Dukuhseti.. Kampung XXX ??

Mungkin belum banyak yang tahu dimana Dukuhseti berada. Letaknya di utara Kota Pati, Jateng. Wilayah ini juga masih masuk Kabupaten Pati. Jalan ke Utara Pati menyusuri pinggir Gunung Muria, akhirnya bisa mencapai Kota Jepara.
Aku bukan warga Dukuhseti, tetapi sudah lama memendam keinginan untuk sesekali menikmati liburan di kampung itu. Memang tidak ada obyek wisata yang menarik. Dia hanya kampung biasa, jika kita melintas di wilayah itu, juga jarang tertarik untuk berhenti, kecuali, kehabisan rokok, atau haus. Pokoknya sepintas lalu kampung ini tidak punya daya tarik istimewa.
Namun aku pernah baca liputan sebuah majalah wanita, lupa namanya, mengungkapkan warga Dukuhseti sangat terbuka dalam soal sex. Diceritakan bahwa bukan hanya anak gadis yang bisa di ajak bobo dirumahnya sendiri, tetapi yang sudah berstatus istri juga bisa dikeloni oleh pendatang.
Tidak mudah memang menemukan mereka yang bisa diajak begitu. Aku pernah penasaran jalan-jalan bertiga sama teman melintas Dukuhseti. Tidak ada yang bisa dijadikan pemberhentian untuk sekedar mencari informasi. Aku memaksa berhenti di sebuah warung kecil, dengan sedikit gaya diplomasi menanyakan keberadaan teman bobo di sekitar itu. Eh pemilik warungnya malah mengangkat alis. Dia katanya tidak pernah tahu. Lha kemana lagi nyarinya.
Memang kalau ada kemauan selalu ada jalan. Dari oreintasiku yang gagal menemukan sasaran, akhirnya aku kembali ke Jakarta. Teman-temanku yang berasal dari Semarang, Demak dan Pati, termasuk dari Juwana kutanyai soal itu. Mereka pada melongo dan menyatakan belum pernah tau.
Dua tahun aku memendam informasi itu, sampai suatu saat temanku orang Semarang mengatakan, dia punya teman yang mengenal betul Dukuhseti. Aku diberi no kontaknya. Tanpa menunda waktu, no kontak itu segera kuhubungi. Ternyata benar dia warga desa Pendem, desa dekat Dukuhseti, mengaku sering memandu orang Semarang dan Jakarta untuk menemukan pasangan di Dukuhseti.
Segera kurancang liburan cuti untuk beravonturir ke wilayah Pantura Jateng itu. Dodo begitu nama kontakku, yang selanjutkan kusebut Kibus (kaki busuk), menyarankan aku agar datang ke sana tanpa membawa mobil atau sepeda motor. Dia menyarankan aku agar menggunakan kendaraan umum saja, karena jalur itu banyak dilayani kendaraan umum.
Aku tentu tidak puas dengan hanya berbekal No HP, meskipun Dodo memberi lebih dari 1 nomor. Aku memaksa meminta no telp rumah. Meski rumahnya tidak ada telepon, tetapi no siapalah yang bisa menghubungi Dodo yang punya No telp rumah. Sebabnya bisa konyol, jika aku sudah mendekati sasaran, semua no HP nya tidak bisa kuhubungi.
Singkat cerita aku sudah dijemput di satu titik di Dukuhseti. Dengan kendaraan sepeda motor, aku diajak ke rumahnya yang tidak berapa jauh. Rumahnya sangat asri, dengan kerimbunan pohon dan khas suasana desa. Setelah hidangan kopi dan singkong rebus siang itu Dodo lalu menanyakan seleraku untuk menemani tidur nanti malam. Aku bingung juga menyebut kriterianya. “ Pokoknya yang cantiklah,” kataku.
