Tetanggaku

Omku adalah RT, aku numpang dirumahnya. Suatu pagi, aku sedang senam sendiri di halaman belakang, terdengar bunyi bel. Segera aku keluar, masih keringatan. Di pager rumah ada seorang lelaki, ganteng, tegap, umur 40an. “Ada apa om”, sapaku sambil membuka pintu pager. “Pak RT nya ada”, jawabnya. “Kerja om, ada perlu apa, nanti Ines sampekan”. “Saya mo lapor, saya kan baru tinggal disini. Rumah saya persis dibelakang rumah ini, pungung2an dengan rumah ini”. “Ya, nanti Ines sampekan, kalo om mau ketemu pak RT nanti maleman aja kembali. Om mau masuk

dulu?” aku menawarkan sambil jalan menuju ke teras rumah. Dia mengikuti dan duduk dikursi yang ada di teras. “Ines ambilkan minum ya om”. “Gak usah, Ines yang kelihatannya perlu minum, keringatan gitu”. Aku segera masuk kedalam mengambil botol air dingin dilemari es dan 2 gelas, kemudian keluar lagi. Aku minum karena haus, sedang om cuma senyum2 saja memandangiku. “Saya Ardi”, katanya lagi. “Saya Ines om”, jawabku. “Kamu baru olahraga ya Nes, sampe keringeten gitu. “Iya om, seminggu 3-4 kali, sendiri aja. Kalo jogging ampir tiap pagi”. “Oya, jam
brapa joggingnya, om juga suka jogging, kalo ada temennya kan lebih semangat. Apalagi kalo yang nemenin cantik dan seksi begini”, katanya memandang tonjolan toketku. “Ah om, Ines biasa aja kok”, jawabku. “Biasa gimana, togepasar gitu kok dibilang biasa”. Ketika itu aku hanya pake t shirt dan celana pendek. Karena T shirtku basah karena keringat, maka toketku yang montok tercetak sehingga sangat menarik perhatian.”Om suka kan ngeliatnya”. “Suka banget, om balik dulu ya, ngganggu Ines lagi olahraga. Ntar malem om balik lagi. Pak RT nya om Ines ya”. “Iya om”. alemnya om Ardi balik lagi dan bicara dengan om ku. Aku hanya keluar untuk mengantarkan
minum. Om Ardi cuma senyum saja memandangku.

Besok pagi, seperti biasa aku jogging, hari masih gelap. Sengaja aku memilih rute melalui rumah om Ardi. Dia sedang ada di halaman, menyirami tanaman. “Wah rajin banget om, kok ngerjain sendiri”, sapaku. “Om ikutan jogging ya Nes”, katanya sambil mematikan keran air, kemudian keluar rumah. Dia mengenakan celana pendek dan tshirt lengkap dengan sepatu joggingnya. Aku sengaja memakai pakaian yang seksi, tanktop ketat yang belahannya rendah, sehingga toketku ngintip keluar dan celana pendek ketat, sehingga lekak lekuk bodiku kelihatan dengan jelas. “Kamu
seksi sekali Nes, itu hasil olahraga ya, badan kamu bagus dan merangsang sekali”, katanya to the point ketika kita sudah mulai jogging. “Kok merangsang sih om”. “Lelaki mana yang tidak terangsang melihay bodi cewek seperti kamu”. “Om tinggal sendiri ya”, kataku mengalihkan pembicaraan. “Iya Nes, om udah cerai, anak ikut ibunya. Belum ada pembantu, sehingga masih ngelakuin semuanya sendiri”. “Termasuk ngelampiaskan…”, lanjutku menggodanya. “Ngelampiaskan apa Nes”. “Iya om kan udah cerai, kalo butuh pelampiasan gimana”. “Ya nyari lah, kan banyak yang mau dilampiasi”. “Om sukanya abg ya”. “La iyalah, masak sama yang seumur,
gak asik lah yao”. “Sama Ines juga mau”. “Memangnya Ines mau om lampiasin”. Aku diem saja. “Nes dirumah om ada beberapa peralatan fitnes, kalo Ines mau bisa olahraga ditempat om, ada pool kecil lagi, sehingga abis fitnes bisa renang”. “Boleh om, asik tuh kalo ada kolam renangnya”. “Kapan Ines mau olahraga sama om”. “Nanti juga boleh om, om gak kerja”. “Oke nanti jam 6an ya, om mau ngerjakan sesuatu dulu dikantor, nanti om pulang lagi. Ines bawa bikini ya, kan mau renang”. “Ines gak punya bikini om, tapi daleman Ines model bikini semuanya, ditaliin”. “Pake
daleman bikini juga lebih merangsang, kalo ditaliin kan gampang ngelepasinnya”. Ngomong vulgar gitu, membuat aku terangsang juga, memang napsuku besar sehingga kadang cuma ngomong vulgar aja aku sudah mulai napsu.

