-masing dengan diselingi gigitan-gigitan kecil. Tangan dewi mulai membuka kemejaku dan mengusap-usap dadaku. Tanganku mulai menurun dari pinggang ke lekuk tubuhnya yang berikut. Kurasakan kain tipis di pantatnya, satu jariku masuk. Dua jari, dan tanganku berada di dalam celana dalamnya mengelus-elus kurvanya yang halus. Kumainkan jariku di antara belahan pantatnya. Dewi mulai menurun dan menghisap-hisap putingku, memainkan lidahnya di sekitar perutku, “Aahhh”, tanganku berusaha mencari kaitan BH-nya di punggung, sedangkan Dewi sudah berhasil menurunkan celanaku.

Kami hanya tinggal bercelana dalam. Aku mengangkat Dewi dan memegangi kedua tangannya ke atas dengan tangan kiriku sambil bersenderan di dinding, aku memagut bibirnya yang merah merekah. Tangan kananku mengusap-usap lembut dadanya yang polos bersih. Sambil tidak melepaskan pagutan, perlahan-lahan kami beranjak ke arah ranjang dan membaringkan Dewiku. Aku melepaskan celananya. Ah, pemandangan yang tak akan kulupakan.

Aku pun melepaskan celanaku dan mulai menciumi Dewi lagi sambil berbisik, “Malam ini aku akan memanjakanmu, my princess”.
Dewi diam menatapku dan mebelai lembut rambutku, “Aku sayang kamu Roy”.
Aku pun menatapnya balik dengan lembut dan berkata, “Aku mau supaya malam ini kamu tidak membantah apa yang aku kata, aku masih ada sesuatu untukmu”.
“Ohh apa itu Roy?” tanyanya.
“Sssttt”, kataku sembari menutup mulutnya yang mungil dengan dua jariku. Aku berdiri dan mengambil kain hitam yang telah kusiapkan dari rumah.
Kemudian aku duduk di samping Dewi sambil berkata, “Aku akan menutup matamu sayang.”
“Ah tapi apaan sih kok tutup-tutup segala”, protes Dewi.
“Tenang honey, just trust me, Ok”, kataku sambil mengecup keningnya.
Dewipun menatapku lagi dan mengangguk setuju. Aku menutup mata Dewi dengan kain hitam tersebut.

Dengan perlahan aku membaringkan tubuh Dewi, namun berbalik telungkup sekarang, Dewi hanya menuruti saja dengan pasrah. Lalu aku mulai membelai rambutnya dan menciumi lehernya dari belakang, menggigit-gigit cuping telinganya. Lidahku menjalar-jalar di punggung Dewi tepat di belahannya. Aku menyentuh punggungnya dengan lembut menggunakan jari-jari tanganku saja, perlahan dari pundak sampai ke belakang lutut. Lidahku bermain-main sekarang di belahan tubuh kiri Dewi, di bawah lengannya, naik turun. Dewi tidak bersuara sedikitpun, hanya sekali-kali terdengar lenguhannya. Jari-jariku mulai bermain-main di belahan pantatnya sambil sekali-kali kuturunkan hingga pangkal paha, di mana aku merasakan sesuatu yang hangat dan lembab. Kumainkan jariku bergantian dengan lidahku di belahan pantatnya dan sedikit intensif di dekat bagian anusnya.

Kemudian tanganku merayap turun lagi ke dalam pahanya bagian dalam, bergantian kuelus dengan jari dan telapak tangan sambil kucium dan menjilat bagian belakang pahanya dan bagian belakang lututnya. Aku memindahkan permainanku ke bawah di mana aku mulai menghisap-hisap jari-jari kakinya dengan perlahan dan hanya menggunakan bibir, turun ke telapak kakinya yang kuberikan ujung-ujung lidahku. Kemudian aku berbalik lagi kembali ke pantatnya di mana aku memainkan kepala kemaluanku di bulatan pantatnya, kemudian berpindah di belahannya, kugesek-gesekan dengan perlahan, tiba-tiba dengan cepat dan perlahan lagi, sambil kutiduri Dewi dari atas. Terdenger suara desahan Dewi semakin mengeras lidahku yang kubuat melingkar-lingkar dari leher kanannya ke kiri, tepat di tengah-tengah lehernya aku melahap, “Eehh, nnggg, Roy ayo Roy, ehmmmm.”

Aku membalikkan tubuh Dewi, sehingga dia sekarang berbaring telentang masih dengan mata tertutup. Aku pun mulai menciuminya lagi. Kugigit-gigit bibirnya yang merah muda itu sambil menahan tangannya yang ingin memelukku. Dengan tangan kiriku menahan kedua tangan Dewi di atas kepalanya, aku melanjutkan ciumanku di bibirnya, sambil sekali-kali kutarik, membuat Dewi mengangkat-angkat kepalanya seakan hendak mengejar bibirku, tetapi tertahan oleh tanganku dan tutup matanya. Aku menciuminya lagi dan menariknya lagi.