Dodo lalu merapatkan duduk. Dia menunjukkan foto-foto yang tersimpan dalam HPnya. Dia menggunakan HP China dengan layar yang cukup lebar. Ada sekitar 15 orang dengan foto berbagai gaya, dari setengah badan sampai full body. Bingung juga aku memilih foto itu. Bagiku sama bingungnya seperti memilih foto di receptionist panti pijat. Dodo kemudian menceritakan latar belakang masing-masing orang dalam foto itu. Ada yang belum kawin, ada yang masih punya suami, ada yang janda lengkap dengan perkiraan umurnya. Dodo memang marketer yang piawai juga dia. Informasi dagangannya dikuasai penuh, bahkan dia mengetahui kelebihan masing-masing anggotanya.
Karena kedatanganku ke Dukuhseti ini ingin merasakan sensasi yang mungkin jarang ditemui di daerah lain, aku memilih wanita yang masih bersuami. Dodo menawarkan 5 orang masing-masing dalam rentang usia 20 – 27 tahun dan sudah memiliki anak.
Sulit bagiku membayangkan situasi di rumah itu, jika aku ingin memakai istrinya dan dikeloni semalaman. Gimana si suami, gimana si anak dan gimana lingkungannya. Meskipun berdebar-debar juga sebelum melakukan itu, aku akhirnya memilih wanita cukup cantik berusia 23 tahun baru punya anak 3 tahun dan tinggal serumah dengan suaminya.
Dodo segera mengontak sasaranku, dan menjelaskan kemungkinan aku menginap semalam di rumahnya. Kelihatan di seberang sana ok, karena sambil menelepon Dodo mengangkat jempolnya ke aku, tapi diminta menunggu 2 jam dulu untuk mereka beberes dalam rangka akan kedatangan tamu.
Dodo menyebutkan kisaran biaya yang diperlukan. Menurutku angka yang disebutkan Dodo masih wajar. Aku membandingkan dengan biaya menyewa cewek untuk tidur semalam di hotel di Jakarta. Rasanya angka yang disebutkan Dodo masih di bawah biaya itu. Aku sengaja tidak menyebutkan nominalnya, karena cerita ini jika dibaca 10 tahun lagi, bakal menggelikan karena nilai itu sudah tergerus inflasi.
Aku banyak bertanya ke Dodo, mengenai bagaimana aku harus bersikap ketika hadir di tengah keluarga itu . Dodo malah dengan enteng menjawab, “Anggap saja Bapak berkunjung ke famili di kampung, ya begitu aja.”
Setelah tiba waktunya, Dodo mengkonfirmasi sebelum kami berangkat. Ketika mendapat jawaban ok, kami pun berangkat. Aku dibonceng Dodo menuju rumah, yang disebut Dodo bernama Mbak Wani.
Dodo mungkin sudah akrab dengan keluarga Mbak Wani. Dia santai saja langsung masuk ke rumah dan menemui langsung penghuninya. Lha yang keluar malah laki-laki berusia sekitar 32 tahun, ya sepantar Dodo lah. Aku sempat terkesiap juga. Tapi segera sirna ketika laki-laki itu yang ternyata suami Wani datang menyodorkan tangannya untuk bersalaman denganku, sambil mempersilakan aku duduk di dalam.
Tentu saja aku tidak bisa membuang rasa rikuhku, sehingga mungkin aku terlihat canggung. “Santai aja pak” kata Dodo. “Iya santai aja disini udah biasa koq,” kata suami Wani.
Tidak lama kemudian muncul sesosok wanita berkulit putih, rambut tergerai sampai hampir mencapai lengan membawa nampan berisi hidangan teh manis. Selesai meletakkan cangkir teh, dia menyalamiku dan memperkenalkan diri bernama Wani. Aku membantin dalam hati, wah lumayan ok juga, parasnya ayu, badannya tinggi sekitar 160 dan dadanya ukuran normal, tidak terlalu besar, dan juga tidak rata.
Dia duduk di sebelah Dodo, karena memang dodo menempati sofa panjang, sedang suaminya duduk di kursi tambahan. “Piye kabare mas, “ katanya sambil menepuk paha Dodo. Yang ditegur sedang asyik mengisap kretek Jarum Coklat. “Iki tak kenalke dholor anyar, “ kata Dodo yang maksudnya dia membawa keluarga baru, maksudnya membawaku.