Jam 6 aku pamit keluar rumah. Sampe rumahnya, om Ardi sudah nunggu diteras. “Masuk Nes, mau langsung olah raga ya”. Aku dibawanya kelantai 3 rumahnya. Rupanya lantai atas terbuka, ada beberapa alat fitnes disitu seperti sepeda statis, treadmill dan pembentuk otot lengan dan kaki. Poolnya kecil tapi cukuplah untuk berenang mondar mandir. Udaranya sore itu cerah, matahari sudah agak condong
sehingga tidak terlalu menyengat panasnya. Aku latihan sepeda, kemudian dilanjutkan dengan treadmill. Om Ardi latihan membentuk otot lengan dan kaki. Cukup lama kita latihan, sampe akhirnya kita berhenti karena cape. Om Ardi mengambilkan makanan dan minuman untuk makan malem, karena hari sudah gelap. Dia berbaring di kursi males yang ada di pool, aku berbaring dikursi sebelahnya. Setelah makan minum dan ngobrol sebentar, om Ardi melepas Tshirtnya, badannya tegap. “Ayo Nes, pake dong bikininya, mau pake daleman bikini kamu juga gak apa”, ajaknya. Aku segera melepaskan pakaian luarku, tinggallah aku berbalut bra tipis model ikatan dan
g string yang juga tipis. Dia membelalak melihat pemandangan indah yang sedang mendekatinya. “Nes kamu napsuin banget”, katanya sambil merapatkan 2 kursi males menjadi satu dan menebarkan matras diatas ke2 kursi itu. Aku duduk disebelahnya, segera aku ditariknya hingga terbaring disebelahnya. Dan yang kurasakan berikutnya adalah bibirnya yang langsung mencium bibirku dan melumat. Aku tergagap sesaat sebelum aku membalas lumatannya. Aku merasakan lidahnya menyusup ke dalam mulutku. Dan reflekku adalah mengisapnya. Lidahnya menari-nari di mulutku. Napsuku naik. Sambil melumat, tangannya juga merambah tubuhku. Kurasakan remasan jari kasar pada toketku yang masih terbungkus bra tipis. Aku menggelinjang. Menggeliat-geliat hingga pantatku terangkat naik dari matras karena rasa nikmat yang luar biasa. Bibirnya melumatku, dan aku menyambutnya dengan penuh napsu. Dirangkulnya tubuhku, bibirnya lebih menekan lagi. Disedotnya lidahku, sekaligus juga ludahku. Kemudian tangannya kembali meremasi kedua toketku, dan dilepaskannya ikatan braku. Ganti bibirnyalah yang menjilati dan mengemut toket dan pentilku. Aku nggak mampu menahan gelinjang ini, rintihan keluar dari mulutku.