“Ahhh Roy, kok kamu gitu sih, jangan bikin aku geregetan dong”.
Aku melahap lehernya yang putih, lidah-lidahku bergerak bergantian dengan kedua bibirku dan kuhisap-hisap dalam dan kuat di selingi dengan tarian lidahku di pangkal lehernya. Dewi hanya bisa menggelinjang tinggi yang langsung kusambut dengan ciuman lagi di bibirnya. Permainan kuturunkan ke bagian dadanya. Aku mulai dengan sentuhan halus dengan ujung-ujung jariku yang mengelilingi bulatan dadanya, menimbulkan rasa geli yang enak sekali. Bergantian dengan ujung jari, aku mengelus-elus dadanya dengan ujung-ujung kuku dan meremasnya dengan tangan penuh, perlahan sekali pergerakan tanganku melingkari dadanya yang indah itu. Lidahku mulai bergerak-gerak mencari puting susunya yang merekah berdiri.

Aku menghisapnya bagaikan bayi yang sedang menyusui, sekali-kali kugigit-gigit kecil di putingnya, dan memainkan ujung-ujung lidah berputaran di sekitar putingnya. Lidahku juga turun bermain di belahan antara dua bukit kembar tersebut. Berganti ke arah kiri dan kanan tubuhnya. Aku mengangkat lengan Dewi lagi dan mulai memainkan ujung-ujung lidahku lagi di pangkal lengannya berputar di ketiaknya yang bersih tak berbulu. Tanganku naik turun di samping tubuhnya sebelah kanan dari lengan sampai paha atas. Di perutnya aku berhenti melingkar-lingkar dengan lidah di sekitar pusarnya, dan memasukkan ujung lidahku ke dalamnya, menyodok-nyodok dan kuhisap-hisap lembut dengan bibirku. Sementara itu tangan kananku mulai bermain di bibir kemaluannya yang sudah merekah basah. Aku hanya menggesek-gesekkan jariku tanpa berusaha mengenai klitorisnya.

Aku mulai meregangkan paha Dewi, dan mulai membuka bibir kemaluannya. Kuberika sentuhan kecil di klitoris dengan ujung lidahku. Dewi melenguh lagi sambil memegang kepalaku. Jari tengahku memulai menggesek-gesek ujung lubang kemaluannya, sementara lidahku kuputar-putar di sekitar klitoris Dewi, aku juga menghisap-hisap klitorisnya, kutarik dalam-dalam dengan hisapanku, sambil jariku menusuk-nusuk masuk ke dalam lubang kemaluannya, berputar-putar di dalam merasakan basahnya dan hangatnya dinding kemaluannya. Jariku seakan-akan menggaruk-garuk dinding lubang kemaluannya atas bawah sambil aku tetap menghisap-hisap klitorisnya, sementara jempolku kumainkan di antara bibir kemaluannya dan anusnya.

Dewi berontak bangun, “Cepat Roy, ayo masukin dong.., please!”.
Aku menyambutnya lagi dengan bibirku, kuciumi lagi dengan ganasnya, sambil kuselipkan pahaku di antara selangkangannya, demikian juga dengan Dewi yang menyelipkan salah satu pahanya ke selangkanganku. Kami pun saling bergesekan, aku merasakan hangat dan lendir di paha kananku. Kupeluk Dewi erat-erat. Tetapi dia memberontak dengan kuatnya dan menarik tutup matanya. Dewi mendorongku dengan kuat ke arah kanan, dan langsung menindihku sambil menciumiku dengan ganasnya, tangannya meraih penisku dan di arahkan ke lubang kemaluannya, dan “Aahhh”, kurasakan hangatnya kewanitaan Dewi, terasa di sedot-sedot oleh otot-otot kemaluan Dewi. Dewi sekarang berada di atasku dan mengambil kendali. Dia menunggangiku dengan liarnya, mempercepat tempo sambil menciumiku dengan ganasnya.

Tubuh kami telah banjir keringat, aku meremas-remas dadanya, kemudian aku memeluk Dewi erat-erat berusaha setengah duduk menciumi lehernya serta memainkan jariku di belahan pantatnya Dewi. Dewi semakin mempercepat iramanya dan memelukku erat-erat pula. Tiba-tiba aku merasakan sensasi yang luar biasa, sekujur tubuhku bergetar, terasa cairan hangat membasahi penisku, memenuhi liang kemaluannya. Demikian pula dengan Dewi, dia memelukku erat-erat. Kami pun terdiam, terasa seperti waktu berhenti, gelap, terbuai dalam rasa nikmat.

Setelah beberapa detik berlalu, kembalilah kami ke kesadaran kami, berpelukan di ranjang. Aku mengecup kening Dewi. “Happy Birthday Honey.”

TAMAT


About this entry