Waktu itu jam di tangan sudah menunjukkan 5 sore. Suami Wani pandai juga mencairkan suasana sehingga kecanggunganku mulai sirna. Dodo mengkodeku dengan kedipan mata mengajakku keluar. Aku mengikutinya. Dodo mengatakan agar uangnya langsung diberikan ke Wani. Dodo lalu mau pamit dan menanyakan jam berapa aku mau dijemput besok. Aku bilang sekitar jam 9 -10 lah, nanti aku telepon lagi soal itu.
Kami berdua kembali masuk ke ruang tamu, dodo langsung pamit. “ Kok kesusu toh mas,” kata Wani berbasa-basi.
Sepeninggal Dodo aku diajak suami Wani untuk meletakkan ranselku dikamar tidur yang akan kutempati. “ Silakan pak kalau mau istirahat, “ katanya.
Aku tentu saja rikuhlah masak baru datang langsung mau tiduran. Aku permisi ingin ke kamar mandi. Suami Wani menunjukkan arah kamar mandi. Aku segera melampiaskan hasrat kecilku. Selesai itu, ketika keluar aku berpapasan dengan Wani. Uang yang sudah kusiapkan ku serahkan langsung ke tangannya. Dia menyatakan terima kasih, lalu ku sambung dengan permintaanku dibuatkan kopi.
Aku kembali duduk di ruang tamu sambil menonton TV. Suami Wani tidak kulihat. Kata Wani pergi naik motor bersama anaknya ke warung.
Sampai hari gelap suami Wani belum juga muncul. Aku ditawari untuk menyegarkan badan dengan mandi. Memang badanku terasa lengket karena perjalanan dari Jakarta tadi terlalu pagi.
Aku segera mandi . Sekembali dari kamar mandi rasanya mulai ngantuk. Padahal baru jam 6 sore. Aku mencoba rebahan . Mungkin tempat tidur yang kutempati ini adalah tempat tidur Wani dan suaminya.
Sedang aku memandang keliling kamar, tiba-tiba Wani masuk dan langsung mengunci pintu. “Ayo mas istirahat dulu, apa mau saya pijetin,” kata Wani.
Tawaran yang sulit ditolak, tentu saja kusetujui dengan langsung membuka bagian atas dan membiarkan celana pendek tetap terpasang.
Aku telungkup. Wani memulai memijat dari kaki sampai ke punggung. Selesai bagian belakang dia minta aku berbalik ke posisi telentang. Penisku sudah mengeras dari tadi, ketika aku telentang celana pendekku jadi menonjol bagian depannya. Wani mulai lagi memijat dari kaki Sampai bagian vital, tanpa ragu-ragi Wani meremas penisku. Aku tentu saja melenguh keenakan. Tanpa minta izin Wani memelorotkan celanaku sekalian celana dalamnya. Penisku yang terbebas segera dijadikan sasaran hisapan mulut Wani. Aku menggelinjang-gelinjang merasakan sensasi oral Wani. Dia cukup lihai melakukan oral.
Tidak berapa lama dia kemudian melepas semua pakaiannya sehingga bugil. Lampu kamar diredupkan. Meskipun cahaya remang-remang aku masih bisa melihat tubuh montok Wani. Ternyata susunya lumayan gede dan masih kenceng. Jembutnya cukup lebat, dan pinggulnya melebar.