Tangannya turun untuk meraih g stringku. Aku makin tak mampu menahan napsu saat jari-jari kasar itu merabai bibir no nokku dari luar g string dan kemudian mengilik i tilku. Aku langsung merasa melayang karena kenikmatan itu. Jarinya meraih no nokku melalui samping g stringku. Aku rasakan ujung jari nya bermain di bibir no nokku. Cairan no nokku yang sudah mengalir sejak tadi menjadi pelumas untuk memudahkan masuknya jari-jarinya ke no nokku. Dia terus menggumuli tubuhku dan
merangsek ke ketiakku. Dia jilati dan sedoti ketiakku. Dia menikmati rintihan yang keluar dari bibirku. Dia nampaknya ingin memberikan sesuatu yang lain dari yang lain. Sementara jari-jarinya terus mengilik no nokku. Dinding-dindingnya yang penuh saraf-saraf peka dia kutik-kutik, hingga aku serasa kelenger kenikmatan. Dan tak terbendung lagi, cairan no nokku mengalir dengan derasnya. Yang semula satu jari, kini disusulkan lagi jari lainnya. Kenikmatan yang aku terimapun bertambah. Dia tahu persis titik-titik kelemahanku. Jari-jarinya mengarah pada G-spotku. Dan tak ayal lagi. Hanya dengan jilatan di ketiak dan kobokan jari-jari di no nokku, dia berhasil membuatku nyampe. Kepalanya kuraih dan kuremasi rambutnya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan kuhunjamkan kukuku ke punggungnya. Pahaku menjepit tangannya, sementara pantatku terangkat agar jarinya lebih melesek ke no nokku. Aku berteriak histeris. Kakiku mengejang menahan kedutan no nokku yang memuntahkan cairan bening. Keringatku yang mengucur deras mengalir ke mataku, ke pipiku, kebibirku. Kusibakkan rambutku untuk mengurangi gerahnya tubuhku. Saat telah reda, kurasakan tangannya mengusap-usap rambutku yang basah sambil meniup-niup dengan penuh kasih sayang. Dia eluskan tangannya, dia sisir rambutku dengan jari-jarinya. Hawa dingin merasuki kepalaku. “Nes, kamu liar banget deh. Istirahat dulu ya. Aku ambilkan minum lagi”, dia mengambilkan minuman. Aku dibawakan kaleng coca cola, dibukakan dan diberikannya kepadaku. Segera kuminum coca cola itu sampe habis. Sementara aku masih terlena di dipan dan menarik nafas panjang sesudah nyampe tadi, dia terus menciumi dan ngusel-uselkan hidungnya ke perutku.
Bahkan lidah dan bibirnya menjilati dan menyedoti keringatku. Tangannya tak henti-hentinya merabai selangkanganku. Aku terdiam. Aku perlu mengembalikan staminaku. “Masih capek Nes”, bisiknya. “Nggak kok. Lagi narik napas saja. Tadi nikmat banget yaa padahal om belum apa-apa. Baru di utik-utik saja Ines sudah kelabakkan”, jawabku. Karena jawabanku tadi dengan penuh semangat dia turun dari dipan. Dia lepasin sendiri celana pendeknya. aku sangat tergetar menyaksikan tubuhnya. Bahunya bidang. Lengannya kekar, dengan otot-otot yang kokoh. Perutnya
nggak nampak membesar, rata dengan otot-otot perut yang kencang, seperti papan penggilasan. Bukit dadanya yang kokoh, dengan dua pentil besar kecoklatan, sangat menantang menunggu gigitan dan jilatan. Pandanganku terus meluncur ke bawah. Dan yang paling membuatku terpesona adalah kon tolnya yang besar, panjang, keras hingga nampak kepalanya berkilatan sangat menantang. Dengan sobekan lubang kencing yang gede, kon tol itu mengundang untuk diremes, dikocok dan diemut. Sesudah telanjang dia menarik lepas g stringku sehingga sekarang kita berdua sudah bertelanjang bulat. “Nes, jembut kamu lebat banget, pantes kamu tadi jadi liar”,
katanya sambil mengelus2 jembutku. “Bukannya liar, itu namanya menikmati”, jawabku. “Kita gak jadi berenang ya om”. “Berenang di matras aja, lebih nikmat”, jawabnya.

Aku mendorong tubuhnya hingga terbaring di matras. Kon tolnya yang keras kugelitik dengan rambutku. Kemudian kepala kon tolnya kubasahi dengan ludahku. Kuratakan ludah dengan jariku. Dia menggeliat kegelian. Dengan lembut kuusap seluruh permukaan kepala kon tolnya yang besar, dia melenguh karena nikmatnya. Kugenggam pangkal kon tolnya dan kepalanya yang basah mulai kujilati. Diujung kepalanya ada setitik cairan bening. Sambil menjilati cairan bening itu, kon tolnya
kukocok turun naik. Terasa agak asin. Dengan lidah kujilati kepala dan leher kon tolnya, semua daerah sensitif kujelajahi dengan lidah. Akhirnya kepalanya kuemut dan kukeluar masukkan ke dalam mulutku. Perutnya kuelus2, dia meremas2 rambutku. Aku terus saja mengisap kon tolnya. kon tol yang gede, panjang, kepalanya yang bulat berkilatan. kepalaku dielus-elusnya. Dan dia menyibakkan rambutku agar tidak menggangu keasyikanku. Dengan penuh semangat aku terus
mengulum kon tolnya. “Nes, nikmat banget emutanmu”, erangnya. “Kamu pinter banget siihh”. Aku terus memompa dengan lembut. Berkali2 aku mengeluarkan kepala itu dari mulutku. Aku menjilati tepi-tepinya. Pada pangkal kepala ada alur semacam cincin atau bingkai yang mengelilingi kepala itu. Dan sobekan lubang kencingnya kujilati habis-habisan. “Nes, nikmatnya aah”, kembali dia mengerang.Rupanya dia tak tahan dengan rangsanganku, aku ditariknya dari kon tolnya, dibaringkannya dan kembali mulutnya mengarah ke no nokku. Dengan lembut dia menjilati daerah sekeliling no nokku, pahaku dikangkangkan supaya dia mudah mengakses no nokku. “aah”, ganti aku yang melenguh keenakan. Lidahnya makin liar menjelajahi no nokku. Bibir no nokku dikuakkan dengan jarinya dan kembali i tilku yang menjadi sasaran lidahnya. Aku makin menggelinjang gak karuan. Napasku menjadi gak teratur, “Ines dien tot dong”, erangku. Dari no nokku kembali
membanjir cairan bening. Dia menjilati cairan itu.

Badannya kutarik, dia segera menempatkan kon tol besarnya di bibir no nokku. Pelan2 dimasukkannya sedikit demi sedikit, nikmat banget rasanya kemasukan kon tol yang gede banget. Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk, mula2 pelan dan makin lama makin cepat keras, kon tolnya sudah ambles semuanya di no nokku, “Aah”, erangku lagi. Dia terus saja mengenjotkan kon tolnya dengan keras dan cepat, sehingga akhirnya no nokku makin berdenyut mencengkeram kon tolnya dengan keras. “Terus yang cepat, Ines mau nyampe, aah”, erangku dengan liar. Dia terus saja mengenjotkan kon tolnya sampe akhirnya, “Aah, Ines nyampe…”, kembali aku berteriak. Dia menghentikan enjotannya. Kembali aku dibelai2 dan bibirku diciumnya dengan mesra. “Nikmat banget dien tot ama om, baru sebentar dienjot, Ines dah
nyampe,” kataku. Dia mencabut kon tolnya dan minta aku nungging Segera ditancapkannya kembali kon tolnya di no nokku dari belakang. Pinggulku dipeganginya sambil mengenjotkan kon tolnya keluar masuk dengan cepat, rasanya kon tol panjangnya masuk lebih dalam lagi ke no nokku, nikmat banget rasanya. Dia rupanya ingin merasakan macem2 gaya ngen tot, segera dia telentang dan minta aku yang diatas. Aku menancapkan kon tolnya dino nokku dan kuturunkan tubuhku
sehingga kon tolnya kembali ambles di no nokku. Aku menggerakkan pinggulku turun naik dan juga dengan gerakan memutar. Dia meremas2 toketku dan memlintir pentilku. Aku membungkukkan badanku sehingga dia bisa mengemut pentilku, sesekali digigitnya pelan, aku menjerit2 karena nikmatnya. “Nes, aku dah mau ngecret, didalem boleh gak”, katanya sambil terus meremes toketku. “Ngecretin didalem aja om, biar lebih nikmat”, jawabku sambil terus menaik turunkan pinggulku
mengocok kon tolnya yang ambles di no nokku. Aku kembali membungkuk, kali ini bibirnya kucium dengan ganas. Dia memegangi pinggangku. Gerakan pinggulku makin cepat, aku juga merasa akan nyampe lagi. no nokku terasa berdenyut2, “Om, Ines mau nyampe juga, bareng ya om”, kataku terengah. Terus kugerakan pinggulku naik turun dengan cepat sampe akhirnya pejunya muncrat menyembur2 didalam no nokku. Bersamaan dengan ngecretnya dia, akupun nyampe kembali. “Nikmatnya..”, erangku. Aku menelungkup lemas dibadannya, dia memelukku dan mengecup
bibirku, sementara kon tolnya masih nancap di no nokku. “Ines lemes banget, tapi nikmatnya luar biasa”, kataku. “Ini baru ronde pertama lo Nes”, jawabnya. “Ines mau kok om en totin lagi”, kataku. “Kita kekamar yuk”, katanya. Dia mendorongku bangun sehingga kon tolnya tercabut dari no nokku. Kita segera pindah ke kamar di lantai 2.