Wani kembali mengoralku. Aku terus bertahan agar tidak sampai jebol. Kutarik tubuh Wani menindihku lalu kubalikkan sehingga aku jadi menindihnya. Aku menciumi wajahnya, lehernya. Terasa bau wangi sabun. Dia mungkin baru selesai mandi. Susunya menjadi sasaran selanjutnya, kiri dan kanan ku kenyot. Pentilnya sudah agak membesar. Mungkin akibat menyusui. Wani menggeliat-geliat. Ciuman ku teruskan ke bawah dan aku harus menguak rimbunan jembut agar bisa menemukan belahan memeknya. Kujilati seputar vaginanya dan akhirnya aku membekap mulutku ke sasaran dan lidahku mengusap clitorisnya. Wani mulai kelojotan ketika penisnya terus aku serang. Dia merintih-rintih seolah di rumah ini hanya kami berdua. Wani tidak mampu bertahan lama, karena dia akhirnya mencapai orgasmenya yang pertama. Aku segera memasukkan penisku ke dalam belahan memeknya. Terasa hangat dan cairannya agak lengket. Efeknya penisku serasa dicekat oleh liang Wani. Aku menggerakkan maju-mundur dengan ritme yang pelan, tetapi berusaha menggeruskan bagian atas liang vaginanya. Namun rasa nikmat tidak bisa kupungkiri sehingga aku akhirnya tidak sabar dan mempercepat gerakanku. Aku sudah semakin dekat dengan ejakulasi dan rasanya tidak terbendung lagi. Aku genjot dengan gerakan kasar dan cepat. Saat ejakulasiku tiba kutekan dalam-dalam penisku ke dalam memek Wani. Wani rupanya juga mencapai orgasmenya, karena aku merasa cengkeraman lubang vaginanya dengan ritme yang hampir sama dengan ritme ejakulasiku.
Selesai hubungan itu kami istirahat sebenar. Wani bangkit mengambil handuk kecil yang sudah dia basahi. Sekujur penisku di bersihkannya dengan telaten, sampai bersih benar. Handuk yang sama juga digunakan untuk membersihkan memeknya sebelum dia kembali mengenakan pakaian.
Aku bangkit untuk kembali memakai kaus dan celana boxer ku. Rasanya lelah juga habis bertempur dengan Wani. Setelah Wani keluar kamar aku mencoba istirahat sambil berbaring. Rupanya aku jatuh tertidur.
Aku sadar ketika Wani membangunkanku sekitar jam 9 malam untuk makan malam. Dengan mata masih berat aku bangun. Sekeluar dari kamar aku langsung ke kamar mandi untuk BAK dan mencuci muka. Di ruang tengah sudah menanti makanan, katanya makanan itu khas Pati, nasi Gandul. Aku baru pertama ini makan nasi gandul. Nasi dengan lauk seperti semur daging, tapi rasanya beda dengan semur. Suami dan anak Wani ikut makan bersama. Kami sudah seperti keluarga. Namun uniknya keluarga baru jadian yang langsung meniduri istri tuan rumah. Enak Tho, Mantap Tho, kata almarhum Mbah Surip.
Selesai makan aku duduk di ruang depan sambil menghisap rokok ditemani suami Wani. Kami ngobrol ngalor ngidul gak ada isi.
Tapi rasa penasaranku menggelitik juga ingin mengetahui pandangan suami Wani dan penduduk sekitar sini yang membolehkan istrinya ditiduri orang lain. “Wah disini sudah biasa begitu Pak, tetapi akhir-akhir ini agak dibatasi, karena Lurah dan Camat tidak ingin daerahnya dicap jelek.,” kata suami Wani.
Kami ngobrol sampai jam 11 malam, sampai akhirnya suami Wani mempersilakan aku istirahat. Aku turuti, karena memang agak ngantuk juga. Sebelum masuk peraduan, aku sikat gigi dulu biar mulut terasa segar.
Di dalam sudah ada Wani yang berbaring. Kuredupkan lampu dan aku berbaring di sebelahnya. Kami mulai lagi bercumbu sampai akhirnya berdua bugil. Permainan dilanjutkan dengan berbagai posisi. Permainan kali ini agak lama karena aku agak bisa menahan lama ejakulasiku.
Seperti tadi sore selepas aku melepas hasratku, Wani membersihkan penisku dengan handuk basah. Dia menawariku mengenakan sarung. Aku tanpa celana dalam dan kaus mengenakan sarung. Suasana desa itu tidak terlalu dingin, tetapi juga tidak gerah. Wani keluar lalu kembali dengan juga mengenakan sarung. Dia membuka semua pakaian atasnya dan tidur di sebelahku . Wani tidur memelukku, sehingga teteknya menekan pundakku. Aku yang sudah lelah dan ngantuk akhirnya jatuh tertidur.