Aku berbaring kelelahan diranjang. Om Ardi berbaring disebelahku, kayaknya dia belum puas karena tangannya kembali meremas toketku. “Kamu seksi banget ya Nes, toket kamu besar dan kenceng. Jembut kamu lebat banget, om suka ngen tot ama yang jembutnya lebat. Mana no nok kamu kenceng banget empotannya, om mau ngerasain lagi ya Nes”, katanya dan dia kembali mencium bibirku. Dia bangun dan segera mengarah ke no nokku, dia tau titik lemahku ada dino nokku. Lidahnya kembali enjilati no nokku. Ujung lidahnya kembali menelusup masuk ke no nokku.
Rambutnya segera kuremas2 dan kutekankan kepalanya supaya lidahnya lebih masuk lagi ke no nokku. Pantatku menggelinjang naik keatas. Dia terus saja menggarap no nokku, pahaku dipeganginya erat2 sehingga aku sulit untuk bergerak2, aku hanya bisa mendesah2 kenikmatan. Rupanya desahanku merangsang napsunya sehingga segera dia melepaskan no nokku dan menaiki tubuhku. “Om kuat banget sih. Baru aja ngecret udah pengen masuk lagi”, keluhku. Dia tidak menjawab. Digenggamnya kon tolnya, diarahkan ke no nokku. Aku menggelinjang saat
kepala tumpul yang bulat gede itu menyentuh dan langsung mendorong bibir no nokku. Kepala kon tolnya menguak gerbang no nokku. no nokku langsung menyedotnya, agar seluruh kon tol gede itu bisa dilahapnya. Uuhh .. aku merasakan nikmat desakan kon tol yang hangat panas memasuki no nokku.Sesak. Penuh. Tak ada ruang dan celah yang tersisa. kon tol panas itu terus mendesak masuk. Rahimku terasa disodok-sodoknya. kon tol itu akhirnya mentok di mulut rahimku. Kemudian
dia mulai melakukan pemompaan. Ditariknya pelan kemudian didorongnya. Ditariknya pelan kembali dan kembali didorongnya. Begitu dia ulang-ulangi dengan frekuensi yang makin sering dan makin cepat. Dan aku mengimbangi secara reflek. Saat dia menarik kon tolnya, pantatku juga menarik kecil sambil sedikit ngebor. Dan saat dia menusukkan kon tolnya, pantatku cepat menjemputnya disertai goyangan igelnya. Demikian secara beruntun, semakin lama makin cepat. Toketku bergoncang-goncang, rambutku terburai, keringatku bercampur keringatnya mengalir dan berjatuhan di tubuh masing-masing, mataku dan matanya sama-sama melihat keatas dengan
menyisakan sedikit putih matanya. Goncangan makin cepat itu juga membuat ranjang kokoh itu ikut berderak-derak. “Nes, nikmat banget deh no nok kamu”, dia melenguh. “Kon tol om juga enak banget, panjangg .. Uhh gede banget.” Posisi nikmat ini berlangsung bermenit-menit. Kulihat tubuh kekar nya tampak berkilatan karena keringatnya. keringatnya mengalir dari lehernya, terus ke dada bidangnya, dan akhirnya ke tonjolan otot di perutnya. Dengan gemas kumainkan pentilnya yang
bekilatan itu. Kugigiti, kujilati, kuremas-remas. Tambah buas gerakannya. Sodokan kon tolnya tambah kencang di no nokku dan tangannya meremes2 toketku. Pada akhirnya, setelah sekian lama dia mengenjot no nokku dan aku nyampe 2 kali secara berturut2, kon tolnya terasa berdenyut keras dan kuat sekali. Kemudian menyusul denyut-denyut berikutnya. Pada setiap denyutan aku rasakan no nokku sepertinya disemprot air kawah yang panas. Pejunya kembali berkali-kali ngcret di dalam no nokku. Uhh .. Aku jadi lemes banget. “Ines lemes nih, tapi nikmat banget. Istirahat
dulu ya”, kataku. Aku langsung terkapar di ranjang dan tak lama kemudian aku tertidur.

Pagi hari. Aku terbangun karena ada ciuman di bibirku. Diluar udah terang. Om Ardi sedang mencium bibirku. Aku menyambut ciumannya, kayanya sarapan pagiku ya dien tot lagi. Kami saling berciuman dengan mesra dan hangat, saling menghisap bibir, lalu lama kelamaan, entah siapa yang memulai, aku dan dia saling menghisap lidah dan ciuman pun semakin bertambah panas dan bergairah. Ciuman dan hisapan berlanjut terus, sementara tangan nya mulai beralih dari betisku, merayap ke pahaku dan membelainya dengan lembut. Darahku semakin berdesir. Mataku terpejam. Kembali dia melepas bibirnya dari bibirku. satu tangannya masih terus membelai pahaku, akupun terbaring pasrah menikmati belaiannya, sementara ia sendiri membaringkan tubuhnya miring di sisiku. Dia mencium bibirku kembali, yang serta merta kubalas dengan hisapan pada lidahnya. Mungkin saat itu gairahku semakin menggelegak akibat tangannya yang mulai beralih dari pahaku ke selangkanganku, membelai no nokku. “Mmhh.. ” desahku disela2 ciuman panas kami. Dari mencium bibirku, lidahnya mulai berpindah ke telinga dan leherku, dan kembali lagi ke bibir
dan lidahku.Permainannya yang lembut dan tak tergesa-gesa ini membuatku terpancing menjadi semakin bernapsu, sampai akhirnya ia mulai memainkan tangannya meraba2 toketku, pentilku yang saat itu sudah tegak mengacung digesek2nya. Diciuminya toketku, kemudian mulai menjilati pentilku. “Ooohh.. sshh.. aachh.” desahku langsung terlontar tak tertahankan begitu lidahnya yang basah dan kasar menggesek pentilku yang terasa sangat peka. Dia menjilati dan menghisap toket dan pentilku di sela-sela desah dan rintihku yang sangat menikmati gelombang rangsangannya. Dia melepas pentilku lalu bangkit berlutut mengangkangi betisku, dan mulai menciumi pahaku. Kembali bibirnya yang basah dan lidahnya yang kasar menghantarkan rangsangan hebat yang merebak ke seluruh tubuhku pada setiap sentuhannya di pahaku. Apalagi ketika lidahnya menggoda selangkanganku dengan jilatannya yang sesekali melibas bibir no nokku. Yang bisa kulakukan hanya mendesah dan merintih pasrah melawan gejolak napsu. Dia mengalihkan jilatannya
kejembutku yang telah begitu basah penuh lendir no nokku. “ohh..” lenguhku. Lidahnya melalap vaginaku dari bawah sampai ke atas, menyentuh i tilku. Dia menghentikan jilatannya dan berlutut di depanku. No nokku terasa panas, basah dan berdenyut-denyut.

Dia membuka kakiku hingga mengangkang lebar lebar, lalu di turunkannya pantatnya dan menuntun kon tolnya ke bibir no nokku. Terasa sekali kepala kon tolnya menembus no nokku.”Hngk! Besaar..sekalii,” erangku. Tanpa terburu-buru, dia kembali menjilati dan menghisap pentilku yang masih mengacung dengan lembut, kadang menggodaku dengan menggesekkan giginya pada pentilku, tak sampai menggigitnya, lalu kembali menjilati dan menghisap pentilku, nikmat banget
rasanya, sementara setengah kon tolnya bergerak perlahan dan lembut menembus no nokku. Dia menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan, membuat lendir no nokku semakin banyak meleleh di no nokku, melicinkan jalan masuk kon tol berototnya ini ke dalam no nokku tahap demi tahap. Lidahnya yang kasar dan basah berpindah-pindah dari satu pentil ke pentil yang lain. “Ouuch.. sshh.. aachh.. teruuss.. masukin kon tol om yang dalaam..! oouch.. niikmaatnya!” erangku. Seluruh rongga no nokku terasa penuuh, kurasakan begitu nikmatnya dinding no nokku digesek kon