Entah sudah berapa lama aku tidur, terbangun karena merasa ada sesuatu. Penisku rupanya sudah menjadi santapan Wani. Dia dalam keadaan telanjang menelungkup diantara kedua kakiku sambil melomoti penisku. Kulirik jam tangan , baru jam 5 pagi, tetapi dari kisi-kisi jendela sudah mulai terlihat ada cahaya terang.
Permainan pagi adalah yang paling aku sukai. Rasanya badan kembali fit untuk melakukan pertempuran. Aku pasrah dikerjai Wani. Setelah puas mengoralku, dia mulai menduduki penisku dan dengan gerakan hati-hati dia mulai menggenjot dengan gerakan naik turun. Dia mengira aku masih tertidur sehingga gerakannya terasa sangat hati-hati. Namun sejalan makin meningkatnya nafsu birahi menjalari tubuhnya, Wani mulai melakukan gerakan kasar sambil mendesis-desis. Gerakannya juga kini sudah berubah menjadi maju mundur. Penisku seperti diperas di dalam memek Wani. Nikmat sekali rasanya, tetapi aku terus bertahan dengan pura-pura tidur. Kelihatannya Wani mendekati orgasme sehingga dia melakukan gerakan dengan semangat sambil terus mendesis. Benar juga tak lama kemudian dia menghentikan gerakan lalu ambruk ke dadaku. Sekujur liang vaginanya berkedut-kedut. Aku yang lagi tanggung untuk mencapai orgasme langsung membalikkan posisi. Wani kugenjot dengan mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi. Sensasi jepitan memeknya terasa nikmat sekali. Namun posisi itu tetap sulit bagiku untuk menghantar orgasme. Aku kembali ke posisi awal sambil setengah menindih Wani malakukan gerakan keluar masuk ke memek Wani. Rasa memek Wani memang sedap sekali, legit dan mencengkeram. Tidak bisa bertahan lama aku segera menyemprotkan ejakulasiku ke rahim Wani. Setelah itu aku terbaring lemas di sisnya. Kami berdua dalam keadaan telanjang bulat berbarih rehat setelah bertempur sekitar setengah jam.
Wani bangkit menyerahkan sarung agar aku pakai. Dia minta aku menunggu sebentar di kamar sambil istirahat. Dia dengan mengenakan sarung dan kaus keluar kamar. Sekitar 15 menit, Wani masuk dan menarikku bangun. Aku diajaknya ke kamar mandi . Aku turuti apa yang dikehendaki, tanpa tahu ujungnya bagaimana. Ternyata di kamar mandi sudah tersedia air panas. Kata Wani, air panas itu disiapkan oleh suaminya. Wani membuka semua bajunya lalu bajuku. Engan dengan telaten memandikanku bagaikan memandikan anak kecil. Semua bagian dia usap dengan sabun sampai ke belahan pantat dia bersihkan. Nikmat sekali service Wani van Dukuhseti ini. Mungkin kalau dirating, servicenya dapat point 9.
Selesai kami berdua mandi, Wani membimbingku kembali ke kamar. Aku dibedakinya dengan bedak talk dan dikenakannya pula bajuku. Wah benar-benar dimanjakan rasanya.
Aku sudah barang tentu segar bugar. Namun perut terasa lapar juga, Tidak lama kemudian muncul Wani mempersilakan aku menikmati sarapan nasi goreng. Selepas itu aku kembali duduk di ruang tamu sambil menikmati seiaran berita pagi. HP ku bergetar, Dodo mengontakku, dia tanya apa mau dijemput sekarang. Aku segera menyetujui. Tidak sampai 10 menit Dodo sudah muncul.
Aku berpamitan dengan Wani dan suaminya, berjanji kapan-kapan akan mampir lagi kalau ke Dukuhseti.


About this entry