tolnya yang keras dan besaar..! Akhirnya seluruh kon tolnya yang kekar besar itu tertelan kedalam no nokku. Terasa bibir no nokku dipaksa meregang, mencengkeram otot besar dan keras ini. Melepas pentilku, dia mulai memaju-mundurkan pantatnya perlahan, “..oouch. niikmaat!!” aku pun tak kuasa lagi untuk tidak merespon kenikmatan ini dengan membalas menggerakan pantatku maju-mundur dan kadang berputar menyelaraskan gerakan pantatnya, dan akhirnya napasku semakin tersengal2 diselingi desah desah penuh kenikmatan. “hh..sshh.. hh.. ohh ..suungguuhh.. niikmmaat.” lidahnya kembali menari di pentilku. Aku benar benar menikmati permainannya sambil meremas-remas rambutnya. Kon tolnya yang dahsyat semakin cepat dan kasar menggenjot no nokku dan menggesek dinding no nokku yang mencengkeram erat. Hisapan dan jilatannya pada pentilku pun semakin cepat dan bernapsu. Seluruh tubuhku bergelinjang liar tanpa bisa kukendalikan. Desahanku sudah berganti dengan erangan liar, “Ahh.. Ouchh.. en totin Ines terus,
genjot habis no nokku..!! genjoott.. kon tol om sampe mentok..!!” Ooohh.. bukan main enaknya ngeentoot sama om..!!” mendengar celotehanku, dia berubah menjadi semakin beringas, kon tolnya makin cepat dienjotkan keluar masuk no nokku. Akhirnya aku tidak bisa lagi menahan gelombang kenikmatan melanda seluruh tubuhku “Ngghh..nghh .. nghh.. Ines mau nyampe..!!” pekikanku meledak menyertai gelinjang liar tubuhku sambil memeluk erat tubuhnya mencoba menahan
kenikmatan dalam tubuhku, dia mengendalikan gerakannya yang tadinya cepat dan kasar itu menjadi perlahan sambil menekan kon tolnya dalam2 dengan memutar mutar keras sekalii. i tilku yang sudah begitu mengeras habis digencetnya. “..aacchh.. niikmaatnya.. tekeen.. teruuss.. i til Ines..!!” Akhirnya aku nyampe, kupeluk tubuhnya erat sekali. wajahnya kuciumi sambil mengerang2
dikupingnya sementara dia terus menggerakkan sambil menekan kon tolnya secara sangat perlahan. Tubuhku yang terkulai lemas dengan kon tolnya masih di dalam no nokku yang masih berdenyut-denyut. Tanpa tergesa-gesa, dia mengecup bibir, pipi dan leherku dengan lembut dan mesra, sementara kedua lengan kekarnya memeluk tubuh lemasku dengan erat. Ia sama sekali tidak menggerakkan kon tolnya yang masih besar dan keras di dalam no nokku. Ia memberiku kesempatan untuk mengatur napasku yang terengah-engah.

Setelah aku kembali “sadar” , aku pun mulai membalas ciumannya, sehingga om Ardi kembali memainkan lidahnya pada lidahku dan menghisap bibir dan lidahku semakin liar. Napsuku kembali terpancing dan aku mulai kembali menggerak-gerakkan pantatku perlahan-lahan, menggesekkan kon tolnya pada dinding no nokku. Respon gerakan pantatku membuatnya semakin liar. Genjotan kon tolnya pada no nokku mulai cepat, kasar dan liar. Lalu dia memintaku untuk berbalik, sambil merangkak dan menungging kubuka kakiku lebar, kutatap mukanya sayu sambil memelas “Masukin kon tol gede om dari belakang kelobang no nok Ines..” Dia pun menatap bokongku. Sambil memegang kon tolnya disodokannya ketempat yang dituju Bleess..” ..Ooohh. teruss.. yang.. dalaam..!”! terasa besar dan panjang kon tolnya menyodok no nokku, terasa sekali gesekannya di no nokku yang menyempit karena tertekuk tubuhku yang sedang menungging ini. Dia menggarapku dengan penuh napsu, tubuhku kuayun ayunkan maju mundur, ketika kebelakang kusentakan keras
sekali menyambut sodokannya sehingga kon tol yang besar dan panjang itu lenyap tertelan no nokku. “Hngk.. ngghh..Ines mau nyampe lagii.. aargghh..!!” aku melenguh panjang, aku nyampe lagi. Kudorong pantatku ke belakang keras sekali menancapkan kon tolnya yang besar sedalam-dalam2nya di dalam no nokku, terasa no nokku berdenyut2 mengempot kon tol besarnya. Setelah mengejang beberapa detik diterjang gelombang kenikmatan, tubuhku melemas dipelukannya yang menindih tubuhku dari belakang. Berat memang tubuhnya, namun dia menyadari itu dan segera
menggulingkan dirinya, rebah di sisiku. Tubuhku yang telanjang bulat bermandikan keringat terbaring pasrah di ranjang, penuh dengan rasa kepuasan.

Om Ardi memeluk tubuhku dan mengecup pipiku, membuatku merasa semakin nyaman dan puas. “Nes om belum ngecret..! Tolong isepin kon tol om dong..!” tanpa sungkan lagi kuemut kon tolnya, kujilati biji pelernya, bahkan selangkangannya ketika kulihat dia menggeliat geliat kenikmatan, “..Ohh Nes.. nikmat sekalii.. teruss .. lumat kon tol om, iseep yang daleemm.. ohh..” dia mengerang penuh semangat membuatku semakin gairah saja mengemut kon tolnya yang besar. Untuk makin
merangsang dirinya aku merangkak dihadapannya tanpa melepaskan kon tolnya dari mulutku, kutunggingkan pantatku kuputar putar sambil kuhentak2 kebelakang. Benar saja melihat gerakan erotisku dia makin mendengus2. Emutanku makin beringas, kon tol yang besar itu yang menyumpal mulutku, kepalaku naik turun cepat sekali, dia menggelinjang hebat. Akhirnya kurasakan no nokku ingin melahap kembali kon tolnya yang masih perkasa ini, dengan cepat aku lepas kon tolnya dari mulutku langsung aku merangkak ke atas tubuhnya kuraih kon tolnya lalu kududuki sembari
kutujukan ke no nokku. Bleess..”..Ooohh..Nes..masuukin kon tol om semuanya..!!” dia mengerang. Kuputar-putar pinggulku dengan cepatnya sekali kali kuangkat pantatku lalu kujatuhkan dengan keras sehingga kon tol yang besar itu melesak dalaam sekali.. “..aachh.. Nes.. putaar..habiisiin kon tol om.. eennakk.. sekaallii..!!” gilirannya merintih mengerang bahkan mengejang-ngejangkan tubuhnya. Kugenjot bahkan sambil menekan keras sekali pantatku. Kon tolnya kugenjot dan kupelintir habis, bahkan kukontraksikan otot2 no nokku sehingga kon tol yang besar itu terhisap dan terkenyot didalam no nokku. Dia menggelinjang habis kadang mengejangkan tubuhnya sambil meremas pantatku keras sekali, kutekan lagi pantatku lebih keras, kon tolnya melesak seluruhnya bahkan jembutnya sudah menyatu dengan jembutku, i tilku tergencet kon tolnya. Badanku sedikit kumiringkan ke belakang, biji pelernya kuraih dan kuremas-remas, “..Ooohh.. aachh.. yeess. Nes”, dia membelalakan matanya. Lalu dia bangkit, dengan posisi duduk ia mengemut toketku… aachh
tubuhku semakin panaas.. kubusungkan kedua toketku. “..Emut pentil Ines.. dua. duanya.. ..yeess..!! sshh.. …oohh..!! erangku. “..Ooohh.. Nes.. nikmatnya bukan main posisi ini..! Kon tol om melesak dalam sekali menembus no nokmu..!” dia mendengus2. Kurasakan kon tolnya mengembung pertanda pejunya setiap saat akan meletup, “..Ohh.. sshh..aahh.. keluaar.. bareeng..ya”, erangku lagi. “..iya..Nes, om udah mau ngecret”. Tubuhku mengejang ketika kurasakan semburan dahsyat
di dalam no nokku, “..aachh. jepiit kontool om.. yeess.. sshh.. oohh..nikmaatnya.. no nokmu Nes” dia mengecretkan pejunya di dalam no nokku, terasa kental dan banyak sekali. Akupun menggelinjang hebat, “..Nggkkh..sshh.. uugghh.. teekeen kon tol om.. sampe mentookkhh.. aarrgghh..!! Kutekan kujepit kekepit seluruh tubuhnya mulai kon tolnya, pantatnya, pinggangnya bahkan dadanya yang kekar kupeluk erat sekali. Seluruh pejunya kuperas dari kon tolnya yang sedang terjepit didalam no nokku. Nikmatnya sungguh luar biasa. Akhirnya perlahan lahan kesadaranku pulih kembali, tubuhku terasa lemas sekali. “sarapan ini lebih nikmat dari semalem, Ines mau lagi dong”, kataku. “Kamu masih abg tapi udah pengalaman banget ngempot kon tol ya.
Nes, kamu sering dien tot om om ya”, katanya. “Ngen tot sama kamu yang paling nikmat deh Nes katimbang cewek2 lainnya, empotan kamu kerasa banget”. Aku hanya tersenyum kelelahan


About this entry